One Sided Love

One Sided Love



Seulgi Red Velvet as Kang Seulgi

Jimin BTS as Park Jimin

Kai EXO as Kim Jongin

Krystal F(x) as Jung Soojung


Chapterred


Romance


FF ini murni milikku. Aku pinjam nama aja sih ya. 

Selamat membaca

S​eulgi membuka pintu kafe dan rasa hangat langsung menerpa tubuhnya yang tertutup mantel panjang. Mata kucingnya mengedar demi menemukan orang yang tadi menghubunginya. Tanpa sadar ia tersenyum saat dia berhasil menemukan orang tersebut. Seulgi berjalan menghampirinya.

“Hey.” sapanya. Orang yang sedari tadi melamun menatap jalanan di luar jendela kafe menoleh. Tersenyum tipis demi mendapati sosok Seulgi.
Seulgi duduk di hadapan orang tersebut. Seorang pelayan mendekat dan Seulgi menyebutkan pesanan tanpa melihat menu. Seulgi terbiasa berada di kafe ini. Bersama sosok di depannya ini juga.
“Ada apa?” tanya Seulgi. Dia sedikit jengah karena biasanya orang ini akan bicara banyak hal saat bertemu dengannya. Tapi nyatanya kali ini dia hanya diam saja. Tidak seperti biasanya.
“Makan dulu.” kata orang itu lembut. Seulgi mengangguk saja. Terlebih saat pesanannya sudah datang. Tanpa mengeluarkan suara lagi, Seulgi mulai menyantap makanannya.
Sementara orang di depannya kini bertopang dagu sambil menatapnya.

Ini adalah tahun keenam mereka saling mengenal dan berteman akrab. Mereka sangat akrab cenderung mesra hingga banyak yang salah paham. Dan menganggap mereka pacaran. Tapi nyatanya mereka tidak memiliki hubungan apapun selain teman. Entah kenapa sulit sekali mengatakan perasaan meski keduanya saling menyadari perasaan mereka lebih dari teman. Mungkin mereka takut jika tak berjalan lancar, mereka akan kehilangan satu sama lain.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Seulgi memecah lamunan orang itu. Dia menghela nafas panjang. Lalu mengeluarkan sehelai kartu yang cukup besar lalu mendorong kartu itu hingga di depan Seulgi yang menatapnya bingung. Seulgi meraih kartu yang ternyata sebuah undangan. Ada inisial J dan S. Dia membukanya.
“Aku akan bertunangan minggu depan.”
Seulgi tidak tahu ada apa dengannya. Dia yakin dia tengah patah hati. Seharusnya dia menangis atau berteriak marah. Karena pria didepannya seakan mempermainkan perasaannya. Tapi nyatanya dia hanya diam saja. Mematung untuk beberapa saat. Sebelum dia tersenyum lalu sebuah kata keluar dengan tenang.

“Selamat, Jongin.”
Seulgi memang bingung harus bereaksi seperti apa. Menangis dan marah rasanya tidak pantas meski dia ingin. Dia bukan siapa – siapa bagi Jongin. Mereka hanya berteman sejak 6 tahun lalu. Hanya itu. Kalaupun dia menyadari perhatian Jongin lebih dari sahabat, namun tak ada kalimat penegasan. Jadi dia benar-benar tidak berhak menangis ataupun marah.
Gadis itu memilih lebih lama di kafe saat Jongin mengajaknya pulang. Dia ingin menenangkan diri. Mendamaikan hati. 
Seulgi hampir satu jam berada di kafe dan akhirnya dia memilih keluar. Untuk pulang ke apartemen kecilnya. Meringkuk. Dan mungkin menggulung diri dalam selimut kecilnya. Atau apapun yang bisa memperbaiki hati dan pikirannya yang kacau.
Dingin udara di bulan November tidak lagi terasa oleh Seulgi. Tubuhnya terasa mati rasa. Dia bahkan tidak peduli tubuhnya tertabrak beberapa kali dengan sesama pejalan kaki. 
Brugh
Seulgi bahkan tidak berteriak kesakitan saat tubuhnya terhempas dan menyentuh jalanan akibat tertabrak seseorang.
“Kau tidak apa – apa?” Suara itu terdengar samar bagi Seulgi. Bahkan wajah orang itu juga terasa kabur. “Hey, Nona. Apa sangat sakit? Nona jawablah. Jangan menangis seperti ini.”
Sentuhan orang itu seakan mengembalikan kesadaran Seulgi. Dengungan yang tadi ia dengar berangsur jelas menjadi suara – suara orang yang bicara secara bersamaan. Namun yang paling jelas adalah suara isakan yang keluar dari bibirnya. Pandangannya masih kabur tapi pipinya bisa merasakan dinginnya air yang jatuh dari kedua matanya. Dia juga bisa melihat secara samar orang – orang yang kini menatapnya. Dia yakin orang – orang itu menatapnya dengan pandangan kasihan. Dan Seulgi benci pandangan seperti itu. Tanpa sadar isakan Seulgi semakin keras.
“Hey hey. Kenapa malah semakin keras tangisnya? Astaga.”
Seulgi terkesiap saat tubuhnya terasa melayang. Lalu dia merasa hangat begitu cepat menggantikan dingin yang sedari tadi ia rasakan. Bahkan hidungnya menghirup aroma wangi yang menenangkan. Aroma yang membuat Seulgi ingin selalu merasakannya.
Isakan Seulgi terhenti. Saat ini Seulgi duduk di bangku sebuah taman. Sebuah syal tebal melingkar di lehernya. Kedua tangannya menggenggam kaleng kopi yang tadinya hangat. Tapi karena telah lama ia genggam jadi kini terasa dingin.
Seulgi mendongak saat mendengar suara decakan. Netra-nya menangkap jelas sosok pria yang mengenakan mantel hangat berwarna kelabu. Sebuah kacamata terpasang di wajah yang menurut Seulgi cukup tampan. Orang itu memasukkan kedua tangannya dan kini menatap Seulgi.
“Kau tidak terluka separah itu. Tapi kenapa kau menangis begitu keras?” desis pria itu.
“Hanya saja…” Seulgi mendengar suaranya serak. Jadi dia berdehem sebentar. “Aku memang sakit.” sentaknya. Pria itu tertawa mengejek. “Hatiku.” gumamnya melanjutkan nyaris tak terdengar. 
Tapi pendengaran pria itu sangat tajam rupanya.
“Ah, pantas. Sedang patah hati rupanya.” kata pria itu memahami apa yang tengah terjadi. Dia lalu duduk di samping Seulgi yang kini menunduk sambil memainkan kaleng kopi dingin. “Aku tidak tahu bagaimana caranya menghibur orang patah hati nona. Tapi jika kau ingin bercerita aku akan mendengarkannya. Mungkin itu bisa membuatmu lega.”
Seulgi menatap pria itu. Yang kini tersenyum menatapnya. Senyum yang membuatnya terlihat tampan dan manis. Dan Seulgi bahkan tidak mengerti bagaimana dia bisa dengan lancarnya menumpahkan perasaannya. Dia bercerita tentang penyebab dirinya patah hati pada orang asing yang bahkan tidak ia tahu namanya.
“Bukankah itu karena kalian berdua sama – sama bodoh?” Seulgi tidak menduga akan mendengar komentar seperti itu. Dia ingin mengeluarkan protesnya. “Untuk apa memgkhawatirkan apa yang akan terjadi yang bahkan bisa saja bukan seperti apa yang dibayangkan. Siapa yang tahu apa yang terjadi di masa depan. Apa kau yakin kau memang mencintainya?”
“Aku memang memcintainya.” desis Seulgi. Tidak suka jika ada yang mempertanyakan perasaannya. Terlebih jika itu adalah orang asing.
“Jika kau mencintainya kau akan berjuang. Setidaknya kau mengungkapkan perasaanmu. Seandainya persahabatan kalian rusak karena kau mengungkapkan perasaanmu, kau jadi tahu bahwa hubungan kalian tidak seberharga itu baginya.” Seulgi terdiam. “Pikirkanlah lagi. Kau benar mencintai atau hanya kau menyukai kenyamanan sahabat yang selalu memperhatikanmu. Pikirkan baik – baik. Saat menemukan jawabannya, kau harus melakukan apa yang memang harus kau lakukan.” Seulgi diam sambil menunduk. Ucapan pria itu menghentak masuk dalam pikirannya.
“Wah, Sudah turun salju?” suara pria itu memecah lamunan Seulgi. Dia mendongak. 

