Saya Kembali

Hai teman – teman semua yang pernah datang dan mampir ke blog ini.

Apa kabar kalian?

sudah cukup lama saya tidak pernah menyambangi rumah saya ini. Adakah yang kangen pada saya?

Saya hanya ingin memberi kabar saja. Saya tengah mempersiapkan sebuah FF baru untuk membangkitkan mood menulis saya yang bertahun – tahun hilang.

Masih adakah yang merindukan saya?

Halo

Halo selamat sore semua…

 

yang bersedia mampir di blog saya ini.. oh.. ini sudah cukup lama dari terakhir saya posting ff. ah, cukup lama ternyata. karena syndrom WB membuat saya tidak sanggup menulis. hanya diam saja menatap komputer. ah.. sungguh menjengkelkan.

hari ini saya post satu cerita. bukan ff. tetapi cerpen indonesia. semoga saja masih ada yang berkenan membaca. tidak saya edit. saya buat dalam dua jam. saya takut jika menunda akan tidak bisa saya lanjutkan lagi.

akhir kata.

semoga masih tetap ada yang baca ya. hehehehehe

Satu Hari Bersamamu

 

 

 

 

“Ngga, please tolongin gue ya. Lo yang jemput dia.” Kata Eilene pada gadis manis yang tengah meramu secangkir minuman. Gadis manis berambut panjang yang ia kuncir kuda tersebut menatap Eilene sekilas. Dan Eilene memasang wajah memelas yang ia tahu tidak akan pernah bisa membuat Jingga – gadis itu menolak apapun permintaan Eilene.

“Tapi Lene, kalo Opa lo tahu gue bisa dipecat.” Kata Jingga ragu.

“Lo nggak usah khawatir. Opa sedang ada di Palembang dan baru balik besok sore.”

“Lene, kenapa sih lo nggak mau nemuin dia. Dia kan tunangan lo.” Jingga mengalihkan perhatiannya pada Eilene yang memainkan jemari lentiknya.

“Calon Ngga.” Mata indah Eilene melotot pada Jingga yang kini tersenyum ke arahnya. “Gue nggak pernah setuju buat dijodohin ya Ngga. Gue udah kadung cinta mati sama Andri.” Eilene menyebut nama kekasihnya dengan penuh sayang.

Jingga menghela nafas panjang.

Jingga Pelangi. Itu adalah namanya. Selama 18 tahun hidupnya dia tinggal di rumah keluarga Kusuma. Dia tidak mengenal siapa orang tuanya. Dia ditemukan di depan pintu rumah keluarga Kusuma. Yang kemudian dirawat oleh Bi Darsih. Pembantu rumah tangga Keluarga Kusuma yang paling lama dan paling setia mengabdi pada keluarga terpandang tersebut.

Jingga menjadi cucu angkat Bi Darsih. Dan karena seumuran dengan Eilene yang sejak kecil tinggal bersama Opa Kusuma. Membuat Eilene dan Jingga dekat. Mereka bersahabat. Eilene yang selalu membela Jingga saat tidak ada orang yang sudi berteman dengan Jingga. Sementara Eilene yang memiliki sifat keras dan tidak suka diperintah tersebut membuatnya kesulitan memiliki teman.

Opa Kusuma menyekolahkan Jingga di sekolah yang sama dengan Eilene. Agar Eilene tidak semakin liar. Karena hanya Jingga-lah yang sanggup menenangkan sifat keras dan liar Eilene.

“Mungkin karena Andri bukan orang yang cocok buat lo?” kata Jingga ragu.

“Lo yang paling tahu seperti apa Andri itu, Ngga.” Kata ketus Eilene.

“Gue akui Andri emang baik. Dia cowok penyayang dan setia. Tapi…”

“Tapi dia miskin.” Potong Eilene dengan nada membentak. Jingga menghela nafas sabar.

“Nggak gitu Lene. Lo itu cucu perempuan kesayangan Opa Kusuma. Wajar beliau takut lo jatuh ke orang nggak bener. Gue tahu Andri nggak gitu. Tapi beda dengan pemikiran Opa kan? Ditambah dengan sifat lo yang keras itu.” Eilene mendengus. Mengakui kebenaran akan kata – kata Jingga.

“Ah udahlah. Lo mau nggak nemuin tu cowok?” tanya Eilene kembali ke topik pembicaraan.

“Oke. Gue bakal temuin dia.”

“Oh. Selain itu bikin dia ilfil sama Eilene Kusuma. Biar dia nolak pertunangan ini. Lakuin semua hal yang bikin cowok nggak lagi berharap. Ngerti?”

Sekali lagi Jingga menghela nafas panjang.

“Gue nggak tahu Lene. Lo tahu kan gue nggak punya pengalaman deket ama cowok. Jadi mana gue tahu apa yang cowok suka dan cowok nggak suka.”

Eilene nyengir lebar. Kemudian dia tertawa kecil membuat Jingga cemberut.

“Jadilah diri lo sendiri. Lo sama gue itu beda banget Ngga. Dan gue yakin, Opa pasti udah ngasih apa – apa aja tentang diri gue.”

“Ini terakhir kalinya gue nolongin lo. Setelah ini lo harus bisa yakinin ke Opa kalau Andri emang benar – benar baik. Sehingga Opa ngasih restu ke Lo.”

Eilene hanya mengangguk saja.

 

 

==è***ç==

 

 

Bandara Soekarno – Hatta.

Jingga menatap pada pintu kedatangan internasional. Mencoba menemukan pria yang akan ditemuinya ralat yang seharusnya akan ditemui oleh Eilene.

Jingga mendengus, saat Eilene meninggalkannya setelah Jingga turun dari mobil. Eilene bergegas menemui Andri. Jingga juga tidak mengerti kenapa Opa Kusuma tidak menyetujui Eilene berpacaran dengan Andri. Padahal setahu Jingga, Andri cowok yang baik. Mungkin hanya karena Andri bukanlah dari kalangan keluarga berada.

Gerombolan manusia yang keluar dari pintu kedatangan sontak membuat Jingga mengangkat sebuah kertas bertuliskan nama Rasta Giri. Nama pria yang akan ditemuinya. Calon tunangan Eilene yang meluangkan satu hari untuk dekat dengan Eilene. Untuk menghabiskan waktu agar bisa lebih mengenal. Sekaligus bisa memberi kepastian apakah acara pertunangan itu akan berlanjut dalam waktu dekat ataukah ditunda. Yang diharapkan oleh Eilene adalah batal.

