^^ Dracula Part 4 ^^

 

 Tittle : Dracula _HaeMin Couple_

Author : Frey (dibantu NTa, Nana, Hyochan, Aulia n Nova)

Lenght : Chaptered ( 4 of ?)

Cast : Lee Donghae

Min Ribyul

Other Cast

Genre : Fantasy, Romance, horor (?)

Rated : -

Warning : Gaje, aneh, typo. Part ini tidak ada NC.nya sama sekalo\i

Summary : Mereka makhluk kegelapan yang mengincarmu, para manusia *summary macam apa ini coba?*

Diclaimer : Cast Punya Tuhan, tetapi Fic ini asli punyaku. terinspirasi dari FFnya Nta…

okeh, ini aku nggak tahu sepertinya benar2 akan mengecewakan, tapi aku harap tetap RCL ya… dan mian updatenya lama soalnya ada banyak kendala. kesibukanku (lagi2), n modem yang ilang. *mewek*, part ini sepertinya kacau sekali. jadi aku mohon berikan saran dan kritik kalian.

Oke Happy Reading ^^V

“Minri-ya, kau harus pergi. Bersembunyilah. Jangan sampai mereka menemukanmu.” Ucap Eomma pada Minri kecil.

“Tapi Eomma…”

“Cepat. Bersembunyilah.” Dorong Eomma.

Minri kecil hanya bisa menuruti perintah eommanya. Dia segera bersembunyi di tempat pertama yang dia lihat dan dia rasa aman. Di dalam lemari besar di kamar orang tuanya.

Mata kecilnya mengintip dari lubang kecil di lemari itu. Dia melihat seorang namja tengah memeluk eommanya. Oh tidak memeluk. Lebih tepatnya mencengkeram bahu eommanya.

Minri kecil terbelalak ketakutan saat dia melihat namja itu menghujamkan taring tajamnya ke leher eommanya. Minri meredam teriakan takutnya dengan boneka yang dia bawa.

Lelehan air mata membuat pandangannya sedikit kabur. Tetapi dia bisa melihat tubuh eommanya merosot kebawah. Lemas. Dan tak bernyawa.

Namja itu menjilat lelehan darah yang ada disekitar bibirnya. Mata merahnya menjelajahi sekitar kamar. Karena dia membaui aroma manusia hidup.

Minri ketakutan saat dia bisa melihat namja mengerikan itu mendekat ke arahnya. Sekali sentakan pintu lemari terbuka. Memperlihatkan Minri yang meringkuk ketakutan.

Namja itu menyeringai.

“Di sini rupanya kau bersembunyi aghassi?”

Namja itu menjulurkan tangan kanannya untuk menarik Minri. Minri semakin ketakutan. Dia menggenggam sebuah kalung salib perak pemberian eommanya kemarin. Karena ketakutan dia menarik kalungnya. Menekan bagian salib yang runcing ke tangan namja itu.

“Akh…” namja itu merasakan sesuatu yang pedih di tangannya. Dia menariknya begitu saja. asap tipis keluar dari tangannya yang tergenggam.

Minri kecil tidak menyia – nyiakan kesempatan untuk berlari. Secepat kilat dia berlari menjauhi kamar tempat eommanya meregang nyawa. Di sekitar rumahnya dia melihat appa, haraboji dan halmoninya juga beberapa maid tergeletak tak bernyawa.

Tangis semakin deras menemani Minri untuk berlari dari namja mengerikan itu.

Namja itu, Lee Donghae salah satu drakula yang membantai keluarga Min melihat tangannya yang panas dan pedih mulai terlihat luka gores berbentuk petir.

“Perak. Sialan. Aku harus mendapatkan gadis cilik itu.” Ucapnya emosi. Hentakan kakinya membuat dia melayang. Mencari keberadaan korbannya yang masih kecil.

Hidungnya membaui wangi darah yang dihafalnya. Tak lama mata tajamnya melihat ke arah yeoja kecil yang berlari ketakutan. Tangan kirinya menggenggam erat boneka kecilnya.

Seringaian muncul di wajah Donghae. Dia segera terbang rendah dan menghadang Minri. Minri terpekik ketakutan.

“Mau berlari?” minri mundur perlahan. Namja itu semakin mendekat. Senyum kemenangan terukir di bibir tipisnya yang pucat.

“Pergi kau. Pergi.” Ucap Minri.

“Hm,” donghae melirik ke arah karung salib perak yang terjuntai dalam genggaman Minri kecil. “Minri-ssi, saat ini kau masih kecil. Tapi nanti, aku pasti akan segera menemukanmu. Saat itu kau tak akan lari. Dan aku akan bisa menikmati darahmu. Kau milikku. Darahmu milikku.” Ucapnya sebelum pergi.

Minri mematung.

Bingung.

Kenapa namja itu membiarkannya lepas?

Tetapi dia tidak bisa berpikir terlalu lama. Ketakutan dan kelelahan membuatnya pingsan begitu saja.

Minri terjatuh dalam kegelapan. Dengan masih menggenggam kalung salib itu.

@@@@@

Minri mengusap kalung perak berbandul salib yang selalu dia kenakan itu. Begitu dia dia terbangun di pagi hari.

Mimpi buruknya di masa lalu itu hadir lagi semalam. Ini adalah ketiga kalinya dia bermimpi tentang masa itu. Setelah pertemuanya dengan Donghae sebulan lalu.

Bayangan namja itu muncul lagi. membuat Minri kesal. Dia melempar sebuah buku yang ada di meja nakas di samping ranjangnya.

“Eomma…” bisiknya lirih. Hidupnya sudah damai. Kenapa namja itu muncul lagi. dia ingin melupakan masa lalu itu. Tetapi dia, dengan seenaknya hadir.

Minri ketakutan. Itu sudah pasti.

Bagaimanapun juga namja ini adalah seorang siluman penghisap darah. Mungkin kemarin dia selamat, karena Minri pingsan sesaat setelah dia merasakan sentuhan dingin taring runcing di lehernya.

Tetapi siapa yang bisa menjamin keselamatannya yang akan datang? Minri melihat lehernya. Ada dua titik seperti bekas gigitan. Tidak terlihat jelas. Karena memang hanya samar.

“Eomma, Minhyo…” minri menyebut nama keduanya. “Haruskah aku membiarkan diriku mati di tangan makhluk itu? Dia yang telah membunuh eomma dan Minhyo. Tak akan kubiarkan dia membunuhku dengan mudah.” Tekad Minri.

Dendamnya membuat diri Minri berani.

@@@@@

Dering ponsel minri terdengar nyaring jam 2 siang ini. dengan malas dia mengangkatnya. Hyun Ajhumma, orang yang selama ini merawatnya.

“Yobuseyo ajhumma? Ne.. melukis? Ah ne arraseo.” Jawab Minri.