Dan benar yang dikatakan pria itu. Butiran – butiran putih itu turun dari langit gelap. Pantas udara begitu dingin.
Ini adalah salju pertama tahun ini. Seulgi mengangsurkan tangannya untuk menangkap butiran putih itu. 
“Sepertinya kau sudah lebih baik. Aku harus pergi. Sampai Jumpa.” pria itu berlalu pergi meninggalkan Seulgi yang menatap punggung pria itu yang menghilang diantara lalu lalang pejalan kaki.
Dan Seulgi menyadari satu hal. Dia lupa bertanya siapa nama pria itu.

Seulgi menatap sepasang pria dan wanita yang baru saja menyelesaikan ritual pertunangan. Gadis itu tersenyum saat si pria menatapnya sambil melambai. Meletakkan gelasnya di atas meja, Seulgi mendekat.
“Selamat untuk pertunangan kalian Jongin, Soojung.” kata Seulgi tulus.
“Terima kasih.” Soojung tersenyum.
“Seulgi, maaf.” Jongin bergumam.
Seulgi menatap ke arah Soojung yang mengangguk padanya. Raut wajahnya tidak berubah.
“Tidak apa – apa Jongin. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Ada yang bilang begitu padaku. Aku tidak ingin menyesalinya nanti.”

Jongin menatap Seulgi. 
Gadis itu meraih jemari Jongin dan Soojung. “Jangan menyesali apa yang terjadi. Kalian harus bahagia. Dan jangan lupakan aku Jongin. Sahabatmu ini.”
Setelah mengatakan itu, Seulgi pergi dan meninggalkan mereka dengan senyum lega. Seulgi menghampiri teman – temannya yang lain. Tidak mengobrol hanya mendengarkan di pinggir meja.
“Jadi, apakah kau sudah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan nona?”
Seulgi menoleh. Tersenyum mendapati siapa yang ada di sebelahnya.
“Ya.” Katanya sambil mengangguk.
“Mereka serasi sekali.” Seulgi menatap ke arah depan mengikuti pandangan pria itu. 
“Kau benar.” Hening. Seulgi bergelut dalam pikirannya sebelum dia menoleh ke arah pria yang masih asyik menatap ke depan.
“Ngomong – ngomong, namamu siapa? Aku Kang Seulgi.” Seulgi mengangsurkan tangannya ke arah pria itu. 
Pria itu menatap tangan Seulgi lalu menjabat tangan Seulgi dan tersenyum manis.
“Park Jimin.”

Wah aku nggak tahu apa yang aku buat ini. Ide muncul saat bangun tidur tadi. Setelah sahur aku coba ketik. Dan butuh 2 jam-an hingga akhirnya selesai.

Ini adalah FF SeulMin pertama yang akhirnya bisa benar-benar aku selesaikan.

Huhuhuhu…. Dan ini juga FF yang benar2 selesai aku tulis setelah sebelum2nya hilang ide dan feel setelah bertahun2 tak menulis. Gaya bahasanya cukup berbeda dengan gaya tulisku dahulu. 

Iklan

Kabar Terbaru

Halo semua…

Maafkan saya ya. Sudah cukup lama saya hiatus. Karena writer block syndrome saya nggak bisa nulis atau apapun.

Dan sekarang saya kembali

Benar-benar kembali.

Tapi maafkan aku. Karena bukan untuk meneruskan tulisan saya yang acak adul dan belum selesai itu. Sejujurnya saya kehilangan feel buat lanjutin ff-ff itu. Maafkan saya.

Saya masih mencintai Super Junior.

Tapi feel nulisnya malah ke grup lain. Tapi mau bagaimana lagi. Maafkan saya yaaa…

Dan untuk pemanasan, saya akan post dua part sekaligus. FF ini sudah saya post di Wattpad beberapa hari yang lalu.

Dan juga saya ingin mengucapkan 

Selamat tinggal Jonghyun-ie. Jonghyun SHINee. Saya ikut berduka karena dia salah satu vokalist kesukaan saya. Meski bukan bias utama, saya mencintai SHINee selama saya mencintai Super Junior. Sedari awal saya jatuh cinta pada Super Junior saya pun sudah sayang pada SHINee. Maupun DBSK.

Melepasnya dengan cara seperti ini sungguh menyakitkan. Tapi semua sudah terjadi. Dia sudah berusaha sangat keras. Dia sudah melakukan yang terbaik. Jadi mungkin saatnya harus melepasnya dengan ikhlas dan mendoakan kedamaian yang ia inginkan di dunia sana.

Mari kita mencintai dan melindungi idol kita dengan sewajarnya. Jangan menuntut kesempurnaan pada idola kita karena mereka hanyalah manusia biasa yg bisa saja rapuh.

Aku berharap tidak ada lagi Jonghyun Jonghyun lain yang merasa putus asa.

Dan untuk Shawol yang berduka. Kita ada di sini. Kami akan bersamamu. Jadi jangan larut terlalu lama. Dan tolong dukung member lain. Mari buat Jonghyun bahagia di dunia barunya.

Okelah sudah bacotan saya.

Sampai ketemu lagi. Bagi yang masih sudi mampir di sini

Saya Kembali

Hai teman – teman semua yang pernah datang dan mampir ke blog ini.

Apa kabar kalian?

sudah cukup lama saya tidak pernah menyambangi rumah saya ini. Adakah yang kangen pada saya?

Saya hanya ingin memberi kabar saja. Saya tengah mempersiapkan sebuah FF baru untuk membangkitkan mood menulis saya yang bertahun – tahun hilang.

Masih adakah yang merindukan saya?

Halo

Halo selamat sore semua…

 

yang bersedia mampir di blog saya ini.. oh.. ini sudah cukup lama dari terakhir saya posting ff. ah, cukup lama ternyata. karena syndrom WB membuat saya tidak sanggup menulis. hanya diam saja menatap komputer. ah.. sungguh menjengkelkan.

hari ini saya post satu cerita. bukan ff. tetapi cerpen indonesia. semoga saja masih ada yang berkenan membaca. tidak saya edit. saya buat dalam dua jam. saya takut jika menunda akan tidak bisa saya lanjutkan lagi.

akhir kata.

semoga masih tetap ada yang baca ya. hehehehehe

Satu Hari Bersamamu

 

 

 

 

“Ngga, please tolongin gue ya. Lo yang jemput dia.” Kata Eilene pada gadis manis yang tengah meramu secangkir minuman. Gadis manis berambut panjang yang ia kuncir kuda tersebut menatap Eilene sekilas. Dan Eilene memasang wajah memelas yang ia tahu tidak akan pernah bisa membuat Jingga – gadis itu menolak apapun permintaan Eilene.

“Tapi Lene, kalo Opa lo tahu gue bisa dipecat.” Kata Jingga ragu.

“Lo nggak usah khawatir. Opa sedang ada di Palembang dan baru balik besok sore.”

“Lene, kenapa sih lo nggak mau nemuin dia. Dia kan tunangan lo.” Jingga mengalihkan perhatiannya pada Eilene yang memainkan jemari lentiknya.

“Calon Ngga.” Mata indah Eilene melotot pada Jingga yang kini tersenyum ke arahnya. “Gue nggak pernah setuju buat dijodohin ya Ngga. Gue udah kadung cinta mati sama Andri.” Eilene menyebut nama kekasihnya dengan penuh sayang.

Jingga menghela nafas panjang.