Seorang pria muda berjalan mendekat ke arah Jingga. Tubuhnya cukup tinggi. Dan dia salah satu pria paling tampan yang pernah di temui oleh Jingga.

“Eilene?” tanya pria muda berwajah tampan tersebut dengan logat yang unik.

Jingga tergagap. Karena untuk sejenak dia lupa pada perannya saat ini. “Ya. Anda Rasta?” tanya Jingga kaku. Jingga bisa dikatakan jarang berinteraksi dengan orang asing. Terlebih jika dia adalah pria. Mungkin satu – satunya pria yang bisa membuat Jingga santai adalah Andri. Kekasih Eilene yang juga merupakan teman masa kecilnya.

Pria tersebut tersenyum kecil. Memperlihatkan dimple kecil di sudut pipi kirinya. Membuat pria itu semakin tampan.

“Jangan terlalu formal. Bagaimanapun juga kita ini akan menjadi tunangan Eilene.” Cara pria itu mengucapkan nama Eilene membuat setitik rasa aneh muncul di hati Jingga.

“Apakah an er… kamu ingin langsung ke Hotel?” tanya Jingga. Pria itu menelengkan wajahnya.

“Tidak. Aku sudah tidak sabar ingin menghabiskan hari ini bersamamu.” Pria tersebut nampak antusias. Membuat Jingga merasa panik.

“Tapi kamu pasti lelah. Kamu baru saja duduk di pesawat selama berjam – jam.” Kilah Jingga. Kepanikannya semakin meningkat. Entah bagaimana dia merasa hal ini tidak akan berakhir dengan baik.

“Aku tidak lelah. Sungguh. Aku ingin memanfaatkan waktu ini dengan sebaik – baiknya. Bagaimanapun juga besok pagi – pagi sekali aku harus kembali ke London.”

“Oh Baiklah. Jadi, kita akan kemana?” tanya Jingga pasrah.

“Bagaimana dengan makan siang? Oh, aku sungguh lapar.” Jingga menyunggingkan sedikit senyum. Pria ini adalah pria yang baik. Sebersit rasa tidak tega muncul di benaknya.

“Kamu ingin makan apa?” tanya Jingga sambil berjalan keluar bandara. Diikuti pria bernama Rasta tersebut.

“Hmmm… aku sungguh rindu masakan Indonesia. Bagaimana jika kita makan makanan tradisional Indonesia? Gado – gado?” Jingga mengalihkan tatapannya saat Rasta menatapnya dengan mata cokelatnya yang hangat.

“Kenapa gado – gado?” tanya Jingga ingin tahu. Bukankah tadi Rasta bilang kelaparan? Kenapa dia malah memilih gado – gado? Dan keingin tahuan Jingga tidak terjawab karena Rasta memilih mengedikkan bahunya.

“Oh ya Rasta, kita naik taksi aja ya.” Rasta terdiam sebentar.

“Terserah padamu Eilene.” Sekali lagi rasa tidak nyaman tersebut menyergap hati Jingga.

 

 

==è *** ç==

 

jingga dan Rasta sampai di sebuah warung gado – gado. Karena sudah lewat dari jam makan siang, maka warung tersebut tidak terlalu ramai lagi. Hanya ada beberapa pengunjung yang tengah menikmati makanan mereka.

Jingga dan Rasta segera memesan makanan mereka. Dua porsi gado – gado spesial, satu juice jeruk dan satu cangkir kopi hitam.

“Jakarta semakin panas ya.” Kata Rasta membuka pembicaraan. Jingga yang tengah menyuapkan gado – gado sempat terhenti sejenak sebelum melanjutkan suapannya. Mengunyahnya dengan pelan. Menelannya baru menbalas ucapan Rasta.

“Yah, sepertinya seperti inilah Jakarta.” Kata Jingga. Santai. Seperti dirinya yang biasa.

Rasta mengernyitkan keningnya sebelum dirinya kembali santai. Menyeruput kopi hitamnya sambil mata cokelatnya menelisik sosok gadis di depannya. Gadis itu terlihat menikmati makan siangnya yang sederhana.

Sesungguhnya Rasta mengajak makan siang gado – gado ini dengan sengaja. Karena dari penuturan Opa Kusuma, kakek dari Eilene Kusuma, gadis itu akan menolak makan gado – gado di siang hari. Bukan karena gadis itu tidak menyukai makanan tersebut. Hanya saja dia tidak menyukai tempat gado – gado tersebut di jual. Ya, kebanyakan gado – gado dijual di warung – warung pinggir jalan.

Tetapi, saat ini Rasta melihat Eilene tidak keberatan sama sekali makan di warung pinggir jalan. Dia santai dan nampak menikmati gado – gado tersebut. Dan itu membuat Rasta penasaran.

Rasta Davian Giri. Pria berusia 25 tahun. Satu – satunya putra keluarga Giri yang akan meneruskan perusahaan keluarga milik klan Giri. Sejak kecil tinggal di London bersama kedua orang tua. Kakak perempuan dan adik perempuannya.

Rasta pada awalnya tidak menyetujui rencana pertunangan ini. Terlebih ketika dia bertemu Opa Kusuma dan Opa Kusuma membeberkan seperti apa sosok Eilene. Itu membuat Rasta merasa berkeberatan untuk menikah dengan Eilene yang memiliki sifat keras, liar dan pemberontak.

Tetapi, di depannya ini gadis itu seolah terbalik 180 derajat. Dia seorang gadis yang santai. Dan tenang. Dan terlebih tidak banyak tuntutan. Gadis ini tidak secantik apa yang ada dibayangannya. Tetapi, dia memiliki pesonanya sendiri. Gadis ini, cukup menakutkan sekaligus membuatnya penasaran.

Gadis ini mengucapkan apa yang ingin diucapkan. Tidak peduli akan terdengar aneh atau tidak. Tapi di satu waktu dia adalah sosok yang sulit di baca apa yang ada di dalam benak gadis ini.

Rasta meminta satu hari penuh untuk mengenal Eilene adalah untuk membuktikan bahwa Eilene bukanlah sosok yang tepat untuknya. Tetapi, saat ini dia menjadi penasaran.

“Setelah ini, kita akan kemana?” tanya Rasta membuat gadis di depannya mendongak. Memperlihatkan mata hitam yang berbinar – binar. Membuat Rasta kesulitan menelan ludahnya.

 

 

==è***ç==

 

“Taman Mini Indonesia Indah?” Rasta mengucapkan kata yang tertera dan terlihat di indra penglihatannya dengan heran. Gadis disampingnya mengangguk. Terlihat sangat antusias.