Dia merapikan alat lukisnya.

Masih ada banyak waktu sebelum dia mulai kuliah nanti malam.

Dengan mengendarai bis, dia menuju ke rumah Hyun ajhumma. Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah lamanya.

Hyun ajhumma adalah tetangganya dulu yang menemukan Minri tergeletak pingsan di jalanan. Dia sangat iba mengetahui apa yang terjadi pada keluarga Min. Kebetulan Hyun ajhumma tidak memiliki anak.

Dengan telaten Hyun ajhumma merawat Minri yang sebatang kara. Menyayanginya seperti anaknya sendiri. Karena itu Minri sangat menyayangi Hyun ajhumma.

Tak lama kemudian Minri sampai di rumah Hyun Ajhumma yang nampaknya sudah menantinya. Karena begitu bel berbunyi sekali, Hyun ajhumma langsung membukanya.

“Annyeong haseyo ajhumma.” Ucap Minri.

“Minri-ya, kau sudah datang. Ayo masuk. Ajhumma sudah memasakkan makanan kesukaanmu.”

“Gomawo ajhumma.”

Minri masuk ke dalam rumah besar itu.

“Ajhumma, siapa yang meminta dilukis?” Tanya Minri.

“Ajhumma tidak tahu. Semalam orang itu datang ke rumah dan meminta agar kau melukis untuknya. Kau disuruh datang ke alamat ini.” Hyun ajhumma menyerahkan secarik kertas.

Minri menerimanya. Dibacanya baik – baik alamat itu.

“Ajhumma, aku berangkat sekarang saja ne?”

“Kau tak makan dulu?”

“Nanti saja. Agar aku cepat bertemu dengan orang itu.”

“Ne Ajhumma.”

Minri menuju ke alamat yang diketahuinya dengan pasti.

Sebuah gereja tua di atas bukit. Gereja yang agak jauh dari keberadaan manusia.

“Siapa orang yang menyuruhku melukis? Kenapa dia menyuruhku menemuinya di gereja tua? Itu aneh sekali.” Gumam Minri.

Setelah 30 menit berjalan, Minri sampai juga di depan gereja tua itu. Sedikit menyeramkan, namun juga indah. Dengan ragu Minri membuka pintu kayu besar itu.

Gelap.

Tirai – tirai gelap menutupi ruang gereja dari cahaya matahari.

Suara langkah Minri bergema di dalam gereja itu. Sepi. Kosong. Sunyi. Tapi menenangkan hati Minri.

“Sudah datang rupanya.” Sebuah suara seorang namja tiba – tiba masuk dalam indra pendengaran Minri. Yeoja itu berhenti dan menoleh.

Minri harus memicingkan matanya untuk melihat jelas siapa yang berbicara.

Seorang namja yang tengah duduk di sebuah bangku yang menghadap altar. Minri bingung, kenapa dia tidak mengetahui keberadaan namja itu.

“Kenapa melamun?”

Minri tersentak kaget, saat namja itu berada tepat di depannya.

Sejak kapan?

“K-Kau?” mata Minri melotot mengetahui siapa yang ada didepannya. Lee Donghae. Namja siluman yang sangat dibenci Minri.

Donghae menyeringai.

“Senang bertemu lagi denganmu Minri-ya.” Ucapnya.

Minri tidak menjawab. Dia bergegas pergi berniat meninggalkan gereja. Tetapi lengannya dicekal Donghae. Ditepisnya tangan Donghae. Donghae tak kehilangan akal, dia menarik pinggang Minri, mendekapnya, memastikan Minri tidak bisa lolos.

“Lepaskan tangan kotormu, Siluman.” Desis Minri.

Mata Donghae berkilat. Marah mungkin. Tetapi kemudian berubah lagi menjadi coklat gelap.

“Sayang sekali, aku tidak bisa melepaskanmu. Hm….” Minri memberontak, saat Donghae mulai mengendus lehernya.

Tidak.

Ini tidak boleh terjadi. Dia tidak akan menyerahkan darahnya begitu saja.

Ditendangnya kaki Donghae. Hingga Donghae melepaskan dekapannya. Minri berlari meninggalkan gereja.

“Kau pergi dari sini, maka wanita tua yang merawatmu akan tamat riwayatnya.” Langkah MInri terhenti.

Hyun ajumma.

Tidak. Dia tidak boleh kehilangan orang yang disayanginya sekali lagi.

“Apa yang kau mau?” Tanya Minri tanpa berbalik.

“Mudah saja. Tetap di sini, lalu mulailah melukisku.”

Minri mengerjapkan mata. Bingung.

Dia berbalik dan menatap Donghae. “Melukis?” tanyanya memastikan.

“Ne, kau ke sini khan untuk melukisku?”

“Kau tidak akan membunuhku?”

Donghae menyeringai. “Tidak. Untuk saat ini. Tetapi entahlah nanti. Karena, kau itu milikku.”

“Untuk apa kau minta dilukis.”

“Lakukan saja.” Tekan Donghae.

“Baiklah. Tetapi kau jangan mengganggu Hyun ajhumma lagi.”

“Selama kau menurut padaku, aku janji tidak akan menyentuhnya. Jadi bagaimana? Kau melukisku?”

“Baiklah.”

“Kapan kita mulainya?”

“Lebih cepat lebih baik.”

Donghae berbalik. Mata merahnya sekali lagi berkilat.

“Ikuti aku.”

Minri mengikuti Donghae menuju ke sebuah ruangan lebih dalam di gereja ini. Minri baru sekali ini masuk ke dalam gereja yang letaknya sesungguhnya tidaklah jauh dari rumah Minri.

Donghae membuka sebuah pintu. Minri melihat sebuah ruangan yang bisa dikatakan kamar yang cukup indah. Meski, tentu saja gelap. Hanya ada lilin kecil yang menerangi kamar ini. Sehingga suasananya benar – benar gelap.

Minri mengatur kanvas dan alat – alat lukisnya. Dia berniat untuk membuka tirai yang menutupi ruangan itu.

“Jangan dibuka.” Sentak Donghae.

“Wae?” Tanya Minri polos.

“Aku tidak tahan cahaya matahari.”

Minri mengangguk. Entah kenapa dia mengurungkan niatnya untuk membuka tirai gelap itu. Padahal dia bisa saja mengabaikan larangan Donghae.

“Kau ingin dilukis seperti apa?” Tanya Minri.

“Terserah kau saja.”

Minri menatap lekat kea rah Donghae. Lalu dia melihat sekelilingnya. Seandainya ada sedikit lagi cahaya, maka dia pasti bisa menemukan tema yang cocok. Tetapi ini sangat gelap. Satu lilin tidak cukup menerangi kamar luas ini.

Tring.