Jingga Pelangi. Itu adalah namanya. Selama 18 tahun hidupnya dia tinggal di rumah keluarga Kusuma. Dia tidak mengenal siapa orang tuanya. Dia ditemukan di depan pintu rumah keluarga Kusuma. Yang kemudian dirawat oleh Bi Darsih. Pembantu rumah tangga Keluarga Kusuma yang paling lama dan paling setia mengabdi pada keluarga terpandang tersebut.

Jingga menjadi cucu angkat Bi Darsih. Dan karena seumuran dengan Eilene yang sejak kecil tinggal bersama Opa Kusuma. Membuat Eilene dan Jingga dekat. Mereka bersahabat. Eilene yang selalu membela Jingga saat tidak ada orang yang sudi berteman dengan Jingga. Sementara Eilene yang memiliki sifat keras dan tidak suka diperintah tersebut membuatnya kesulitan memiliki teman.

Opa Kusuma menyekolahkan Jingga di sekolah yang sama dengan Eilene. Agar Eilene tidak semakin liar. Karena hanya Jingga-lah yang sanggup menenangkan sifat keras dan liar Eilene.

“Mungkin karena Andri bukan orang yang cocok buat lo?” kata Jingga ragu.

“Lo yang paling tahu seperti apa Andri itu, Ngga.” Kata ketus Eilene.

“Gue akui Andri emang baik. Dia cowok penyayang dan setia. Tapi…”

“Tapi dia miskin.” Potong Eilene dengan nada membentak. Jingga menghela nafas sabar.

“Nggak gitu Lene. Lo itu cucu perempuan kesayangan Opa Kusuma. Wajar beliau takut lo jatuh ke orang nggak bener. Gue tahu Andri nggak gitu. Tapi beda dengan pemikiran Opa kan? Ditambah dengan sifat lo yang keras itu.” Eilene mendengus. Mengakui kebenaran akan kata – kata Jingga.

“Ah udahlah. Lo mau nggak nemuin tu cowok?” tanya Eilene kembali ke topik pembicaraan.

“Oke. Gue bakal temuin dia.”

“Oh. Selain itu bikin dia ilfil sama Eilene Kusuma. Biar dia nolak pertunangan ini. Lakuin semua hal yang bikin cowok nggak lagi berharap. Ngerti?”

Sekali lagi Jingga menghela nafas panjang.

“Gue nggak tahu Lene. Lo tahu kan gue nggak punya pengalaman deket ama cowok. Jadi mana gue tahu apa yang cowok suka dan cowok nggak suka.”

Eilene nyengir lebar. Kemudian dia tertawa kecil membuat Jingga cemberut.

“Jadilah diri lo sendiri. Lo sama gue itu beda banget Ngga. Dan gue yakin, Opa pasti udah ngasih apa – apa aja tentang diri gue.”

“Ini terakhir kalinya gue nolongin lo. Setelah ini lo harus bisa yakinin ke Opa kalau Andri emang benar – benar baik. Sehingga Opa ngasih restu ke Lo.”

Eilene hanya mengangguk saja.

 

 

==è***ç==

 

 

Bandara Soekarno – Hatta.

Jingga menatap pada pintu kedatangan internasional. Mencoba menemukan pria yang akan ditemuinya ralat yang seharusnya akan ditemui oleh Eilene.

Jingga mendengus, saat Eilene meninggalkannya setelah Jingga turun dari mobil. Eilene bergegas menemui Andri. Jingga juga tidak mengerti kenapa Opa Kusuma tidak menyetujui Eilene berpacaran dengan Andri. Padahal setahu Jingga, Andri cowok yang baik. Mungkin hanya karena Andri bukanlah dari kalangan keluarga berada.

Gerombolan manusia yang keluar dari pintu kedatangan sontak membuat Jingga mengangkat sebuah kertas bertuliskan nama Rasta Giri. Nama pria yang akan ditemuinya. Calon tunangan Eilene yang meluangkan satu hari untuk dekat dengan Eilene. Untuk menghabiskan waktu agar bisa lebih mengenal. Sekaligus bisa memberi kepastian apakah acara pertunangan itu akan berlanjut dalam waktu dekat ataukah ditunda. Yang diharapkan oleh Eilene adalah batal.

Seorang pria muda berjalan mendekat ke arah Jingga. Tubuhnya cukup tinggi. Dan dia salah satu pria paling tampan yang pernah di temui oleh Jingga.

“Eilene?” tanya pria muda berwajah tampan tersebut dengan logat yang unik.

Jingga tergagap. Karena untuk sejenak dia lupa pada perannya saat ini. “Ya. Anda Rasta?” tanya Jingga kaku. Jingga bisa dikatakan jarang berinteraksi dengan orang asing. Terlebih jika dia adalah pria. Mungkin satu – satunya pria yang bisa membuat Jingga santai adalah Andri. Kekasih Eilene yang juga merupakan teman masa kecilnya.

Pria tersebut tersenyum kecil. Memperlihatkan dimple kecil di sudut pipi kirinya. Membuat pria itu semakin tampan.

“Jangan terlalu formal. Bagaimanapun juga kita ini akan menjadi tunangan Eilene.” Cara pria itu mengucapkan nama Eilene membuat setitik rasa aneh muncul di hati Jingga.

“Apakah an er… kamu ingin langsung ke Hotel?” tanya Jingga. Pria itu menelengkan wajahnya.

“Tidak. Aku sudah tidak sabar ingin menghabiskan hari ini bersamamu.” Pria tersebut nampak antusias. Membuat Jingga merasa panik.

“Tapi kamu pasti lelah. Kamu baru saja duduk di pesawat selama berjam – jam.” Kilah Jingga. Kepanikannya semakin meningkat. Entah bagaimana dia merasa hal ini tidak akan berakhir dengan baik.

“Aku tidak lelah. Sungguh. Aku ingin memanfaatkan waktu ini dengan sebaik – baiknya. Bagaimanapun juga besok pagi – pagi sekali aku harus kembali ke London.”

“Oh Baiklah. Jadi, kita akan kemana?” tanya Jingga pasrah.

“Bagaimana dengan makan siang? Oh, aku sungguh lapar.” Jingga menyunggingkan sedikit senyum. Pria ini adalah pria yang baik. Sebersit rasa tidak tega muncul di benaknya.

“Kamu ingin makan apa?” tanya Jingga sambil berjalan keluar bandara. Diikuti pria bernama Rasta tersebut.

“Hmmm… aku sungguh rindu masakan Indonesia. Bagaimana jika kita makan makanan tradisional Indonesia? Gado – gado?” Jingga mengalihkan tatapannya saat Rasta menatapnya dengan mata cokelatnya yang hangat.

“Kenapa gado – gado?” tanya Jingga ingin tahu. Bukankah tadi Rasta bilang kelaparan? Kenapa dia malah memilih gado – gado? Dan keingin tahuan Jingga tidak terjawab karena Rasta memilih mengedikkan bahunya.

“Oh ya Rasta, kita naik taksi aja ya.” Rasta terdiam sebentar.

“Terserah padamu Eilene.” Sekali lagi rasa tidak nyaman tersebut menyergap hati Jingga.

 

 

==è *** ç==

 

jingga dan Rasta sampai di sebuah warung gado – gado. Karena sudah lewat dari jam makan siang, maka warung tersebut tidak terlalu ramai lagi. Hanya ada beberapa pengunjung yang tengah menikmati makanan mereka.

Jingga dan Rasta segera memesan makanan mereka. Dua porsi gado – gado spesial, satu juice jeruk dan satu cangkir kopi hitam.

“Jakarta semakin panas ya.” Kata Rasta membuka pembicaraan. Jingga yang tengah menyuapkan gado – gado sempat terhenti sejenak sebelum melanjutkan suapannya. Mengunyahnya dengan pelan. Menelannya baru menbalas ucapan Rasta.

“Yah, sepertinya seperti inilah Jakarta.” Kata Jingga. Santai. Seperti dirinya yang biasa.

Rasta mengernyitkan keningnya sebelum dirinya kembali santai. Menyeruput kopi hitamnya sambil mata cokelatnya menelisik sosok gadis di depannya. Gadis itu terlihat menikmati makan siangnya yang sederhana.