Rasta tidak mengerti. Kenapa? Diantara banyak tempat di Jakarta, kenapa gadis ini memilih TMII? Itu terlalu… kekanak – kanakan bukan?

Rasta dengan linglung mengikuti langkah antusias Jingga. Dan gadis itu semakin bersemangat melihat ramainya suasana TMII. Akhirnya dirinya bisa mengunjungi TMII. Dan Jingga senang saat Rasta pasrah mengikutinya. Tidak protes. Meski dia tahu Rasta heran dengan pilihannya.

Jingga mengajak Rasta ke Desa Seni. Melihat hasil seni tradisional yang dipamerkan di desa tersebut. Melihat antusiasme gadis itu yang alami membuat Rasta tersenyum tulus. Sepertinya Eilene bukanlah gadis yang buruk. Dia unik. Dan membuat Rasta tertarik. Terlebih dengan senyumnya yang manis. Meski kadang sifat kaku gadis itu mengganggunya. Tetapi dia menikmati kebersamaan mereka.

Setelah puas melihat ke Desa Seni. Jingga mengajak Rasta menyewa sepeda untuk mengelilingi taman mini. Mereka bersepeda cukup santai. Mengobrol banyak hal dan juga bercanda. Jingga tidak lagi merasa canggung. Rasta benar – benar pria yang baik. Dan gadis itu tidak tega menipu Rasta lebih lama. Tetapi untunglah setelah ini, mereka tidak akan lagi bertemu.

Dan dia bertekad nanti dia akan minta maaf.

 

 

==è***ç==

 

 

“Ini menyenangkan sekali. Setelah ini kita akan kemana?” tanya Rasta. Hari sudah gelap ketika mereka keluar dari TMII.

“Bagaimana jika kita makan malam? Ini sudah waktunya makan malam.” Kata Jingga sambil melirik jam tangannya.

“Boleh. Di mana kita makan malam?”

“Oh terserah kamu. Ingin makan apa?”

“Nasi goreng? Sepertinya aku ingin nasi goreng.” Sekali lagi Jingga terperangah dengan pemilihan menu makan Rasta.

“Aku tahu di mana nasi goreng yang enak.” Kata Jingga. Dan dia segera menghentikan taksi. Keduanya duduk diam di dalam taksi. Sedikit kelelahan. Karena kegiatan mereka tadi.

Bahkan mereka makan malam dalam diam. Hanya sesekali mereka mengobrol. Tetapi, diam – diam, menyusup rasa tidak rela saat mereka menyadari waktu yang mereka miliki tinggal sedikit.

“Kita masih punya sedikit waktu. Akan kau bawa kemanakah diriku ini?” tanya Rasta setengah bercanda.

“Bagaimana jika kita ke Monas?”

“Monas? Boleh juga.”

Jingga tersenyum. Dan mereka memilih jalan kaki ke Monas. Karena tempat mereka tidaklah jauh. Suasana di Monas sungguh ramai. Mereka memilih sudut yang cukup sepi. Duduk dan menikmati suasana malam kota Jakarta.

“Besok… jam berapa pesawatnya?” tanya Jingga ragu.

“Jam 06.00. aku memilih penerbangan paling pagi. Karena aku harus segera sampai di London. Ada pekerjaan.” Jingga tersenyum sendu.

Pria ini pria yang sibuk. Tapi dia meluangkan waktunya untuk mengenal Eilene. Dan sungguh buruk dirinya karena dirinya menyetujui keinginan Eilene untuk membuat Rasta membatalkan pertunangan mereka.

Seandainya saja, yang dijodohkan dengan Rasta adalah dirinya, bukanlah Eilene.

Seketika Jingga memaki pemikiran buruknya tersebut. Jingga melirik ke arah Rasta yang nampak menikmati suasana di sekitar mereka. Ada degup tak bernama yang membuat Jingga semakin tidak nyaman.

“Rasta.” Panggil Jingga.

“Hmmm?” Rasta menoleh.

“Tidak. Bukan apa – apa.”

Rasta menatap gadis yang menunduk tersebut dengan heran. Tapi kemudian mengangkat bahunya acuh.

“Eilene.” Jingga memejamkan matanya sesaat sebelum memasang senyum di wajahnya. “Aku senang hari ini. Kamu, wanita yang baik. Kamu, jauh dari bayanganku tentang Eilene Kusuma selama ini.”

“Memangnya, selama ini apa yang kamu bayangkan tentang Eilene Kusuma?”

Rasta menatap keramaian di depannya. Tersenyum kecil. “Eilene dalam bayanganku adalah sosok gadis manja. Gadis keras kepala yang selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Sifat gadis liar yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Memiliki jiwa pemberontak yang khas dimiliki gadis remaja yang beranjak dewasa.”

Jingga menahan gejolak perasaannya. Ingin berteriak. Memang seperti itulah seorang Eilene.

“Aku bahkan sempat ingin membatalkan pertunangan ini. Itulah sebabnya aku mengajukan permintaan pada Opa Kusuma untuk memberikan waktu satu hari agar aku bisa menghabiskan waktu bersamamu.” Lanjut Rasta. Kemudian pria tampan itu menoleh ke arah gadis yang diam menatapnya dengan pandangan yang tidak ia mengerti apa artinya. “Dan sekarang, rasanya aku tidak ingin membatalkan pertunangan ini. Aku senang. Karena kau, benar – benar seperti yang aku inginkan untuk menjadi pendampingku.”

Suara kesiap terdengar jelas dari bibir Jingga. Dia tidak menyangka hal ini yang terjadi.

“Maaf.” Rasta menatapnya heran. “Kamu pria baik. Aku.. maaf.” Suara Jingga nampak kacau.

“Hey, Eilene ada apa?”

“Tidak. Aku rasa aku harus pulang. Ini sudah malam. Kamu juga harus segera istirahat. Permisi.” Jingga langsung berdiri tanpa menoleh lagi ke arahnya.

Dan rasta hanya mampu menatap punggung kecil Jingga dengan bingung. Tetapi dibiarkannya jingga pergi. Karena dia sudah yakin akan keinginannya. Di ambilnya ponsel miliknya. Mencari sebuah nomor. Dan kemudian mendialnya.

“Halo.. Opa…”

 

 

==è***ç==

 

“Bagaimana bisa Rasta memberitahu Opa, bahwa dia ingin mempercepat pertunangannya. Apa yang terjadi Ngga?”

Jingga menatap hujan dari balik jendela taksi yang ia naiki. Jemarinya menggenggam erat ponsel yang baru saja dia matikan karena tidak ingin mendengar panggilan Eilene yang histeris.