Minri Kaget melihat beberapa lilin menyala. Setidaknya cukup menerangi ruangan ini.

“Bagaimana bisa?” gumamnya. Diliriknya Donghae. Namja itu duduk di atas sofa dengan nyamannya. Dia memegang sebuah gelas berisi minuman berwarna merah pekat.

Minri mendekati Donghae.

“Kau ingin dilukis seperti apa Donghae-ssi?” ulang Minri. Donghae melirik MInri sekilas.

“Sudah kubilang, terserah kau saja.”

“Aku tidak menerima jawaban macam itu.” Ucap Minri. Suaranya menjadi ketus.

Donghae meletakkan gelasnya.

“Bagaimana jika kau melukisku seseksi mungkin?” bisik Donghae. Minri berjengit merasakan dirinya merinding.

“Hm, berposelah kalau begitu.” Minri berbalik menuju ke kursi yang akan didudukinya.

Sedangkan Donghae mulai membuka jubah hitamnya, membuka kancing kemeja hitamnya, memperlihatkan tubuh atasnya yang cukup mengagumkan itu. Dia duduk setengah terbaring di atas sofa.

Minri melihat pose Donghae dan merasa ada yang kurang. Dia kembali mendekati Donghae. Mengacak rambut Donghae hingga berantakan.

“Ini lebih pas.” Ucapnya.

Tak lama ruangan itu menjadi sunyi. Hanya terdengar goresan pensil di atas kanvas. Donghae menatap wajah serius Minri.

Senyum licik tersungging di wajah tampannya.

@@@@@

“Kenapa kau tidak membunuhnya Hae-ya?” ucap Jungsoo, setelah dia melihat Donghae melepas gadis kecil dari keluarga Min yang telah mereka bantai.

Donghae mengangsurkan telapak tangannya. Jungsoo mengernyit. Hidungnya membaui sesuatu yang taka sing.

“Perak?”

“Ne. gadis itu memakai kalung perak sialan.”

Jungsoo mengangguk.

Donghae memang masih lemah. Dia masih rentan dengan perak. Berbeda dengan dirinya dan Heechul yang sudah bisa menetralisir perak, hingga tidak berarti apa – apa baginya, Donghae masih harus berlatih.

Sedikit saja dia tergores perak, tubuhnya akan terluka. Bekasnya tidak akan pernah hilang selamanya.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan Hae-ya?”

“Setelah aku bisa mengendalikan perak itu hingga tidak bisa melukaiku, aku akan mencarinya. Dia harus bertanggung jawab hyung.”

“Hm, baiklah.”

@@@@@

“Akh, lelah sekali.” Suara Minri membuyarkan lamunan Donghae.

“Sudah berapa lama?”

“Sudah 3 jam. Aku lelah. Lagipula, aku harus segera pulang, kemudian berangkat kuliah.” Minri melihat jam tangannya.

“Besok, kau harus melanjutkan.”

“Ne.”

Minri pun merapikan peralatan melukisnya. Disimpannya di tempat yang kosong. Lalu dia keluar dari kamar Donghae. Berjalan berdampingan dengan Donghae.

Entah bagaimana, rasa bencinya kepada namja yang telah membunuh eommanya seperti hilang begitu saja.

Ssreet..

Minri merasakan sesuatu lewat dibelakangnya. Dan dia merinding karenanya.

“Wae?” Tanya Donghae meyadari Minri berhenti.

“Ani.” Jawab Minri, lalu kembali melangkah.

“Jangan takut. Itu adikku.”

“Adik?”

Donghae mengangguk.

“Kalian keluarlah. Jangan mengganggunya.” Ucap Donghae lantang.

Minri melihat dua ekor kelelawar turun dan berubah menjadi manusia. Satu namja dan satu yeoja. Mereka Nampak cengengesan saat berada di hadapan Minri dan Donghae.

“Minri-ya, ini adik kembarku. Yang namja bernama Henry. Dan yang Yeoja Hyochan. Henry-ya, Hyo-ya, dia Minri. Tamuku.”

Kedua manusia jadi – jadian itu membungkuk.

“Senang bertemu denganmu MInri-ssi.”

Minri hanya membungkuk. Benaknya bertanya – Tanya. Bagaimana bisa gereja ini menjadi tempat bersarangnya para siluman seperti mereka?

“Saudaraku yang lain sedang istirahat,”

“Saudara yang lain? Ada berapa lagi saudaramu Donghae-ssi?” Tanya Minri.

“Hm, kami tinggal 16 bersaudara.”

“16?” pekik Minri.

Hyochan dan Henry terkikik melihat ekspressi kaget Minri.

“Kenapa kaget Minri-ya?”

“Aniya.” Geleng MInri. “Aku harus pulang. Annyeong.”

Tanpa menunggu jawab Minri langsung melesat menuju rumah Hyun ajhumma.

@@@@@

Malam itu, Minri cepat – cepat pulang. Badannya terasa sangat lelah. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat seorang namja yang dikenalnya cukup baik berdiri di hadapannya.

“Iljae-ssi, kenapa kau belum pulang?” Tanya MInri.

“Aku menunggumu.”

“Menungguku? Kenapa?”

“Ada yang ingin kubicarakan padamu.”

“Ne?”

“Joahaeyo.”

“MWo?”

“Min Ribyul, aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Apa kau mau menjadi pacarku?”

Minri kaget sekali. Jujur dia menyukai Hwang Iljae. Itu sebabnya dia hanya bisa membeku waktu Iljae menyatakan suka.

“Iljae-ssi… aku…” minri menatap wajah Iljae. “Aku juga menyukaimu.”

“Jeongmal?” Minri mengangguk. “Kalau begitu kita pacaran ya?” sekali lagi MInri mengangguk.

Iljae mendekat kea rah Minri.

“Tidak semudah itu kau berpacaran dengan Minri.” Ucap seseorang dingin. Iljae dan Minri menoleh ke asal suara.

Donghae.

“Ya! Siapa kau? Aku dan Minri saling menyukai. Kenapa kami tidak boleh berpacaran?”

“Karena Minri adalah milikku.”

“Aniya. Minri bilang dia meyukaiku.” Iljae bersikeras. Sedangkan Donghae mulai emosi. Minri bisa melihat mata Donghae memerah.

“Jangan pernah kau mencoba mendekati Minri, atau kau akan mati.” Bisik DOnghae penuh ancaman.

“COba saja.” Tantang Iljae.

Donghae benar – benar murka. Dia menggerakkan tangannya dan membuat tubuh Iljae seperti tersedot kea rah DOnghae. Donghae sendiri telah berubah. Matanya berwarna merah gelap. Taringnya keluar. Iljae Nampak ketakutan tanpa bisa berteriak.

Sedangkan Minri terpaku. Kilasan masa lalu muncul. Membuatnya tidak mampu bergerak. rasa trauma memenuhi diri MInri.