Sesungguhnya Rasta mengajak makan siang gado – gado ini dengan sengaja. Karena dari penuturan Opa Kusuma, kakek dari Eilene Kusuma, gadis itu akan menolak makan gado – gado di siang hari. Bukan karena gadis itu tidak menyukai makanan tersebut. Hanya saja dia tidak menyukai tempat gado – gado tersebut di jual. Ya, kebanyakan gado – gado dijual di warung – warung pinggir jalan.

Tetapi, saat ini Rasta melihat Eilene tidak keberatan sama sekali makan di warung pinggir jalan. Dia santai dan nampak menikmati gado – gado tersebut. Dan itu membuat Rasta penasaran.

Rasta Davian Giri. Pria berusia 25 tahun. Satu – satunya putra keluarga Giri yang akan meneruskan perusahaan keluarga milik klan Giri. Sejak kecil tinggal di London bersama kedua orang tua. Kakak perempuan dan adik perempuannya.

Rasta pada awalnya tidak menyetujui rencana pertunangan ini. Terlebih ketika dia bertemu Opa Kusuma dan Opa Kusuma membeberkan seperti apa sosok Eilene. Itu membuat Rasta merasa berkeberatan untuk menikah dengan Eilene yang memiliki sifat keras, liar dan pemberontak.

Tetapi, di depannya ini gadis itu seolah terbalik 180 derajat. Dia seorang gadis yang santai. Dan tenang. Dan terlebih tidak banyak tuntutan. Gadis ini tidak secantik apa yang ada dibayangannya. Tetapi, dia memiliki pesonanya sendiri. Gadis ini, cukup menakutkan sekaligus membuatnya penasaran.

Gadis ini mengucapkan apa yang ingin diucapkan. Tidak peduli akan terdengar aneh atau tidak. Tapi di satu waktu dia adalah sosok yang sulit di baca apa yang ada di dalam benak gadis ini.

Rasta meminta satu hari penuh untuk mengenal Eilene adalah untuk membuktikan bahwa Eilene bukanlah sosok yang tepat untuknya. Tetapi, saat ini dia menjadi penasaran.

“Setelah ini, kita akan kemana?” tanya Rasta membuat gadis di depannya mendongak. Memperlihatkan mata hitam yang berbinar – binar. Membuat Rasta kesulitan menelan ludahnya.

 

 

==è***ç==

 

“Taman Mini Indonesia Indah?” Rasta mengucapkan kata yang tertera dan terlihat di indra penglihatannya dengan heran. Gadis disampingnya mengangguk. Terlihat sangat antusias.

Rasta tidak mengerti. Kenapa? Diantara banyak tempat di Jakarta, kenapa gadis ini memilih TMII? Itu terlalu… kekanak – kanakan bukan?

Rasta dengan linglung mengikuti langkah antusias Jingga. Dan gadis itu semakin bersemangat melihat ramainya suasana TMII. Akhirnya dirinya bisa mengunjungi TMII. Dan Jingga senang saat Rasta pasrah mengikutinya. Tidak protes. Meski dia tahu Rasta heran dengan pilihannya.

Jingga mengajak Rasta ke Desa Seni. Melihat hasil seni tradisional yang dipamerkan di desa tersebut. Melihat antusiasme gadis itu yang alami membuat Rasta tersenyum tulus. Sepertinya Eilene bukanlah gadis yang buruk. Dia unik. Dan membuat Rasta tertarik. Terlebih dengan senyumnya yang manis. Meski kadang sifat kaku gadis itu mengganggunya. Tetapi dia menikmati kebersamaan mereka.

Setelah puas melihat ke Desa Seni. Jingga mengajak Rasta menyewa sepeda untuk mengelilingi taman mini. Mereka bersepeda cukup santai. Mengobrol banyak hal dan juga bercanda. Jingga tidak lagi merasa canggung. Rasta benar – benar pria yang baik. Dan gadis itu tidak tega menipu Rasta lebih lama. Tetapi untunglah setelah ini, mereka tidak akan lagi bertemu.

Dan dia bertekad nanti dia akan minta maaf.

 

 

==è***ç==

 

 

“Ini menyenangkan sekali. Setelah ini kita akan kemana?” tanya Rasta. Hari sudah gelap ketika mereka keluar dari TMII.

“Bagaimana jika kita makan malam? Ini sudah waktunya makan malam.” Kata Jingga sambil melirik jam tangannya.

“Boleh. Di mana kita makan malam?”

“Oh terserah kamu. Ingin makan apa?”

“Nasi goreng? Sepertinya aku ingin nasi goreng.” Sekali lagi Jingga terperangah dengan pemilihan menu makan Rasta.

“Aku tahu di mana nasi goreng yang enak.” Kata Jingga. Dan dia segera menghentikan taksi. Keduanya duduk diam di dalam taksi. Sedikit kelelahan. Karena kegiatan mereka tadi.

Bahkan mereka makan malam dalam diam. Hanya sesekali mereka mengobrol. Tetapi, diam – diam, menyusup rasa tidak rela saat mereka menyadari waktu yang mereka miliki tinggal sedikit.

“Kita masih punya sedikit waktu. Akan kau bawa kemanakah diriku ini?” tanya Rasta setengah bercanda.

“Bagaimana jika kita ke Monas?”

“Monas? Boleh juga.”

Jingga tersenyum. Dan mereka memilih jalan kaki ke Monas. Karena tempat mereka tidaklah jauh. Suasana di Monas sungguh ramai. Mereka memilih sudut yang cukup sepi. Duduk dan menikmati suasana malam kota Jakarta.

“Besok… jam berapa pesawatnya?” tanya Jingga ragu.

“Jam 06.00. aku memilih penerbangan paling pagi. Karena aku harus segera sampai di London. Ada pekerjaan.” Jingga tersenyum sendu.

Pria ini pria yang sibuk. Tapi dia meluangkan waktunya untuk mengenal Eilene. Dan sungguh buruk dirinya karena dirinya menyetujui keinginan Eilene untuk membuat Rasta membatalkan pertunangan mereka.

Seandainya saja, yang dijodohkan dengan Rasta adalah dirinya, bukanlah Eilene.

Seketika Jingga memaki pemikiran buruknya tersebut. Jingga melirik ke arah Rasta yang nampak menikmati suasana di sekitar mereka. Ada degup tak bernama yang membuat Jingga semakin tidak nyaman.

“Rasta.” Panggil Jingga.

“Hmmm?” Rasta menoleh.

“Tidak. Bukan apa – apa.”

Rasta menatap gadis yang menunduk tersebut dengan heran. Tapi kemudian mengangkat bahunya acuh.

“Eilene.” Jingga memejamkan matanya sesaat sebelum memasang senyum di wajahnya. “Aku senang hari ini. Kamu, wanita yang baik. Kamu, jauh dari bayanganku tentang Eilene Kusuma selama ini.”

“Memangnya, selama ini apa yang kamu bayangkan tentang Eilene Kusuma?”

Rasta menatap keramaian di depannya. Tersenyum kecil. “Eilene dalam bayanganku adalah sosok gadis manja. Gadis keras kepala yang selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan. Sifat gadis liar yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Memiliki jiwa pemberontak yang khas dimiliki gadis remaja yang beranjak dewasa.”

Jingga menahan gejolak perasaannya. Ingin berteriak. Memang seperti itulah seorang Eilene.

“Aku bahkan sempat ingin membatalkan pertunangan ini. Itulah sebabnya aku mengajukan permintaan pada Opa Kusuma untuk memberikan waktu satu hari agar aku bisa menghabiskan waktu bersamamu.” Lanjut Rasta. Kemudian pria tampan itu menoleh ke arah gadis yang diam menatapnya dengan pandangan yang tidak ia mengerti apa artinya. “Dan sekarang, rasanya aku tidak ingin membatalkan pertunangan ini. Aku senang. Karena kau, benar – benar seperti yang aku inginkan untuk menjadi pendampingku.”

Suara kesiap terdengar jelas dari bibir Jingga. Dia tidak menyangka hal ini yang terjadi.