Dia baru saja memberitahukan bahwa Rasta ingin mempercepat pertunangannya dengan Eilene. Dan hal itu membuat ngilu di hatinya. Menyadari bahwa dia tertarik pada Rasta meski mereka hanya menghabiskan waktu satu hari saja bersama.

Seandainya saja dirinya menolak permintaan Eilene. Maka semua ini tidak akan terjadi. Dirinya tidak akan jatuh cinta. Dan disaat bersamaan harus merasakan sakitnya patah hati,

Seandainya saja. Hanya itu yang ada di benak Jingga. Dan dia merasa ini adalah hukuman karena dirinya telah membohongi Rasta.

Dia hanya harus mempersiapkan hatinya. Memadamkan rasa cinta yang tumbuh begitu saja. Sebelum, semuanya terlanjur.

 

 

END.

 

 

 

Halooooo saya kembali. Tetapi bukan dengan fanfic ya. Ini hanyalah cerpen biasa.

Cerpen dengan tokoh khayalan yang benar  – benar khayalan. Ini cerita hasil remake dari FF saya yang berjudul one day with you. Saya ubah, saya sesuaikan dengan kondisi cerita ini yang khas indonesia sekali. Tetapi inti ceritanya masih sama.

Bagaimana? semoga ada yang membaca ya.

Bisa minta kritik saran teman???

 

jika ada yang berminat agar FF2 saya dilanjut bisa silahkan komen ya.. mau dilanjut yang mana ffnya?

Living In Your Eyes Part 3

10346642_712770845451848_6121237324225626438_n

 

Tittle : Living in Your Eyes – Sequel of Silent Love
Author : Frey
Main Cast : Park Yoochun JYJ, Shin Raena OC, Yoo Ah In Actor
Cameo : Shim Miyoung OC, Shin Jaehee OC, Kim Heeni OC, Park Eunsoo OC, Shim Changmin DBSK, Song Joongki Actor
Genre : Romance, Hurt ==== Mungkin
Rated : T
Word : 1555
Part : 3
Warning : Typo(s), Alur Ga jelas, bahasa acak adul n tidak sesuai eyd. Judul ga nyambung.
Disclaimer : FF ini asli punyaku. Hanya pinjem nama. Semoga yang punya nama ga keberatan namanya aku caplok n aku gunakan untuk ini FF.
Summary : Ketika cinta lamamu hadir kembali di saat kau sudah bersama orang lain. apa yang akan kau lakukan?
Author’s Note : ini adalah FF Sequel dari drable Silent Love. Sesuai permintaan my cousin @Yolanda. Ini sequelnya. Sesuai yang kamu harepin yak.. tapi maaf ga sama Heechul. Heechulnya kan lagi seneng2 sama istri Virtualnya. Oh ya, kalimat pembuka itu (yg bahasa inggris) aku ambil dari lirik lagunya L’Arc En Ciel yang Hitomi No Jyuunin yang artinya aku gunakan sebagai judul ini FF

Tinggalkan Review jika bersedia. Terima kasih.

I want to be by your side forever, gazing at your smile

 

 

Suaraalunan music berbaurdengansuarapercakapanterdengarsamar – samardaritempatdi manadua orang tersebutberada. Balkongedung di manaacarareuniitudiadakan.Dua orang yang terlihatdiammenikmatisuasanamalam di tambahsegelassampanyepadatanganmerekamasing – masing.
“Apakabarmu?” suasanasepiituterpecahkanolehsuara husky yang sangat familiar bagiRaena.Meskitelah lama suaraitutidakterdengarolehkeduatelinganya.
“Baik.Sunbaesendiri?”
“Akujugabaik.”Kata Yoochunsambilterkekehkecil.“Raena-ya, tidakbisakahkauberhentimemanggilkuSunbae?Kita sudah lulus.”Raenatersenyumkecil.
“Laluakuharusmemanggilmuapa?”
“Oppa?”
“Oppa?Tidakmau.Ituterlaluakrab.Sementarakitatidakseakrabitu.”SekalilagiYoochunterkekeh.
“Baiklahterserahpadamu.AsaljanganmemanggilkuSunbaesaja.”
Raenamengangguk.Dan kemudiankembaliheningmendominasikeadaanmereka.Suasanamalam di Jejuinientahkenapaterlihatsyahdu.
“Selamaini…. S- Yoochun-ssikemana?” suararaguRaenamenariklamunanYoochun.
“Aku?Akupergike London.Akumendapatbeasiswakesana. Ah, kautahukekasihsahabatmu?”
“Hum? Shim Changmin?”
“Ya. Selama dua tahun kami satu asrama. Tapi, karena satu sebab, akhirnya dia pindah kuliah di Jepang.” Raena tersenyum kecil mendengar penjelasan dari Yoochun. Setahunya, Changmin memang pernah tinggal di Inggris. Tidak menyangka sekali bahwa dia pernah menjadi teman satu asrama dengan Yoochun.
“Kau sendiri bagaimana Raena-ya?” tanya Yoochun.
“Aku… melanjutkan sekolah di Universitas Seoul. Sebelum kemudian bekerja di SJK Corp. Sudah beberapa tahun aku bekerja di sana.”
“SJK Corp? Lalu… kenapa kau datang sendiri? Bukankah kau sudah memiliki pasangan?” raena refleks menatap ke arah cincin yang terpasang di jari manisnya. Dan dengan gerakan perlahan mengepalkan jemarinya untuk menyembunyikan cincin tersebut. Meskipun hal itu tidak berguna. Yoochun sudah melihatnya.
“Dia… tidak bisa datang.” Kata Raena ragu. Senyum samar terukir di bibir Yoochun. Sebelum melakukan hal yang membuat tubuh Raena menegang secara tiba – tiba.
“Apa yang kau lakukan Yoochun-ssi?” tanya Raena sambil meraih jemari Yoochun yang tengah mengusap kepalanya lembut. Jantung Raena berdetak kencang. Saat kemudian Yoochun meraih tangan Raena dan menyisipkan jemarinya di antara sela – sela jari Raena. Membuat Raena mematung karena sikap tidak biasa Yoochun tersebut.
“Bisakah kali ini aku bersikap egois? Untuk sebentar saja?”