Donghae menyeringai senang, dia menghujamkan taringnya ke leher korbannya yang sudah tak percaya.

Minri tersentak saat mendengar suara terakhir Iljae sebelum namja itu meregang nyawanya.

“Monster.” Bisik Minri. Yang kemudian berlari keluar dari kampus. Donghae, tentu saja tidak membiarkan Minri kabur. Dia menangkap MInri dan mendekapnya dari belakang.

Minri meronta minta dilepas. Ketakutan. Kemarahan menjadi satu dalam dirinya. Sekali lagi, di depan matanya dia melihat orang yang disayanginya dibunuh oleh namja mengerikan ini.

“Pembunuh. Lepaskan aku.” Teriak MInri.

“Kau itu milikku. Jika kau tidak ingin melihat orang – orang disekelilingmu selamat. Jangan pernah kau membuatku marah Minri-ssi. Karena, kau adalah milikku.”

Minri berhenti meronta. Tubuhnya bergetar karena isakan tangisnya.

“Kenapa kau tidak membunuhku saja?”

“Kau harus bertanggung jawab seumur hidupmu, karena kau telah meninggalkan bekas luka yang tidak mungkin hilang.”

Donghae melepas dekapannya, membiarkan Minri merosot di lantai. Dengan angkuh dia mengusap lelehan darah di bibirnya.

“Ingat Minri-ssi, besok kau harus ke gereja itu lagi. Jika tidak, kau lihat saja apa yang akan kulakukan kepada wanita yang telah merawatmu itu.” Donghae menghilang setelah mengucakan hal itu.

“Akkkkkkkkkhhhhhhhhhh.” Teriak Minri frustasi.

Dia tahu, dia tidak bisa lepas dari siluman bernama Donghae. Karena dia tidak mungkin membiarkan orang – orang disekelilingnya menjadi korban keganasan Donghae.

Minri hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi terhadapnya. Cepat atau lambat dia juga akan mati. Tetapi, dengan bertahan di samping Donghae, paling tidak dia tidak akan melihat Donghae membantai manusia tak bersalah lagi.

Benar.

Dia akan bertahan di samping Donghae. Dan berusaha mencari cara untuk melenyapkan siluman seperti Donghae.

==è NEXT ç==

 

^^ I’m Back ^^

Annyeong…

 

Aku kembali lagi… meski ketika aku menoleh ke sana sini rasanya……….. sepi TT.TT

tetapi berkat ucapan temanku yang memintaku untuk publish FF di blog,,, jadi aku akan kabulkan dahhhh… sementara ini aku akan Re-Post FF2q yang pernah aku post di FB.. dan aku berharap akan ada yang mau baca.. kekekekekekek

 

ya udahlah… aku hanya ingin memberitahu, aku kembali di rumahq ini.. di blog yang pernah aku buat dengan susah payah.. kekekekekek

 

annyeong ^^ 

 

 

Dracula Part 3

 

 

Tittle : Dracula _JungWon Couple_

Author : Frey (dibantu NTa, Nana, Hyochan, Aulia n Nova)

Lenght : Chaptered ( 3 of ?)

Cast : Park Jungsoo

Park Seungwon

Other Cast

Genre : Fantasy, Romance, horor (?)

Rated : NC21 (mungkin)

Warning : Gaje, aneh, typo. dan Couple ini dibagi 2 bagian. ini ada NC. maaf NCnya jelek, karena ini NC pertama aku. jika banyak kesalahan kata atau kurang kerasa (?) mohon dimaklumi ya.

Summary : Mereka makhluk kegelapan yang mengincarmu, para manusia *summary macam apa ini coba?*

Diclaimer : Cast Punya Tuhan, tetapi Fic ini asli punyaku. terinspirasi dari FFnya Nta…

okeh, ini aku nggak tahu sepertinya benar2 akan mengecewakan, tapi aku harap tetap RCL ya… dan mian updatenya lama soalnya ada banyak kendala. kesibukanku (lagi2), n modem yang ilang. *mewek*, part ini sepertinya kacau sekali. jadi aku mohon berikan saran dan kritik kalian.

untuk Ovi Annisa, mian kalo ga memuaskan

 

 

Oke Happy Reading ^^V

 

 

 

Seungwon terbangun dari tidurnya semalam. Entah kenapa dia bermimpi lagi. mimpi yang sama dengan mimpinya sebulan yang lalu. Mimpi saat dia di gereja kampus. mimpi saat dia bertemu dengan namja tampan itu. Mimpi saat dia melihat bagaimana namja tampan itu menghisap darah seseorang. Mimpi saat dimana namja itu juga menggigit lehernya.

Mengingatnya, Seungwon segera meraba leher kirinya.

Dia sesungguhnya masih bingung. Kejadian satu bulan yang lalu nyatakah atau sekedar mimpi. Kenapa saat pagi harinya dia terbangun di kamarnya. Dia lega saat itu karena menganggapnya sekedar mimpi.

Tapi rasa panas di leher kirinya membuat Seungwon terbangun dan segera menuju ke cermin besar. Matanya terbelalak. Dia bisa melihat bekas gigitan. Cukup jelas baginya. Dan itu membuat jantungnya berdetak.

Yang semalam itu  mimpi atau bukan?

Kemudian ponselnya berbunyi. Dan dia mendapat kabar salah seorang temannya ditemukan tewas dengan luka gigit di leher. Darah habis. Dan lebih mengejutkan, temannya itu ditemukan tewas di gereja kampus.

Lalu, apa yang dialaminya itu mimpi atau nyata?

Jika mimpi kenapa sebagian besar mimpinya itu menjadi kenyataan. Jika nyata, bukankah seharusnya dia sudah mati bersama dengan temannya itu. Bagaimanapun juga dia ingat namja itu menghisap darahnya.

Seungwon terkaget dari lamunannya saat mendengar ponselnya berdering.

“Yobuseyo… ne, aku akan ke sana. Hm.. aku akan mandi dulu. ne arraseo.” Seungwon bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap – siap.

Setelah sarapan, Seungwon segera mengambil tas dan kacamata hitamnya. Sejak sebulan lalu dia memang sering menggunakan kacamata hitam jika keluar di siang hari. Entah kenapa, tetapi dia merasa sangat silau saat dibawah sinar matahari.

Tetapi, matanya justru tajam dikegelapan.

Dia mampu melihat dengan jelas meski saat itu gelap gulita.

Perlahan, Seungwon menuju ke sebuah butik. Dia ada janji dengan temannya untuk menemaninya mencari baju pernikahan. temannya memang akan melangsungkan pernikahan.

Lee Jungroo, temannya itu tersenyum saat melihat Seungwon datang. Mereka memang teman kecil yang terus berlanjut hingga dewasa.