“Maaf.” Rasta menatapnya heran. “Kamu pria baik. Aku.. maaf.” Suara Jingga nampak kacau.

“Hey, Eilene ada apa?”

“Tidak. Aku rasa aku harus pulang. Ini sudah malam. Kamu juga harus segera istirahat. Permisi.” Jingga langsung berdiri tanpa menoleh lagi ke arahnya.

Dan rasta hanya mampu menatap punggung kecil Jingga dengan bingung. Tetapi dibiarkannya jingga pergi. Karena dia sudah yakin akan keinginannya. Di ambilnya ponsel miliknya. Mencari sebuah nomor. Dan kemudian mendialnya.

“Halo.. Opa…”

 

 

==è***ç==

 

“Bagaimana bisa Rasta memberitahu Opa, bahwa dia ingin mempercepat pertunangannya. Apa yang terjadi Ngga?”

Jingga menatap hujan dari balik jendela taksi yang ia naiki. Jemarinya menggenggam erat ponsel yang baru saja dia matikan karena tidak ingin mendengar panggilan Eilene yang histeris.

Dia baru saja memberitahukan bahwa Rasta ingin mempercepat pertunangannya dengan Eilene. Dan hal itu membuat ngilu di hatinya. Menyadari bahwa dia tertarik pada Rasta meski mereka hanya menghabiskan waktu satu hari saja bersama.

Seandainya saja dirinya menolak permintaan Eilene. Maka semua ini tidak akan terjadi. Dirinya tidak akan jatuh cinta. Dan disaat bersamaan harus merasakan sakitnya patah hati,

Seandainya saja. Hanya itu yang ada di benak Jingga. Dan dia merasa ini adalah hukuman karena dirinya telah membohongi Rasta.

Dia hanya harus mempersiapkan hatinya. Memadamkan rasa cinta yang tumbuh begitu saja. Sebelum, semuanya terlanjur.

 

 

END.

 

 

 

Halooooo saya kembali. Tetapi bukan dengan fanfic ya. Ini hanyalah cerpen biasa.

Cerpen dengan tokoh khayalan yang benar  – benar khayalan. Ini cerita hasil remake dari FF saya yang berjudul one day with you. Saya ubah, saya sesuaikan dengan kondisi cerita ini yang khas indonesia sekali. Tetapi inti ceritanya masih sama.

Bagaimana? semoga ada yang membaca ya.

Bisa minta kritik saran teman???

 

jika ada yang berminat agar FF2 saya dilanjut bisa silahkan komen ya.. mau dilanjut yang mana ffnya?

Living In Your Eyes Part 3

10346642_712770845451848_6121237324225626438_n

 

Tittle : Living in Your Eyes – Sequel of Silent Love
Author : Frey
Main Cast : Park Yoochun JYJ, Shin Raena OC, Yoo Ah In Actor
Cameo : Shim Miyoung OC, Shin Jaehee OC, Kim Heeni OC, Park Eunsoo OC, Shim Changmin DBSK, Song Joongki Actor
Genre : Romance, Hurt ==== Mungkin
Rated : T
Word : 1555
Part : 3
Warning : Typo(s), Alur Ga jelas, bahasa acak adul n tidak sesuai eyd. Judul ga nyambung.
Disclaimer : FF ini asli punyaku. Hanya pinjem nama. Semoga yang punya nama ga keberatan namanya aku caplok n aku gunakan untuk ini FF.
Summary : Ketika cinta lamamu hadir kembali di saat kau sudah bersama orang lain. apa yang akan kau lakukan?
Author’s Note : ini adalah FF Sequel dari drable Silent Love. Sesuai permintaan my cousin @Yolanda. Ini sequelnya. Sesuai yang kamu harepin yak.. tapi maaf ga sama Heechul. Heechulnya kan lagi seneng2 sama istri Virtualnya. Oh ya, kalimat pembuka itu (yg bahasa inggris) aku ambil dari lirik lagunya L’Arc En Ciel yang Hitomi No Jyuunin yang artinya aku gunakan sebagai judul ini FF

Tinggalkan Review jika bersedia. Terima kasih.

I want to be by your side forever, gazing at your smile

 

 

Suaraalunan music berbaurdengansuarapercakapanterdengarsamar – samardaritempatdi manadua orang tersebutberada. Balkongedung di manaacarareuniitudiadakan.Dua orang yang terlihatdiammenikmatisuasanamalam di tambahsegelassampanyepadatanganmerekamasing – masing.
“Apakabarmu?” suasanasepiituterpecahkanolehsuara husky yang sangat familiar bagiRaena.Meskitelah lama suaraitutidakterdengarolehkeduatelinganya.
“Baik.Sunbaesendiri?”
“Akujugabaik.”Kata Yoochunsambilterkekehkecil.“Raena-ya, tidakbisakahkauberhentimemanggilkuSunbae?Kita sudah lulus.”Raenatersenyumkecil.
“Laluakuharusmemanggilmuapa?”
“Oppa?”
“Oppa?Tidakmau.Ituterlaluakrab.Sementarakitatidakseakrabitu.”SekalilagiYoochunterkekeh.
“Baiklahterserahpadamu.AsaljanganmemanggilkuSunbaesaja.”
Raenamengangguk.Dan kemudiankembaliheningmendominasikeadaanmereka.Suasanamalam di Jejuinientahkenapaterlihatsyahdu.
“Selamaini…. S- Yoochun-ssikemana?” suararaguRaenamenariklamunanYoochun.
“Aku?Akupergike London.Akumendapatbeasiswakesana. Ah, kautahukekasihsahabatmu?”
“Hum? Shim Changmin?”
“Ya. Selama dua tahun kami satu asrama. Tapi, karena satu sebab, akhirnya dia pindah kuliah di Jepang.” Raena tersenyum kecil mendengar penjelasan dari Yoochun. Setahunya, Changmin memang pernah tinggal di Inggris. Tidak menyangka sekali bahwa dia pernah menjadi teman satu asrama dengan Yoochun.
“Kau sendiri bagaimana Raena-ya?” tanya Yoochun.
“Aku… melanjutkan sekolah di Universitas Seoul. Sebelum kemudian bekerja di SJK Corp. Sudah beberapa tahun aku bekerja di sana.”
“SJK Corp? Lalu… kenapa kau datang sendiri? Bukankah kau sudah memiliki pasangan?” raena refleks menatap ke arah cincin yang terpasang di jari manisnya. Dan dengan gerakan perlahan mengepalkan jemarinya untuk menyembunyikan cincin tersebut. Meskipun hal itu tidak berguna. Yoochun sudah melihatnya.
“Dia… tidak bisa datang.” Kata Raena ragu. Senyum samar terukir di bibir Yoochun. Sebelum melakukan hal yang membuat tubuh Raena menegang secara tiba – tiba.
“Apa yang kau lakukan Yoochun-ssi?” tanya Raena sambil meraih jemari Yoochun yang tengah mengusap kepalanya lembut. Jantung Raena berdetak kencang. Saat kemudian Yoochun meraih tangan Raena dan menyisipkan jemarinya di antara sela – sela jari Raena. Membuat Raena mematung karena sikap tidak biasa Yoochun tersebut.
“Bisakah kali ini aku bersikap egois? Untuk sebentar saja?”



Detik berganti menit…
Menit berganti jam…
Jam berganti hari…
Hari berganti minggu…
Minggu berganti bulan…
Dan bulan berganti tahun….
Bahkan diantara waktu – waktu itu, aku tak pernah melepaskan dirimu dari ingatanku…
Kau alasanku untuk tetap berjuang…
Hingga aku seperti ini…
Dan bolehkah jika kali ini aku egois
Untuk sebentar saja, sebagai pembayar segala perjuanganku yang selalu menahanmu dalam pikiran dan kenanganku?
Meski nanti akan ada rasa sakit…
Cukup aku yang merasakannya…
Sekali lagi….