Detik berganti menit…
Menit berganti jam…
Jam berganti hari…
Hari berganti minggu…
Minggu berganti bulan…
Dan bulan berganti tahun….
Bahkan diantara waktu – waktu itu, aku tak pernah melepaskan dirimu dari ingatanku…
Kau alasanku untuk tetap berjuang…
Hingga aku seperti ini…
Dan bolehkah jika kali ini aku egois
Untuk sebentar saja, sebagai pembayar segala perjuanganku yang selalu menahanmu dalam pikiran dan kenanganku?
Meski nanti akan ada rasa sakit…
Cukup aku yang merasakannya…
Sekali lagi….



“Kau terlihat menjadi dekat dengan Yoochun Sunbae?” tanya Jaehee saat mereka berada di kamar hotel malam itu. Raena yang tengah membaca novel terlihat terdiam sejenak, sebelum kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. Jaehee yang menatap Raena dari balik cermin segera berbalik untuk kemudian menatap ke arah Raena.
“Rae-ya, ingat kau sudah memiliki Yoo Ah In.” Kata Jaehee tegas.
“Aku tahu.” Kata singkat Raena. Membuat Jaehee sedikit geram. Raena yang sepertinya menyadari sahabatnya itu kesal terhadapnya segera menutup novel dan kemudian menatap lekat ke arah Jaehee. “Apa jika kau sudah memiliki Yoo Ah In Oppa, maka aku tidak boleh dekat dengan Yoochun Sunbae?” tanya Raena. Jaehee menelan ludah susah payah.
“Yoochun sunbae itu seseorang….”
“Seseorang yang menjadi cinta pertamaku?” potong Raena. Dia tersenyum samar. “Jika dia cinta pertamaku, apa itu juga menjadi alasan untukku tidak boleh dekat dengannya? Aku pikir tidak hanya aku saja yang memiliki cinta pertama yang tidak kesampaian. Tapi kenapa aku tidak boleh dekat dengannya?”
“Maksudku… bagaimana perasaanmu?”
Raena menatap pemandangan malam yang terlihat dari jendela yang terbuka. “Perasaanku…. Aku tidak tahu bagaimana menghentikan perasaan ini. Tetapi, aku juga tahu melanjutkan perasaan ini juga tidak boleh. Mungkin, jalan untuk menghentikan ini adalah memulai apa yang ingin kumulai, dan kemudian mengakhirinya. Dengan begitu, perasaan ini akan terhenti.
“Lalu bagaimana jika tidak berhasil?” bisik Jaehee.
‘Maka, biarlah perasaan ini ada dengan sedikit kenangan darinya. Dengan begitu tidak akan membuat diriku sesak.”
Jaehee menatap Raena dengan pandangan yang tidak dapat diterka. “Kau ingin bermain api?”
“hanya ingin merasakan hangatnya api itu. Jika nanti aku terbakar, aku tahu, aku tidak akan menyesal.”
“Kau akan menyakiti perasaan kalian bertiga.”
“Aku yang akan menanggung rasa sakitnya. Sekali lagi.”



Raena mematut dirinya di depan cermin. Dress musimsemi yang ia kenakan nampak pas untuk dirinya. Suara pintu terbuka membuat Raena menoleh.
“Hee-ya, apa aku sudah bagus?” tanya Raena.
“Kau terlihat cantik.” Raena tersenyum. Dan kembali berbalik ke arah cermin. Sementara di belakangnya Jaehee menatap punggung Raena dengan pikiran yang berkecamuk. Dia tidak tahu harus bagaimana menghentikan Raena. Karena dia tahu Raena sangat keras kepala. Dia hanya tidak ingin Raena kembali terpuruk akan perasaan itu.
Hari ini, acaranya adalah berkeliling pulau Jeju. Ini adalah hati terakhir mereka di Jeju. Menikmati keindahan pulau Jeju dirasa menjadi saat yang pas. Toh, hari sebelumnya mereka telah menikmati saat – saat bersama teman – teman mereka.
“Changmin sudah menunggu kita di luar. Ayo kita keluar.” Ajak Jaehee. Raena mengangguk. Kemudian meraih tasnya. Ketika mereka keluar, Raena terpaku pada sosok Yoochun. Yang terlihat memukau dengan penampilan dirinya yang meski dirinya hanya mengenakan pakaian casual.
“Kita akan kemana?” tanya Changmin. Menghentikan Raena dan Yoochun yang saling memandang.
“Aku dengar tidak jauh dari hotel ini ada sebuah bukit yang indah. Dan ada juga sebuah pantai yang dekat dengan bukit tersebut. Bagaimana jika kita ke sana?” tanya Yoochun. Yang di jawab dengan anggukan ketiganya.
Changmin berjalan lebih dulu dengan Jaehee dalam gandengannya. Sementara Raena masih berdiri berhadapan dengan Yoochun.
“Apakah kau tahu, kau sangat cantik Raena-ya.”
“Terima kasih Yoochun-ssi.”
“Hm.. aku pikir kita sudah cukup dekat. Jadi bisakah kau panggil aku Oppa?”
Semburat merah muncul di pipi Raena. Dia terkekeh kecil untuk menutupi rasa hatinya yang berbunga tersebut. Yoochun menaikkan alisnya pertanda menunggu jawaban dari Raena. Raena mengangguk malu – malu. Membuat Yoochun tersenyum lebar.
“Baiklah, kita pergi. Kita tidak bisa membuat kedua pasangan itu menunggu kita terlalu lama bukan?” Yoochun meraih jemari Raena dan menggandengnya menuju ke depan. Di mana Changmin dan Jaehee menunggu keduanya.



Jaehee dan Changmin sudah duduk di atas mobil menunggu Yoochun dan Raena yang belum muncul. Sesekali Changmin mengeluarkan rayuannya untuk kekasih yang sudah lama ia pacari tersebut. Tapi hal itu tidak membuat rona merah di pipi Jaehee. Hanya cubitan di beberapa tubuh kurus Changmin. Tapi dia tahu, hal itu adalah gerak refleks saat Jaehee merasa malu karena dia goda.
Changmin menghentikan rayuannya saat melihat bayangan Yoochun dan Raena yang berjalan mendekat sambil bergandengan tangan. Sikap kaget Changmin tersebut membuat jaehee menoleh untuk melihat apa yang tengah diperhatikan Changmin. Gadis itu menghela nafas panjang.
“Berhentilah menatap mereka seperti itu. Dan juga.. bersikaplah biasa saja Changmin-ah. Seakan kau tidak tahu apapun.”
“Apa maksudmu Jagiya. Mereka…”
“Nanti. Nanti aku akan cerita padamu.” Raut wajah datar Jaehee membuat Changmin mau tidak mau menurutinya.