“kenapa kau menyuruhku menemanimu Jungroo-ya?” tanya Seungwon.

“Calon suamiku tidak bisa menemaniku. Dia sibuk.”

“Hm…” seungwon hanya mengangguk saja. dia melihat sekeliling. Baju – baju pengantin terlihat indah dimatanya. Tiba – tiba bayangan namja tampan yang ada dimimpinya semalam muncul. Menyeringai.

“Aish.” Umpat Seungwon tiba – tiba.

“Wae?” tanya Jungroo.

“Aniya.”

Seungwon terdiam. Entah kenapa perasaan takut menjalarinya. Entah kenapa, tapi seperti firasat akan sesuatu yang buruk.

@@@@@

Malam itu Seungwon mengakhiri pelajarannya dengan bimbang. Sungguh, hari ini perasaannya benar – benar kacau. Entah ada apa.

Saat Seungwon berjalan menuju koridor kampus dia merasa mendengar suara bisikan yang memanggil namanya. Itu membuat tubuhnya merinding.

“Seungwon-ah…”

Seungwon berhenti sejenak. Dia edarkannya pandangannya ke sekeliling. Dan hasilnya, tidak ada apa – apa.

Tetapi begitu melangkahkan kakinya dia seperti merasakan panggilan itu lagi.

“Siapa itu? Tunjukkan dirimu. Jangan pengecut.” Teriak Seungwon. Emosi.

Hening.

Seungwon berjalan. Berniat mengabaikan suara – suara itu. Hingga dia sampai di depan gereja kampus. Sesuatu menarik hatinya.

Perlahan Seungwon masuk ke dalam gereja kampus itu. Tidak begitu gelap, karena ternyata ada sedikit penerangan meski samar – samar.

Tak tak tak..

Suara hak sepatunya bergema dalam ruangan sunyi itu. Dan langkah Seungwon terhenti saat dia melihat seseorang tengah menghadap altar. Rambutnya berwarna keemasan.

Gadis itu menelan ludah susah payah. Takut menjalari perasaannya. Tapi dia tidak bisa pergi. Seperti ada pemberat batu yang menahan langkahnya.

Perlahan orang itu berbalik.

“K-kau?” gagap Seungwon. Namja itu tersenyum.

“Annyeong… kita bertemu lagi Seungwon-ssi.”

Bertemu? jadi sebulan yang lalu bukanlah mimpi.

Namja itu berjalan ke arahnya. Keringat dingin membasahi tubuh Seungwon.

“Ma-mau apa kau?”

Namja itu menyeringai. Mereka sudah berhadapan sekarang.

“Aku menginginkanmu.”

“Mwo? Apa kau ingin membunuhku? Kau mau menghisap darahku seperti korban – korbanmu yang lain?” Seungwon melupakan rasa takutnya. Amarah membuatnya berani.

“Hm, benar. Aku mengincar darahmu. Karena darahmu berbeda. Kau pasti orang yang terpilih.”

“Orang yang terpilih?”

Namja itu mengangguk.

“Kau bisa melihatku saat itu. Padahal seharusnya kau tak bisa melihatku. lagipula, wangi darahmu itu, benar – benar berbeda.”

Seungwon masih tidak mengerti dengan ucapan namja yang baginya sangat aneh.

“Seungwon-ssi, ayo kita buat perjanjian. Jika kau mau menyerahkan darahmu dan juga dirimu untukku, aku akan menuruti permintaanmu.”

Mata Seungwon membulat. Lalu dia tertawa. Tawa miris.

“Kau menginginkan darah dan diriku. Memenuhi permintaanku? Permintaan yang mana? Sebelum aku mengajukan permintaan itu, aku sudah pasti kau bunuh.”

Namja itu ganti tertawa.

“Tentu saja aku tidak membunuhmu. Kau cukup selalu ada untukku saat aku butuh darahmu. Dan, kau menuruti semua perintahku.”

“Jika aku tidak mau?”

“Tidak masalah bagiku. Aku tinggal mencari orang yang wangi darahnya sama denganmu. Meski tidak sekuat wangi darahmu, tetapi sahabatmu yang bernama Lee Jungroo itu sepertinya bisa membantuku.”

Mata Seungwon membulat.

“Dia akan menikah.”

“Lalu kenapa? Jika darahnya kuhisap habis dia tidak akan menikah.”

“Dasar iblis.”

“Kau tahu aku ini memang keturunan iblis, Seungwon-ssi.”

Mata Seungwon terpejam. Di benaknya tergambar wajah senang Jungroo.

“Apakah, jika aku mau menyerahkan darah dan diriku, aku tidak akan mati? Aku akan bisa tetap bertemu keluargaku? Kau tidak akan membunuh Jungroo?”

“Tentu saja.” senyum tersungging di bibir namja itu.

“Dan apakah kau tidak akan lagi menghisap darah manusia lainnya?”

“Maksudmu?”

“Bukankah kau bisa mendapatkan darahku sesuka hatimu. Asalkan kau tidak lagi mencari darah manusia lainnya.”

“Tergantung pelayananmu kepadaku Seungwon-ssi.”

Seungwon merutuk dalam hati. Namja di depannya benar – benar iblis. Tapi, bagaimana mungkin dia membiarkan sahabat baiknya meninggal di tangan namja ini.”

“Baiklah. Asal kau tidak menyentuh Jungroo.”

“Bagus. Itu lebih baik.”

Namja itu tersenyum lalu menarik tubuh Seungwon. Meraih dagu Seungwon. Dan secepat kilat namja itu menempelkan bibirnya ke bibir Seungwon.

Seungwon tetap mengatupkan bibirnya. Tetapi namja itu tidak menyerah. Dia menggigit bibir bawah Seungwon. Memaksa gadis itu untuk mmbuka mulutnya. Lidah namja itu menelisik masuk mengusik ketenangan lidah Seungwon.

“Ehmmphh…” erangan Seungwon terdengar di gereja itu. Menandakan Seungwon takluk pada namja tersebut. Lidahnya bergerak mengikuti lidah namja tampan tersebut.

Tangan kanan namja itu bergerak pelan. Seketika keduanya menghilang dari gereja kampus.

Dan sekejap, mereka muncul di apartemen Seungwon yang didominasi warna putih. Dengan bibir mereka masih saling bertautan.

Seungwon masih menikmati ciuman panas Jungsoo hingga tak menyadari mereka dimana sekarang.

“Akh..” erang Seungwon saat merasakan tangan dingin namja itu menyusup ke dalam kemejanya. Jemari namja itu bermain di perut rata Seungwon. Entah kenapa hal itu membuat Seungwon menggeliat geli.

Ciuman namja itu berhenti.

“Kau masih ingat namaku?” bisiknya. Seungwon mengangguk.

“Jungsoo. Park Jungsoo.” Ucap Seungwon.