“Kau terlihat menjadi dekat dengan Yoochun Sunbae?” tanya Jaehee saat mereka berada di kamar hotel malam itu. Raena yang tengah membaca novel terlihat terdiam sejenak, sebelum kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. Jaehee yang menatap Raena dari balik cermin segera berbalik untuk kemudian menatap ke arah Raena.
“Rae-ya, ingat kau sudah memiliki Yoo Ah In.” Kata Jaehee tegas.
“Aku tahu.” Kata singkat Raena. Membuat Jaehee sedikit geram. Raena yang sepertinya menyadari sahabatnya itu kesal terhadapnya segera menutup novel dan kemudian menatap lekat ke arah Jaehee. “Apa jika kau sudah memiliki Yoo Ah In Oppa, maka aku tidak boleh dekat dengan Yoochun Sunbae?” tanya Raena. Jaehee menelan ludah susah payah.
“Yoochun sunbae itu seseorang….”
“Seseorang yang menjadi cinta pertamaku?” potong Raena. Dia tersenyum samar. “Jika dia cinta pertamaku, apa itu juga menjadi alasan untukku tidak boleh dekat dengannya? Aku pikir tidak hanya aku saja yang memiliki cinta pertama yang tidak kesampaian. Tapi kenapa aku tidak boleh dekat dengannya?”
“Maksudku… bagaimana perasaanmu?”
Raena menatap pemandangan malam yang terlihat dari jendela yang terbuka. “Perasaanku…. Aku tidak tahu bagaimana menghentikan perasaan ini. Tetapi, aku juga tahu melanjutkan perasaan ini juga tidak boleh. Mungkin, jalan untuk menghentikan ini adalah memulai apa yang ingin kumulai, dan kemudian mengakhirinya. Dengan begitu, perasaan ini akan terhenti.
“Lalu bagaimana jika tidak berhasil?” bisik Jaehee.
‘Maka, biarlah perasaan ini ada dengan sedikit kenangan darinya. Dengan begitu tidak akan membuat diriku sesak.”
Jaehee menatap Raena dengan pandangan yang tidak dapat diterka. “Kau ingin bermain api?”
“hanya ingin merasakan hangatnya api itu. Jika nanti aku terbakar, aku tahu, aku tidak akan menyesal.”
“Kau akan menyakiti perasaan kalian bertiga.”
“Aku yang akan menanggung rasa sakitnya. Sekali lagi.”



Raena mematut dirinya di depan cermin. Dress musimsemi yang ia kenakan nampak pas untuk dirinya. Suara pintu terbuka membuat Raena menoleh.
“Hee-ya, apa aku sudah bagus?” tanya Raena.
“Kau terlihat cantik.” Raena tersenyum. Dan kembali berbalik ke arah cermin. Sementara di belakangnya Jaehee menatap punggung Raena dengan pikiran yang berkecamuk. Dia tidak tahu harus bagaimana menghentikan Raena. Karena dia tahu Raena sangat keras kepala. Dia hanya tidak ingin Raena kembali terpuruk akan perasaan itu.
Hari ini, acaranya adalah berkeliling pulau Jeju. Ini adalah hati terakhir mereka di Jeju. Menikmati keindahan pulau Jeju dirasa menjadi saat yang pas. Toh, hari sebelumnya mereka telah menikmati saat – saat bersama teman – teman mereka.
“Changmin sudah menunggu kita di luar. Ayo kita keluar.” Ajak Jaehee. Raena mengangguk. Kemudian meraih tasnya. Ketika mereka keluar, Raena terpaku pada sosok Yoochun. Yang terlihat memukau dengan penampilan dirinya yang meski dirinya hanya mengenakan pakaian casual.
“Kita akan kemana?” tanya Changmin. Menghentikan Raena dan Yoochun yang saling memandang.
“Aku dengar tidak jauh dari hotel ini ada sebuah bukit yang indah. Dan ada juga sebuah pantai yang dekat dengan bukit tersebut. Bagaimana jika kita ke sana?” tanya Yoochun. Yang di jawab dengan anggukan ketiganya.
Changmin berjalan lebih dulu dengan Jaehee dalam gandengannya. Sementara Raena masih berdiri berhadapan dengan Yoochun.
“Apakah kau tahu, kau sangat cantik Raena-ya.”
“Terima kasih Yoochun-ssi.”
“Hm.. aku pikir kita sudah cukup dekat. Jadi bisakah kau panggil aku Oppa?”
Semburat merah muncul di pipi Raena. Dia terkekeh kecil untuk menutupi rasa hatinya yang berbunga tersebut. Yoochun menaikkan alisnya pertanda menunggu jawaban dari Raena. Raena mengangguk malu – malu. Membuat Yoochun tersenyum lebar.
“Baiklah, kita pergi. Kita tidak bisa membuat kedua pasangan itu menunggu kita terlalu lama bukan?” Yoochun meraih jemari Raena dan menggandengnya menuju ke depan. Di mana Changmin dan Jaehee menunggu keduanya.



Jaehee dan Changmin sudah duduk di atas mobil menunggu Yoochun dan Raena yang belum muncul. Sesekali Changmin mengeluarkan rayuannya untuk kekasih yang sudah lama ia pacari tersebut. Tapi hal itu tidak membuat rona merah di pipi Jaehee. Hanya cubitan di beberapa tubuh kurus Changmin. Tapi dia tahu, hal itu adalah gerak refleks saat Jaehee merasa malu karena dia goda.
Changmin menghentikan rayuannya saat melihat bayangan Yoochun dan Raena yang berjalan mendekat sambil bergandengan tangan. Sikap kaget Changmin tersebut membuat jaehee menoleh untuk melihat apa yang tengah diperhatikan Changmin. Gadis itu menghela nafas panjang.
“Berhentilah menatap mereka seperti itu. Dan juga.. bersikaplah biasa saja Changmin-ah. Seakan kau tidak tahu apapun.”
“Apa maksudmu Jagiya. Mereka…”
“Nanti. Nanti aku akan cerita padamu.” Raut wajah datar Jaehee membuat Changmin mau tidak mau menurutinya.



Mereka menghabiskan seharian itu dengan bermain di pantai. Sebelum akhirnya berpindah di taman bunga yang ada di atas bukit. Bunga – bunga bermekaran dengan indahnya, mengingat saat ini adalah puncak dari musim semi. Menunggu senja di bukit itu akan terbayar dengan keindahan yang akan mereka temukan saat senja menjelang.
Karena itulah mereka mulai berjalan di tengah lautan bunga itu untuk mencari tempat yang pas untuk mereka beristirahat.
Sementara itu beberapa ribu kilometer jauhnya dari Jeju. Tepatnya di Seoul. Dua orang manusia nampak berdiam denganpikiran yang berkecamuk di sebuah café yang terletak di salahsatu mall terkenal di Seoul.
“Kaukemanasajaselamaini?”Tanya sipriakepadawanita yang hanyaberdiamdiri di depannya.Si wanitamenataplekat kea rah sipriadankemudianmengulassenyumkecil.
“Tidakkemana – mana.Oppa, akusenangmelihatmulagi.Tapiakuharussegerapulang.”Wanitaituterlihatterburu– buru.
“Heeni-ya.”Panggilpriaitusambilmenahanlenganwanita yang dipanggilHeenitersebut.Heeniberhentidanmenolehkearahnya.
“Ada apa?”Tanya wanitatersebut.Tetapi, priaituhanyamenahannyadengantatapandalam yang hanyaakanditujukanuntukwanita yang saatiniadadidepannya. Keduanyasalingmenataptanpasepatahkatapunterucap.