Mereka menghabiskan seharian itu dengan bermain di pantai. Sebelum akhirnya berpindah di taman bunga yang ada di atas bukit. Bunga – bunga bermekaran dengan indahnya, mengingat saat ini adalah puncak dari musim semi. Menunggu senja di bukit itu akan terbayar dengan keindahan yang akan mereka temukan saat senja menjelang.
Karena itulah mereka mulai berjalan di tengah lautan bunga itu untuk mencari tempat yang pas untuk mereka beristirahat.
Sementara itu beberapa ribu kilometer jauhnya dari Jeju. Tepatnya di Seoul. Dua orang manusia nampak berdiam denganpikiran yang berkecamuk di sebuah café yang terletak di salahsatu mall terkenal di Seoul.
“Kaukemanasajaselamaini?”Tanya sipriakepadawanita yang hanyaberdiamdiri di depannya.Si wanitamenataplekat kea rah sipriadankemudianmengulassenyumkecil.
“Tidakkemana – mana.Oppa, akusenangmelihatmulagi.Tapiakuharussegerapulang.”Wanitaituterlihatterburu– buru.
“Heeni-ya.”Panggilpriaitusambilmenahanlenganwanita yang dipanggilHeenitersebut.Heeniberhentidanmenolehkearahnya.
“Ada apa?”Tanya wanitatersebut.Tetapi, priaituhanyamenahannyadengantatapandalam yang hanyaakanditujukanuntukwanita yang saatiniadadidepannya. Keduanyasalingmenataptanpasepatahkatapunterucap.



“Indah sekali.”GumamRaenasambilmenatapkekejauhan.Langitmulaiberwarnalembayung.Menampilkankeindahan yang ada di tempattersebut.Terlihatsepasanganakmanusiatengahduduk di bawahsebuahpohonsakura yang berbungalebat.Bunga – bungasakura yang berwarna pink tersebutterlihatmemenuhipohonbesartersebut.Dan juga di sekitartempatmerekaduduk.
“Kausenang?”Tanya Yoochun yang duduk di sampingnya.Merekahanyaberdua.EntahkemanaChangmindanJaeheesaatiniberada.
“Iya.Terimakasih.Akusangatsenangsekali.”
“Akujuga.Saying sekalibesokpagikitasudahharuskembalike Seoul.”
“Kaubenar.”
YoochunmeraihjemaritanganRaenadanmenariknya, menggenggamnya, meletakkannya di ataspangkuannya.
“Akuharaphariiniakanmenjadikenanganindahuntukkitaselamanya.”UcapYoochun. RaenamenataplekatmatacokelatYoochun.Sebelumkemudianbibirnyabergerakmembentuksebuahsenyuman.MembalasgenggamanjemariYoochun.
“Lihat.Mataharinyaterbenam.”Raenakembalimenataplekatlangit.Di manamataharimulaibergerakuntukketempatperaduanterakhirnya.Keindahanitumempesonanya.
Cup.
Mata indahRaenaterbelalaksempurna, ketikaadabendabasahmenempel di bibirnya.Menekanbibirnyalembut, diamselamabeberapasaat.MembuatotakRaenalumpuhseketika.Dan sebelumrespondirinyahadir, bendatersebutmulaibergerak.Melumatbibirnya.Dan saatitu, perasaanRaenaterasamembuncah.Mata Raenaperlahanterpejamsebelumkemudiandirinyamembalasciumantersebut.

TBC

#Elapkeringat…
Yaampun, puasa – puasamalahbikinadeganini…. #tunjukatas.Semogaberkenan.

Living In Your Eyes Part 2

 

 10346642_712770845451848_6121237324225626438_n

 

Tittle : Living in Your Eyes – Sequel of Silent Love

Author : Frey

Main Cast : Park Yoochun JYJ, Shin Raena OC, Yoo Ah In Actor

Cameo : Shim Miyoung OC, Shin Jaehee OC, Kim Heeni OC, Park Eunsoo OC, Shim Changmin DBSK,.

Genre : Romance, Hurt ====è Mungkin

Rated : K+

Word : 1552

Warning : Typo(s), Alur Ga jelas, bahasa acak adul n tidak sesuai eyd. Judul ga nyambung.

Disclaimer : FF ini asli punyaku. Hanya pinjem nama. Semoga yang punya nama ga keberatan namanya aku caplok n aku gunakan untuk ini FF.

Summary : Ketika cinta lamamu hadir kembali di saat kau sudah bersama orang lain. apa yang akan kau lakukan?

Author’s Note : ini adalah FF Sequel dari drable Silent Love. Sesuai permintaan my cousin @Yolanda. Ini sequelnya. Sesuai yang kamu harepin yak.. tapi maaf ga sama Heechul. Heechulnya kan lagi seneng2 sama istri Virtualnya. Oh ya, kalimat pembuka itu (yg bahasa inggris) aku ambil dari lirik lagunya L’Arc En Ciel yang Hitomi No Jyuunin yang artinya aku gunakan sebagai judul ini FF

 

Tinggalkan Review jika bersedia. Terima kasih.

 

 

 

I want to be by your side forever, gazing at your smile

 

 

Raena POV

 

“Kau ingin makan apa?” tanya Ah In Oppa padaku setelah kami berada di sebuah restauran. Hari ini kami tengah berkencan. Setelah sekian lama kami jarang bertemu. Memang akhir – akhir ini kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama. Kami sama – sama sibuk.

“Aku seperti biasa saja Oppa.” kataku sambil meletakkan buku menu. Ah In Oppa menyebutkan pesanan kami kepada waitress yang kemudian mencatatnya dan kemudian berlalu meninggalkan meja kami.

“Kau terlihat lelah Oppa. apa pekerjaanmu sangat berat?” tanyaku padanya.

“Tidak begitu. Oh ya, Jagi ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu?” tanyaku sambil menatap wajah tampan tunanganku ini.

“Apa tidak sebaiknya kita tinggal bersama saja? kita sudah bertunangan Jagiya.” Katanya langsung yang membuatku terdiam.

Benar. kami sudah bertunangan. Sudah seharusnya kami tinggal bersama. Hanya saja aku… entah kenapa masih merasa tidak siap untuk tinggal bersamanya.

“Oppa. mianhae. Aku masih belum siap untuk tinggal bersamamu.” Kataku jujur. Ah In Oppa menatapku dalam. Membuatku merasa bersalah. Tapi rasa bersalahku itu tidak cukup kuat untuk merubah inginku. Ah In Oppa menghela nafas panjang,

“Aku mengerti.”

Aku tersenyum. Tanpa mengucapkan apapun lagi.

 

Raena POV End

….