“Bagus. Sering ucapkan namaku dengan mesra saat aku menyentuhmu.”

Tanpa menunggu jawab dari Seungwon, namja yang tak lain Jungsoo itu segera melumat bibir Seungwon. Ciuman keduanya berbalur dengan nafsu menggebu. Lidah keduanya saling membelit. Membuat saliva keduanya menetes di sudut bibir.

“Eungh…” suara erangan dan desahan terdengar di kamar ini. Dengan tak sabar Jungsoo mendorong tubuh Seungwon hingga gadis itu jatuh terlentang. Jungsoo menaiki perut Seungwon. Dengan pelan dia membuka kancing kemej a Seungwon. Dan Seungwon hanya pasrah.

Kemeja Seungwon terbuka memperlihatkan kulit putih Seungwon. Dan bagian sensitivnya yang masih tertutupi bra putihnya. Puas memandangi tubuh atas Seungwon, Jungsoo ganti membuka celana panjang Seungwon. Melepasnya sedikit tergesa dan melemparnya begitu saja.

Dan Jungsoo kembali menyerang bibir Seungwon. Melumatnya dengan rakus membuat bibir Seungwon bengkak dan basah.

“Jungsoo-ya ahh…” desah Seungwon saat Jungsoo menjilat cuping telinganya, turun ke lehernya, menjilatnya, menghisap dan menggigit. Meninggalkan kissmark yang cukup banyak mendampingi bekas gigitan yang dibuat Jungsoo satu bulan lalu.

Perlahan ciuman Jungsoo turun menuju payudara Seungwan yang masih tertutup bra putihnya. Dengan kasar Jungsoo menarik bra itu hingga talinya putus dan langsung melumat nipple Seungwon sebelah kiri. Sementara tangan kirinya memelintir, mencubit dan meremas nipple kanan Seungwon. Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju bagian paling sensitive di tubuh Seungwon.

“Akh…” Seungwon mendongak saat merasakan belaian lembut di bagian bawah tubuhnya. padahal masih tertutup kain, namun Seungwon bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya itu.

“Jung..akh…… soo-ya…” lirihnya saat telunjuk Jungsoo berhasil masuk ke dalam balik kain itu.

Jungsoo semakin barnafsu mengerjai tubuh Seungwon. Dan Seungwon semakin tidak bisa mengendalikan dirinya saat dia merasakan telunjuk Jungsoo mulai memasuki mrs. V-nya. Awalnya sedikit perih. Namun lama – lama terasa nikmat saat jungsoo menggerakkan telunjuknya maju mundur.

“Jungsoo-ya.. akh… faster.. faster..” pintanya.

Jungsoo mengabulkannya. Dan dia juga menambah jari tengah dan jari manisnya. Untuk mempermudahkan dia merasuki tubuh Seungwon nantinya.

Setelah di rasa cukup Jungsoo mengeluarkan jemarinya yang telah berlumuran cairan cinta Seungwon. Dia juga menghentikan kulumannya di payudara Seungwon. Membuat Seungwon mendesah kecewa.

Mata Seungwon yang terpejam akhirnya terbuka. Menatap sayu kepada Jungsoo yang tersenyum sambil membuka kancing bajunya perlahan.

Seungwon yang tidak sabar segera membantu Jungsoo melepas celananya. Melepas dan melemparnya begitu saja. senyum Jungsoo semakin lebar. Dia juga melepas satu – satunya kain yang melekat di tubuh Seungwon.

Jungsoo mendorong tubuh Seungwon agar kembali terlentang. Dan dia mencium bibir Seungwon lagi. merangsangnya kembali. Seungwon-pun kembali terlarut dalam permainan Jungsoo.

Jungsoo perlahan memulai permainan sesungguhnya. Setelah mennggoda Seungwon dengan gesekan mr. P-nya ke Mrs. V Seungwon, dia mulai memasukkannya perlahan.

“Akhhh… sa-sakiiiiiiit…” pekik Seungwon saat mr. p jungsoo mulai merasukinya. Tapi Jungsoo tak mempedulikannya. Dia terus mendorong pinggangnya agar bisa segera merasakan kehangatan Seungwon.

JUngsoo mencium bibir Seungwon. Sementara tangan kanannya meremas payudara Seungwon. Pekik kesakitan Seungwon berubah menjadi desahan. Saat itulah Jungsoo menghentakkan tubuhnya dan dia merasakan telah merobek selaput dara Seungwon.

“Akhhh.. appoooo…” suara Seungwon teredam bibir Jungsoo. Jungsoo tak mempedulikan rasa sakit Seungwon ataupun air matanya. Dia terus menggerakkan juniornya dalam tubuh Seungwon. Membiarkan Seungwon memohon karena rasa sakitnya.

Tetapi hal itu pun tak bertahan lama, karena rintihan Seungwon berganti dengan desahan kenikmatan.

“Akh.. faster Jungsoo-ya.. fasterrrr…akhhh..” Seungwon merasakan kenikmatan meski bercampur dengan rasa pedih.

Jungsoo tersenyum. Seungwon terpesona karena melihat senyuman Jungsoo sekarang yang berbeda dengan sebelumnya.

Setelah sekian lama bertempur, Seungwon merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang ingin meledak.

“Jungsoo-ya… aku ingin keluarrrr…” ucapnya.

“Together Chagiya…” ucap Jungsoo.

Tempo gerakan Jungsoo mulai tak beraturan. Dan beberapa menit kemudian, Seungwon merasakan dalam tubuhnya hangat karena klimaks mereka berdua.

Seungwon merasakan kelelahan yang luar biasa. Nafasnya memburu. Dia memejamkan matanya untuk mengatur nafasnya.

“Hm, sekarang saatnya kau memberikanku darahmu.” Bisik Jungsoo sambil menjilat leher Seungwon. Lalu dia menghujamkan taringnya ke leher Seungwon.

“Akhhhhhhhhhhh….”

Dan seketika Seungwon pingsan.

@@@@@

@morning…

Seungwon terbangun dengan tubuh terasa lelah. Dia bergerak untuk segera bangun dan mandi. Tetapi gerakannya terhenti. Dia megernyit saat merasaka daerah selangkangannya sakit.

Dengan panic, Seungwon membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Naked. Dan ada bercak darah di sprei putihnya.

“Jadi yang semalam itu kenyataan?” bisik Seungwon.

@@@@@

Malam itu Seungwon menuju gereja kampus. Tetapi sesampainya di sana, dia hanya menemukan kesunyian saja. Tidak ada apa – apa.

“Kenapa dia tidak muncul?” Seungwon bertanya kesal. Tetapi tak ada suara apapun. Akhirnya dengan kesal, SEungwon segera melangkah pergi. Menuju ke apartemennya.