“Indah sekali.”GumamRaenasambilmenatapkekejauhan.Langitmulaiberwarnalembayung.Menampilkankeindahan yang ada di tempattersebut.Terlihatsepasanganakmanusiatengahduduk di bawahsebuahpohonsakura yang berbungalebat.Bunga – bungasakura yang berwarna pink tersebutterlihatmemenuhipohonbesartersebut.Dan juga di sekitartempatmerekaduduk.
“Kausenang?”Tanya Yoochun yang duduk di sampingnya.Merekahanyaberdua.EntahkemanaChangmindanJaeheesaatiniberada.
“Iya.Terimakasih.Akusangatsenangsekali.”
“Akujuga.Saying sekalibesokpagikitasudahharuskembalike Seoul.”
“Kaubenar.”
YoochunmeraihjemaritanganRaenadanmenariknya, menggenggamnya, meletakkannya di ataspangkuannya.
“Akuharaphariiniakanmenjadikenanganindahuntukkitaselamanya.”UcapYoochun. RaenamenataplekatmatacokelatYoochun.Sebelumkemudianbibirnyabergerakmembentuksebuahsenyuman.MembalasgenggamanjemariYoochun.
“Lihat.Mataharinyaterbenam.”Raenakembalimenataplekatlangit.Di manamataharimulaibergerakuntukketempatperaduanterakhirnya.Keindahanitumempesonanya.
Cup.
Mata indahRaenaterbelalaksempurna, ketikaadabendabasahmenempel di bibirnya.Menekanbibirnyalembut, diamselamabeberapasaat.MembuatotakRaenalumpuhseketika.Dan sebelumrespondirinyahadir, bendatersebutmulaibergerak.Melumatbibirnya.Dan saatitu, perasaanRaenaterasamembuncah.Mata Raenaperlahanterpejamsebelumkemudiandirinyamembalasciumantersebut.

TBC

#Elapkeringat…
Yaampun, puasa – puasamalahbikinadeganini…. #tunjukatas.Semogaberkenan.

Living In Your Eyes Part 2

 

 10346642_712770845451848_6121237324225626438_n

 

Tittle : Living in Your Eyes – Sequel of Silent Love

Author : Frey

Main Cast : Park Yoochun JYJ, Shin Raena OC, Yoo Ah In Actor

Cameo : Shim Miyoung OC, Shin Jaehee OC, Kim Heeni OC, Park Eunsoo OC, Shim Changmin DBSK,.

Genre : Romance, Hurt ====è Mungkin

Rated : K+

Word : 1552

Warning : Typo(s), Alur Ga jelas, bahasa acak adul n tidak sesuai eyd. Judul ga nyambung.

Disclaimer : FF ini asli punyaku. Hanya pinjem nama. Semoga yang punya nama ga keberatan namanya aku caplok n aku gunakan untuk ini FF.

Summary : Ketika cinta lamamu hadir kembali di saat kau sudah bersama orang lain. apa yang akan kau lakukan?

Author’s Note : ini adalah FF Sequel dari drable Silent Love. Sesuai permintaan my cousin @Yolanda. Ini sequelnya. Sesuai yang kamu harepin yak.. tapi maaf ga sama Heechul. Heechulnya kan lagi seneng2 sama istri Virtualnya. Oh ya, kalimat pembuka itu (yg bahasa inggris) aku ambil dari lirik lagunya L’Arc En Ciel yang Hitomi No Jyuunin yang artinya aku gunakan sebagai judul ini FF

 

Tinggalkan Review jika bersedia. Terima kasih.

 

 

 

I want to be by your side forever, gazing at your smile

 

 

Raena POV

 

“Kau ingin makan apa?” tanya Ah In Oppa padaku setelah kami berada di sebuah restauran. Hari ini kami tengah berkencan. Setelah sekian lama kami jarang bertemu. Memang akhir – akhir ini kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama. Kami sama – sama sibuk.

“Aku seperti biasa saja Oppa.” kataku sambil meletakkan buku menu. Ah In Oppa menyebutkan pesanan kami kepada waitress yang kemudian mencatatnya dan kemudian berlalu meninggalkan meja kami.

“Kau terlihat lelah Oppa. apa pekerjaanmu sangat berat?” tanyaku padanya.

“Tidak begitu. Oh ya, Jagi ada yang ingin aku katakan padamu.”

“Apa itu?” tanyaku sambil menatap wajah tampan tunanganku ini.

“Apa tidak sebaiknya kita tinggal bersama saja? kita sudah bertunangan Jagiya.” Katanya langsung yang membuatku terdiam.

Benar. kami sudah bertunangan. Sudah seharusnya kami tinggal bersama. Hanya saja aku… entah kenapa masih merasa tidak siap untuk tinggal bersamanya.

“Oppa. mianhae. Aku masih belum siap untuk tinggal bersamamu.” Kataku jujur. Ah In Oppa menatapku dalam. Membuatku merasa bersalah. Tapi rasa bersalahku itu tidak cukup kuat untuk merubah inginku. Ah In Oppa menghela nafas panjang,

“Aku mengerti.”

Aku tersenyum. Tanpa mengucapkan apapun lagi.

 

Raena POV End

….

 

Jaehee menatap lekat pada sosok yang tengah berjalan menuju ke toilet. Akhirnya Changmin memutuskan untuk mampir di sebuah restauran karena merasa lapar.

“Jagiya, kenapa kau menatap Yoochun hyung seperti itu? kau tidak menyukainya bukan?” changmin bertanya curiga yang membuat Jaehee menoleh dan melotot sadis padanya.

“Aniyo. aku bukan menyukai dia seperti yang ada dipikiranmu.”

“Aku tidak menyangka kalian dulunya adalah senior junior di sekolah. Dan lebih tidak menyangka lagi kalian bertemu kembali. Itu luar biasa.”

“Aku juga tidak menyangka.” Lirih Jaehee.

“Kau bilang apa?” Changmin yang tidak begitu mendengar apa yang diucapkan Jaehee segera bertanya.

“Aniyo.” jaehee mengulas senyum dan kemudian menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.

Pikirannya berkecamuk.

Ini sudah lewat bertahun – tahun. Dan Jaehee sangat tahu bahwa sahabatnya itu masih belum bisa melupakan sosok itu. tetapi ketika akhirnya dirinya bisa beranjak, kenapa dia harus hadir?

Apa sebenarnya rencana-Mu Tuhan?

 

 

Yoochun menatap tampilan dirinya di kaca wastafel di toilet tersebut. setelah terdiam cukup lama, senyum miris terukir di bibirnya.

“Tidak apa – apa.” gumamnya entah apa maksudnya.

 

 

Tidak pernah ada yang tahu seperti apa permainan takdir itu. manusia hanya bisa menjalaninya saja. Tetapi meski begitu seorang manusia wajib untuk berusaha agar takdir yang diterimanya tidaklah terlalu buruk untuk ia rasakan.

Manusia bisa berencana. Tuhanlah Sang Penentu Akhir. itu bukanlah sekedar kalimat, karena pada kenyataannya hal itulah yang terbukti.

Entah mudah. Entah sulit. Pada kenyataannya cinta akan bermuara pada satu hal. Bahagia. Karena memang takdir itu mengatakan sang pencinta akan selalu menemukan kebahagiaannya dengan berbagai jalan.

 

 

Raena tengah menghadiri acara keluarga Yoo. Di mana dia hadir untuk mendampingi Ah In. Sedari tadi dia sedikit tidak nyaman. Bukan karena penolakan keluarga Yoo. Keluarga Yoo sangat menerima baik dirinya. Hanya saja dirinya tidak terbiasa untuk berada di keramaian.

“Kau nampak gelisah Jagi.” Tanya Ah In sambil mengulurkan segelas minuman ke arah Raena yang langsung disambut wanita tersebut.

“Tidak apa – apa. hanya sedikit tidak nyaman. Oppa tahu sendiri aku tidak menyukai suasana ramai.” Ah In menepuk lembut pucuk kepala Raena.

“Kau harus mulai membiasakan diri. Kau tahu sendiri bagaimana Eomma menyukai keramaian seperti ini. dia sering mengundang keluarga besar untuk sekedar makan bersama.” Raena menghela nafas panjang. Sebelum dia tersenyum.

“Aku akan mencoba.”

“Bagus.”

Setelah itu mereka kembali terlarut pada pembicaraan tanpa alur. Yang membuat Raena bersyukur. Karena Ah In seorang pria dewasa yang pengertian. Dia menemani Raena. Agar dirinya merasa sedikit nyaman.