 

Jaehee menatap lekat pada sosok yang tengah berjalan menuju ke toilet. Akhirnya Changmin memutuskan untuk mampir di sebuah restauran karena merasa lapar.

“Jagiya, kenapa kau menatap Yoochun hyung seperti itu? kau tidak menyukainya bukan?” changmin bertanya curiga yang membuat Jaehee menoleh dan melotot sadis padanya.

“Aniyo. aku bukan menyukai dia seperti yang ada dipikiranmu.”

“Aku tidak menyangka kalian dulunya adalah senior junior di sekolah. Dan lebih tidak menyangka lagi kalian bertemu kembali. Itu luar biasa.”

“Aku juga tidak menyangka.” Lirih Jaehee.

“Kau bilang apa?” Changmin yang tidak begitu mendengar apa yang diucapkan Jaehee segera bertanya.

“Aniyo.” jaehee mengulas senyum dan kemudian menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.

Pikirannya berkecamuk.

Ini sudah lewat bertahun – tahun. Dan Jaehee sangat tahu bahwa sahabatnya itu masih belum bisa melupakan sosok itu. tetapi ketika akhirnya dirinya bisa beranjak, kenapa dia harus hadir?

Apa sebenarnya rencana-Mu Tuhan?

 

 

Yoochun menatap tampilan dirinya di kaca wastafel di toilet tersebut. setelah terdiam cukup lama, senyum miris terukir di bibirnya.

“Tidak apa – apa.” gumamnya entah apa maksudnya.

 

 

Tidak pernah ada yang tahu seperti apa permainan takdir itu. manusia hanya bisa menjalaninya saja. Tetapi meski begitu seorang manusia wajib untuk berusaha agar takdir yang diterimanya tidaklah terlalu buruk untuk ia rasakan.

Manusia bisa berencana. Tuhanlah Sang Penentu Akhir. itu bukanlah sekedar kalimat, karena pada kenyataannya hal itulah yang terbukti.

Entah mudah. Entah sulit. Pada kenyataannya cinta akan bermuara pada satu hal. Bahagia. Karena memang takdir itu mengatakan sang pencinta akan selalu menemukan kebahagiaannya dengan berbagai jalan.

 

 

Raena tengah menghadiri acara keluarga Yoo. Di mana dia hadir untuk mendampingi Ah In. Sedari tadi dia sedikit tidak nyaman. Bukan karena penolakan keluarga Yoo. Keluarga Yoo sangat menerima baik dirinya. Hanya saja dirinya tidak terbiasa untuk berada di keramaian.

“Kau nampak gelisah Jagi.” Tanya Ah In sambil mengulurkan segelas minuman ke arah Raena yang langsung disambut wanita tersebut.

“Tidak apa – apa. hanya sedikit tidak nyaman. Oppa tahu sendiri aku tidak menyukai suasana ramai.” Ah In menepuk lembut pucuk kepala Raena.

“Kau harus mulai membiasakan diri. Kau tahu sendiri bagaimana Eomma menyukai keramaian seperti ini. dia sering mengundang keluarga besar untuk sekedar makan bersama.” Raena menghela nafas panjang. Sebelum dia tersenyum.

“Aku akan mencoba.”

“Bagus.”

Setelah itu mereka kembali terlarut pada pembicaraan tanpa alur. Yang membuat Raena bersyukur. Karena Ah In seorang pria dewasa yang pengertian. Dia menemani Raena. Agar dirinya merasa sedikit nyaman.

 

 

Raena menatap pada undangan berwarna merah bata. Undangan reuni sekolahnya. Yang akan diadakan di Pulau Jeju dan mengharuskan mereka menginap selama dua malam di Jeju. Ketika Raena bertanya kepada salah seorang panitia yang merupakan temannya, dia menjawab karena akan banyak alumni yang datang dan karena sudah lama tidak bertemu. Waktu satu hari akan sangat kurang. Maka diputuskan untuk berada di sana selama dua hari dua malam. Pagi sekali di hari ketiga mereka akan kembali dari Jeju.

Raena tidak ingin datang ke acara reuni itu. tapi, Jaehee memaksanya untuk ikut. Mau tidak mau akhirnya dia ikut juga.

“Aku minta maaf Jagi. Acara itu bersamaan dengan tugasku ke Busan. Aku tidak bisa pergi bersamamu. Tidak apa jika kau berangkat sendiri bukan?”

“Tidak apa Oppa. semoga tugasmu berjalan dengan baik.”

“Terima kasih. Kau juga bersenang – senanglah. Kau pergi bersama Jaehee dan kekasihnya bukan?”

“Ne.”

“Aku akan sering – sering menghubungimu.”

“Ne Oppa.”

Menghela nafas panjang, Raena meletakkan undangan tersebut di atas meja riasnya dan kemudian dirinya membuka laci teratas di meja rias tersebut. Mengambil sebuah kotak kecil dan membukanya. Kancing atas seragam. Ku raba kancing tersebut dengan pikiran berkecamuk.

Gerakan Raena terhenti saat matanya menemukan cincin yang terpasang di jemari tangan kirinya. Menatap cincin dan kancing tersebut bergantian, sebelum kembali menghela nafas dan menutup kotak kecil tersebut. memasukkan ke dalam laci kembali.

“Masa lalu, tidak akan pernah kembali. Menyesal-pun akan percuma. Lebih baik aku melupakan semua tentangnya. Dan mulai mencintai Ah In Oppa.” gumam Raena dengan penuh tekad.

 

 

Hari ini adalah hari keberangkatan menuju pulau Jeju di mana reuni tersebut diadakan. Raena dan Jaehee berangkat lebih dulu. karena entah kenapa mendadak Changmin akan datang menyusul. Dan entah karena apa juga, Raena merasa Jaehee bersikap aneh. Tidak banyak bicara seperti biasanya. Ketika Raena menanyakannya, Jaehee hanya mengatakan dia sedikit kelelahan. Raena hanya tersenyum maklum, meski tidak sepenuhnya percaya.

Mereka akan berangkat bersama beberapa teman lama mereka yang kebetulan membuat janji untuk berangkat bersama. Bersama – sama naik bis dari Seoul.

“Bukankah reuni kali ini dihadiri dari berbagai tingkat alumni?” suara cempreng teman yang bernama Han Minri yang duduk di belakang Raena dan Jaehee terdengar.

“Benar. memangnya kenapa?” tanya teman Minri yang Raena lupa namanya.

“Itu berarti Yoochun sunbae akan hadir bukan?” raena merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat. Jemarinya saling meremas di balik tas tangan yang ia letakkan di atas pangkuannya.