Dilemparkannya tas Seungwon dengan kesal.

“Kenapa kau Nampak kesal seperti itu?” Tanya Jungsoo. Seungwon tersentak kaget. Dia berbalik dan menemukan Jungsoo tengah duduk dengan nyamannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya seungwon pelan.

“Hanya menjemputmu. Aku ingin mengajakmu keluar.” Ucap Jungsoo.

“Aku tidak bisa. Aku sangat capek.” Tolak Seungwon. Jungsoo menyeringai.

“Kau tidak boleh menolakku Seungwon-ah, atau…”

“Ara. Aku mengikutimu.” Kata Seungwon terpaksa.

@@@@@

Seungwon menatap bangunan itu dengan sedikit ngeri. Gereja tua yang terlihat menaakutkan. Jungsoo membawanya ke gereja ini.

Begitu memasuki gereja itu, Seungwon melihat lilin – lilin kecil menyala menyinari ruangan gelap itu. Suara riuh kelelawar terdengar saat pintu tertutup begitu Jungsoo dan Seungwon masuk.

Seekor kelelawar terbang rendah kemudian saat kaki kecilnya menapak tanah kelelawar itu berubah menjadi seorang namja. Dia menatap lekat kea rah Seungwon. Mata merahnya seakan menelanjangi diri Seungwon.

“Apa kau sudah menandainya hyung?” Tanya namja itu. Matanya berubah coklat saat menatap Jungsoo.

“Tentu saja sudah Chul-ah.” Ucap Jungsoo sambil tersenyum. Seungwon melihat namja yang dipanggil Chul itu menyeringai ke arahnya lalu menunduk sedikit. Melihat Chul seperti itu, beberapa kelelawar turun dan berubah menjadi namja – namja sempurna.

Mata Seungwon terbelalak kaget. Dia tidak menyangka bahwa tidak hanya Jungsoo saja yang seorang siluman. Ada banyak siluman di dalam gereja ini.

“Seungwon-ah, kukenalkan kau pada adikku. Yang ini namanya Kim Heechul.” seungwon melihat namja yang dipanggil Chul dan yang membungkuk tadi. Dia hanya memperlihatkan senyumnya yang terkesan dingin.

“Dia Hankyung, Yesung, Kangin dan Shindong.” Seungwon melihat namja – namja yang diperkenalkannya itu menunduk dan tersenyum ke arahnya. Senyum dingin.

Tak lama keributan terdengar dari atas. Jendela besar yang ada di atap gereja terbuka, lalu muncullah beberapa kelelawar lagi.

Yang kemudian berubah menjadi manusia – manusia berpakaian serba hitam.

“Annyeong.” Sapa seorang namja pucat sambil tersenyum manis ke arahnya.

“Hyukkie, jangan tebar pesona. Dia milikku.” Tegur Jungsoo.

“Hm.” Dengus namja itu.

“Chagiya, dia namanya Hyukjae. Disebelahnya adalah Donghae, Sungmin, Siwon, Zhoumi dan Kibum.” Seungwon menunduk sedikit. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

“Dimana yang lain?” Tanya Jungsoo kepada dongsaengnya.

“Kyuhyun sedang mengincar mangsanya, kurasa.” Jawab Heechul tak acuh.

“Mangsa?” gumam Seungwon.

“Benar. Mangsa. Yah, mangsa kami itu manusia sepertimu.” Jawab Yesung.

 

Seungwon menatap Jungsoo lekat. Yang sekarang tengah duduk di kursi besar.

“Jungsoo-ya, bukankah kau bilang kau tidak akan menghisap darah manusia lainnya? Tapi kenapa adikmu masih mengincar manusia.”

“Itu perjanjian antara kau dan aku Seungwon-ssi. Bukan dengan adik – adikku.”

“Tetapi…”

“Perjanjian antara kita tidak berlaku untuk adik –adikku. Kau paham?”

“Kau.. dasar iblis.” Maki Seungwon.

Tawa bergema di ruangan itu. Membuat Seungwon bergidik ngeri, dan akhirnya dia memilih pergi dari ruangan itu.

Jungsoo yang melihat hanya tersenyum.

Gadis itu.

Tidak akan pernah bisa kemana – mana,

Karena dia telah terikat perjanjian dengannya.

@@@@@

 

TBC

I’m Back

 

 

Annyeong…

 

halo semua yang mau tengok2 ke blog ini *meski ga yakin ada yang nengok ke sini*

tapi ya gapapalah… aku tetep isi2 ni Blog ma FF2 buatanku. mau ada yang baca saya seneng. ga ada juga gapapa.. cuman berharap aja lo ada yang baca minta comentnya donk.. meski FF2.a aneh, gaje, abal dll…

 

ya okelah intinya saya berniat kembali mau mengisi ni Blog..

dan mungkin sekarang ga cuma berisi FF tentang Super Junior saja.. karena saya juga akan mempublish ff dengan cast BB lainnya…

 

oke dech… udah ini aja coret moret saya..

yang main ke sini moga betah n sering2 ke sini ya

annyeong *bow*

Mianhae

Annyeong….

 

buat reader yang sudah main – main ke blog aku ini.. aku ucapin makasih banget… tapi maafin aku ya.. akhir2 ini aku jarang banget nengokin ini blog. alasannya adalah modem di tempatku ini seneng banget ngajak bertengkar.. selain itu aku sangat sibuk.. kalau dari kalian ingin baca FF2 aku bisa ke FB aku aja.. aku sering ngepost di FB. selain itu, di FB lebih komplit…

 

bisa add aku di

FB: Ticko Freysha (freysha_pati@yahoo.co.id)

atau kalau pingin ngobrol2 ma aku juga bisa di FB itu atau di twitter aku

@freyshaQ.. lo pingin di follback mention aja.. heheehehhe

 

 

jeongmal mianhae… kalau selama ini aku nggak balas koment2 dari kalian yang sudah menyempatkan diri untuk main ke blog ku ini…..

 

 

gomawo

Second Chance – Sequel One Day With You Last Part

 

Cast :

 

Kim Heechul

Kim Ryeowook

Park Jung Soo

Hangeng

Lee Hyukjae

Shin Rae Na

Kang Yong Rae

Kwon Sohee

Shim Miyoung

Park SeungWon

Other

 

Author : Frey

Genre : Romance, angst, Sad End

Part : 15  of 15

Rated : entahlah. Aku tidak bisa ngasih rated.a biar kalian saja yang ngasih rated.a apa

Summary : Jika ada kesempatan kedua, apa yang akan  dilakukan? Sedangkan pertemuan terjadi secara tak terduga dengan kondisi yang tak pernah dibayangkan. Apakah mereka akan mengambil kesempatan kedua itu, atau membiarkannya karena kejadian itu menghadirkan hal tak terduga? (summarynya nggak banget dech. Hancur. Dan aneh)

Disclaimer : Cast punya Tuhan (itu pasti) ide aku yang buat. Jadi jangan heran bila aneh.