 

 

Raena menatap pada undangan berwarna merah bata. Undangan reuni sekolahnya. Yang akan diadakan di Pulau Jeju dan mengharuskan mereka menginap selama dua malam di Jeju. Ketika Raena bertanya kepada salah seorang panitia yang merupakan temannya, dia menjawab karena akan banyak alumni yang datang dan karena sudah lama tidak bertemu. Waktu satu hari akan sangat kurang. Maka diputuskan untuk berada di sana selama dua hari dua malam. Pagi sekali di hari ketiga mereka akan kembali dari Jeju.

Raena tidak ingin datang ke acara reuni itu. tapi, Jaehee memaksanya untuk ikut. Mau tidak mau akhirnya dia ikut juga.

“Aku minta maaf Jagi. Acara itu bersamaan dengan tugasku ke Busan. Aku tidak bisa pergi bersamamu. Tidak apa jika kau berangkat sendiri bukan?”

“Tidak apa Oppa. semoga tugasmu berjalan dengan baik.”

“Terima kasih. Kau juga bersenang – senanglah. Kau pergi bersama Jaehee dan kekasihnya bukan?”

“Ne.”

“Aku akan sering – sering menghubungimu.”

“Ne Oppa.”

Menghela nafas panjang, Raena meletakkan undangan tersebut di atas meja riasnya dan kemudian dirinya membuka laci teratas di meja rias tersebut. Mengambil sebuah kotak kecil dan membukanya. Kancing atas seragam. Ku raba kancing tersebut dengan pikiran berkecamuk.

Gerakan Raena terhenti saat matanya menemukan cincin yang terpasang di jemari tangan kirinya. Menatap cincin dan kancing tersebut bergantian, sebelum kembali menghela nafas dan menutup kotak kecil tersebut. memasukkan ke dalam laci kembali.

“Masa lalu, tidak akan pernah kembali. Menyesal-pun akan percuma. Lebih baik aku melupakan semua tentangnya. Dan mulai mencintai Ah In Oppa.” gumam Raena dengan penuh tekad.

 

 

Hari ini adalah hari keberangkatan menuju pulau Jeju di mana reuni tersebut diadakan. Raena dan Jaehee berangkat lebih dulu. karena entah kenapa mendadak Changmin akan datang menyusul. Dan entah karena apa juga, Raena merasa Jaehee bersikap aneh. Tidak banyak bicara seperti biasanya. Ketika Raena menanyakannya, Jaehee hanya mengatakan dia sedikit kelelahan. Raena hanya tersenyum maklum, meski tidak sepenuhnya percaya.

Mereka akan berangkat bersama beberapa teman lama mereka yang kebetulan membuat janji untuk berangkat bersama. Bersama – sama naik bis dari Seoul.

“Bukankah reuni kali ini dihadiri dari berbagai tingkat alumni?” suara cempreng teman yang bernama Han Minri yang duduk di belakang Raena dan Jaehee terdengar.

“Benar. memangnya kenapa?” tanya teman Minri yang Raena lupa namanya.

“Itu berarti Yoochun sunbae akan hadir bukan?” raena merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat. Jemarinya saling meremas di balik tas tangan yang ia letakkan di atas pangkuannya.

“Itu benar sekali. apa kabarnya dia?” tanya heboh.

“Molla. Setelah kelulusan dia seperti menghilang saja. tidak ada kabar beritanya.”

“Mungkin dia sudah menikah dengan kekasihnya itu, siapa namanya? Song Minji?”

“Bukannya mereka sudah putus sebelum kelulusan?”

“Jeongmal?”

“Kau tidak tahu?”

“Aniyo.”

“Ku dengar Minji Sunbae yang memutuskan Yoochun Sunbae. Lagipula Minji Sunbae itu juga senior di kampusku dulu. dan dia berpacaran dengan orang lain. dari kabar yang kudengar dia kekasih Minji Sunbae sebelum dia berpacaran dengan Yoochun sunbae.”

“Kasihan sekali Yoochun Sunbae.”

“….”

“….”

Raena memejamkan matanya. Kilasan wajah pria cinta pertamanya kini muncul memenuhi otaknya. Sesak rindu ini kembali menghampiri hatinya. Meski Raena tekan kuat – kuat. rindu ini tetap saja muncul hanya karena mendengar namanya di sebut.

“Rae-ya, kau belum bercerita padaku tentang rencana pernikahanmu. Terakhir kau bilang, kau dan Ah In Oppa tengah merencanakan pernikahan.” suara Jaehee menyentakkan lamunan Raena.

“Eh? Oh, ya begitulah.” Jawab Raena enggan. Jaehee menyipitkan matanya. membuat Raena menghela nafas panjang.

“Kami tengah membicarakan konsep pernikahan yang kami inginkan. Juga tengah mencari beberapa informasi. Tapi karena baik aku maupun Ah In Oppa masih sibuk jadi kami belum membicarakan lebih lanjut.”

“Kau dan Ah In Oppa sudah cukup lama. kenapa harus menundanya?”

“Aku tidak menunda Hee-ya. hanya saja belum ada waktu untuk membicarakannya.”

“Seharusnya kau bisa lebih mempriotaskan masalah ini. jangan terlalu lama menunda pernikahan kalian.” raena menatap Jaehee tidak mengerti.

“Kenapa kau bicara seperti itu.”

“Tidak apa – apa. hanya saja….” jaehee terlihat terdiam cukup lama. sebelum bergumam yang hanya mampu di dengar oleh Raena.

“Jika kau menunda dan orang di masa lalumu hadir, kau pasti akan goyah. Jika kau goyah, bagaimana dengan Ah In Oppa dan dirimu sendiri yang telah susah payah memulai hubungan dengan Ah In Oppa.”

Raena terdiam mendengar gumaman Jaehee. Hal itu membuat Jaehee merasa bersalah. Karena dia tahu Raena memang masih memiliki perasaan untuk Yoochun. Tapi, akan tidak adil jika hanya karena kehadiran pria itu akan membuat goyah perasaan Raena. Sementara pria itu tidak memiliki satu kepastian. Membalas perasaan Raena atau tidak. Pria itu terlalu banyak memiliki rahasia yang tidak dapat di tebak.

“Yoochun sunbae, mungkin sudah bahagia dengan istrinya.”

“Jika dia belum menikah.”

“Apa Yoochun sunbae memiliki perasaan yang sama denganku? Kau sendiri tahu, Yoochun Sunbae tidak pernah menatapku Hee-ya.” kata Raena lembut.

“Dia memberimu kancing atas seragamnya.”

“Aku bahkan tidak mengerti arti dari hal itu Hee-ya. dia tidak mengatakan apapun. Lalu, aku harus bagaimana? Kau takut aku tidak akan bersikap adil pada Ah In Oppa jika Yoochun sunbae kembali? Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin sekali Yoochun sunbae tidak pernah memiliki sedikit perasaan lebih kepadaku selain senior dan junior dan aku juga sudah menerima lamaran Ah In Oppa. jadi kemungkinan untuk aku bersama Yoochun sunbae sangatlah kecil.”

Jaehee ingin berbicara. Tetapi Raena memberikan isyarat dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Jaehee kini mengalihkan pandangannya ke depan.

Bagaimana jika ternyata dirinya memiliki perasaan yang sama padamu???

 

 

 

Hati, siapa yang akan tahu isi hati seseorang selain dirinya sendiri? Sepintar apapun dirimu menebak seseorang, kau tidak akan pernah bisa mengetahui isi hati dari orang tersebut.

 

 

Raena terdiam kaku mendapati sosok yang berdiri di depannya. Tersenyum hangat. Dalam balutan pakaian kasual yang membungkus tubuh indahnya. Mereka hanya berjarak beberapa langkah, sehingga Raena bisa melihat bagaimana mata cokelat indah itu memantulkan sosoknya di bola mata tersebut. hal yang Raena yakini juga sama. dia tahu bahwa di bola matanya akan terpantul sosok tersebut.

“Sun…bae…”

 

 

 

 

Errr… atau TBC? Pilih aja dech.. kkkkk