“Itu benar sekali. apa kabarnya dia?” tanya heboh.

“Molla. Setelah kelulusan dia seperti menghilang saja. tidak ada kabar beritanya.”

“Mungkin dia sudah menikah dengan kekasihnya itu, siapa namanya? Song Minji?”

“Bukannya mereka sudah putus sebelum kelulusan?”

“Jeongmal?”

“Kau tidak tahu?”

“Aniyo.”

“Ku dengar Minji Sunbae yang memutuskan Yoochun Sunbae. Lagipula Minji Sunbae itu juga senior di kampusku dulu. dan dia berpacaran dengan orang lain. dari kabar yang kudengar dia kekasih Minji Sunbae sebelum dia berpacaran dengan Yoochun sunbae.”

“Kasihan sekali Yoochun Sunbae.”

“….”

“….”

Raena memejamkan matanya. Kilasan wajah pria cinta pertamanya kini muncul memenuhi otaknya. Sesak rindu ini kembali menghampiri hatinya. Meski Raena tekan kuat – kuat. rindu ini tetap saja muncul hanya karena mendengar namanya di sebut.

“Rae-ya, kau belum bercerita padaku tentang rencana pernikahanmu. Terakhir kau bilang, kau dan Ah In Oppa tengah merencanakan pernikahan.” suara Jaehee menyentakkan lamunan Raena.

“Eh? Oh, ya begitulah.” Jawab Raena enggan. Jaehee menyipitkan matanya. membuat Raena menghela nafas panjang.

“Kami tengah membicarakan konsep pernikahan yang kami inginkan. Juga tengah mencari beberapa informasi. Tapi karena baik aku maupun Ah In Oppa masih sibuk jadi kami belum membicarakan lebih lanjut.”

“Kau dan Ah In Oppa sudah cukup lama. kenapa harus menundanya?”

“Aku tidak menunda Hee-ya. hanya saja belum ada waktu untuk membicarakannya.”

“Seharusnya kau bisa lebih mempriotaskan masalah ini. jangan terlalu lama menunda pernikahan kalian.” raena menatap Jaehee tidak mengerti.

“Kenapa kau bicara seperti itu.”

“Tidak apa – apa. hanya saja….” jaehee terlihat terdiam cukup lama. sebelum bergumam yang hanya mampu di dengar oleh Raena.

“Jika kau menunda dan orang di masa lalumu hadir, kau pasti akan goyah. Jika kau goyah, bagaimana dengan Ah In Oppa dan dirimu sendiri yang telah susah payah memulai hubungan dengan Ah In Oppa.”

Raena terdiam mendengar gumaman Jaehee. Hal itu membuat Jaehee merasa bersalah. Karena dia tahu Raena memang masih memiliki perasaan untuk Yoochun. Tapi, akan tidak adil jika hanya karena kehadiran pria itu akan membuat goyah perasaan Raena. Sementara pria itu tidak memiliki satu kepastian. Membalas perasaan Raena atau tidak. Pria itu terlalu banyak memiliki rahasia yang tidak dapat di tebak.

“Yoochun sunbae, mungkin sudah bahagia dengan istrinya.”

“Jika dia belum menikah.”

“Apa Yoochun sunbae memiliki perasaan yang sama denganku? Kau sendiri tahu, Yoochun Sunbae tidak pernah menatapku Hee-ya.” kata Raena lembut.

“Dia memberimu kancing atas seragamnya.”

“Aku bahkan tidak mengerti arti dari hal itu Hee-ya. dia tidak mengatakan apapun. Lalu, aku harus bagaimana? Kau takut aku tidak akan bersikap adil pada Ah In Oppa jika Yoochun sunbae kembali? Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin sekali Yoochun sunbae tidak pernah memiliki sedikit perasaan lebih kepadaku selain senior dan junior dan aku juga sudah menerima lamaran Ah In Oppa. jadi kemungkinan untuk aku bersama Yoochun sunbae sangatlah kecil.”

Jaehee ingin berbicara. Tetapi Raena memberikan isyarat dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Jaehee kini mengalihkan pandangannya ke depan.

Bagaimana jika ternyata dirinya memiliki perasaan yang sama padamu???

 

 

 

Hati, siapa yang akan tahu isi hati seseorang selain dirinya sendiri? Sepintar apapun dirimu menebak seseorang, kau tidak akan pernah bisa mengetahui isi hati dari orang tersebut.

 

 

Raena terdiam kaku mendapati sosok yang berdiri di depannya. Tersenyum hangat. Dalam balutan pakaian kasual yang membungkus tubuh indahnya. Mereka hanya berjarak beberapa langkah, sehingga Raena bisa melihat bagaimana mata cokelat indah itu memantulkan sosoknya di bola mata tersebut. hal yang Raena yakini juga sama. dia tahu bahwa di bola matanya akan terpantul sosok tersebut.

“Sun…bae…”

 

 

 

 

Errr… atau TBC? Pilih aja dech.. kkkkk

 

 

 

 

Living In Your Eyes

 

 10346642_712770845451848_6121237324225626438_n

 

Tittle : Living in Your Eyes – Sequel of Silent Love

Author : Frey

Cover By : Yokyuwon aka Yolanda

Main Cast : Park Yoochun JYJ, Shin Raena OC, Yoo Ah In Actor

Cameo : Shim Miyoung OC, Shin Jaehee OC, Kim Heeni OC, Park Eunsoo OC, Shim Changmin DBSK,.

Genre : Romance, Hurt ====è Mungkin

Rated : K+

Word : 1185

Warning : Typo(s), Alur Ga jelas, bahasa acak adul n tidak sesuai eyd. Judul ga nyambung.

Disclaimer : FF ini asli punyaku. Hanya pinjem nama. Semoga yang punya nama ga keberatan namanya aku caplok n aku gunakan untuk ini FF.

Summary : Ketika cinta lamamu hadir kembali di saat kau sudah bersama orang lain. apa yang akan kau lakukan?

Author’s Note : ini adalah FF Sequel dari drable Silent Love. Sesuai permintaan my cousin @Yolanda. Ini sequelnya. Sesuai yang kamu harepin yak.. tapi maaf ga sama Heechul. Heechulnya kan lagi seneng2 sama istri Virtualnya. Oh ya, kalimat pembuka itu (yg bahasa inggris) aku ambil dari lirik lagunya L’Arc En Ciel yang Hitomi No Jyuunin yang artinya aku gunakan sebagai judul ini FF

 

Tinggalkan Review jika bersedia. Terima kasih. Baca lebih lanjut