Warning :  alurnya ngalor ngidul dan membingungkan. Banyak typo, gaje, aneh, hancur, dll

 

Huft akhirnya part akhir dari ni FF selese juga. Meski dah dirombak berkali – kali (2x kyknya) tetep aja aku ngerasa ga puas juga. Entah seperti ada yang ganjal. Tapi mo gimana lagi, dari awal cerita ini emang aneh. Jika part ini semakin aneh + ngawur author Cuma bisa minta maaf. Apalagi ini sudah batas maximum (?) yang author punya. Part ini menceritakan apa hubungan Raena n Yongrae. Sebenarnya anak siapa mereka. Dan apa alas an Yongrae bersikap seperti itu secara langsung (?). jika cerita tidak sesuai harapan mohon jangan timpuk aku ya.. hehehhhhehehh ^^V

Tapi yah seperti biasa aku minta koment, saran dan kritiknya ya… apa yang harus aku perbaiki.

Oh ya bagi yang belum pernah baca atau udah lupa ni aku kasih Linknya dari awal. dari yang

zaman One day With You (ODWY)

 

ODWY prolog : http://www.facebook.com/note.php?note_id=210840582267386

ODWY part 1 : http://www.facebook.com/note.php?note_id=211878972163547

ODWY part 2 – Last Part : http://www.facebook.com/note.php?note_id=212867768731334

Prolog : http://www.facebook.com/note.php?note_id=213097422041702

part 1: http://www.facebook.com/note.php?note_id=213642241987220

part 2: http://www.facebook.com/note.php?note_id=214105091940935

part 3: http://www.facebook.com/note.php?note_id=215013548516756

part 4: http://www.facebook.com/note.php?note_id=215830518435059

part 5: http://www.facebook.com/note.php?note_id=218068904877887

part 6: http://www.facebook.com/note.php?note_id=219901781361266

part 7: http://www.facebook.com/note.php?note_id=223201731031271

part 8: http://www.facebook.com/note.php?note_id=225097084175069

Part 9: http://www.facebook.com/note.php?note_id=233675883317189

part 10 :http://www.facebook.com/note.php?note_id=243628738988570

part 11 : http://www.facebook.com/note.php?note_id=246556462029131

part 12 : http://www.facebook.com/note.php?note_id=252138114804299

part 13 : http://www.facebook.com/note.php?note_id=253581597993284

Part 14 : http://www.facebook.com/note.php?note_id=256834641001313

 

Okay dech aku ga mau banyak bicara langsung aja ya

==== >>>> Happy Reading ^^

 

 

 

 

Takdir sungguh menakjubkan

Mempertemukan

Memisahkan

Mempertemukan kembali

Memisahkan kembali

Dan apakah cinta sanggup mengubah takdir itu?

@@@@@

Raena tengah mematut dirinya di depan cermin. Oh, hari ini akan ada acara ulang tahun dari kakek tunangan pemilik hotel ini. dan secara kebetulan pemilik hotel ini adalah sepupu Ryeowook.

Belum lagi semua tamu yang menginap di KJM Hotel turut serta diundang. Memang wajar, mereka khan orang yang sangat kaya.

Ryeowook kembali dari London tadi pagi. Raena tahu ada yang tidak beres. Wajah Ryeowook nampak kusut. Tapi di depannya Ryeowook bersikap biasa saja. dia bahkan mengajak Raena mencari sebuah gaun untuk ke pesta malam ini.

Sebenarnya ini kali kedua Raena menghadiri pesta pemilik hotel ini. tapi yang pertama dulu karena suatu hal akhirnya Raena tidak bisa datang.

Tok tok tok

Suara pintu diketuk membuat Raena menghentikan kegiatannya. Dia melangkah menuju pintu dan membukanya.

Ryeowook.

Namja itu tengah menatap Raena tanpa kedip. Membuat Raena merasa salah tingkah.

“Ryeowook-ah, apa aku tidak cocok mengenakannya?”

“Aniyo. Kau cantik sekali.” ucap Ryeowook membuat kedua pipi Raena memerah. “Nah Tuan putri ayo kita segera menuju tempat pesta. Ah, dan aku sangat ingin melihat hasil karyamu di ruangan pesta hyungku.”

Raena tertawa kecil.

Benar. Dia dimintai tolong oleh Seung Won untuk mengatur ruang pesta ini. pihak hotel menyukai karyanya dulu.

Raena mengaitkan tangannya ke lengan Ryeowook lalu berjalan menuju ke ruang pesta.

@@@@@

Berhenti berharap?

Sungguh menggelikan…

Bagaimana bisa berhenti jika harapan itulah

Cara agar bisa menjalani kehidupan ini

Tanpa adanya cinta di sisi…

Hanya harapan yang mampu menopang sebuah jiwa untuk tetap hidup

@@@@@

Dua buah mobil mewah berhenti di depan lobi hotel KJM. Dari mobil pertama nampak Jungsoo membuka bagasi mobil, mengeluarkan sebuah kursi roda, baru kemudian membuka pintu mobil. Jungsoo membungkuk, lalu menggendong tubuh kurus lelaki tua yang tidak lain adalah Kwon Haraboji.

Begitu sang haraboji duduk, seorang gadis cantik bergaun pink turun dari mobil yang sama.

“Jungsoo-ssi, setelah kau memarkirkan mobil, kau harus segera bergabung dengan kami.” Kata Kwon Haraboji.

“Baik Sajangnim.” Ucap Jungsoo.

sohee mengalihkan pandangannya kemobil yang parker dibelakang mobilnya.

Heechul keluar bersama seorang gadis cantik bergaun biru muda. Siapa lagi jika bukan Kang Yongrae. Gadis itu terlihat mempesona.

Hangeng, yang bertindak sebagai sopir Heechul malam itu segera mengikuti mobil yang dikemudikan Jungsoo.

Manager Shim menyambut mereka. Heechul memang meminta kepada Manager Shim agar menyambut para tamu sebelum mereka datang.

“Heechul-ssi, sudah ada beberapa undangan yang datang.” Ucap Manager Shim.

Heechul mengangguk.

“Khamsahamnida Manager.” Ucap Heechul tenang.

Lalu mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah disulap sedemikian rupa. Sohee merasakan sensasi ini lagi. Sensasi saat dia merasakan hasil karya Raena. Lihatlah, bunga lili putih bertebaran dimana – mana. Lalu ada sebuket bunga mawar putih yang terselip satu Lili putih, khas Raena. Buket itu berada di meja besar yang menjadi meja utama mereka. Tempat haraboji nantinya berada.

Sohee bisa mengenalinya begitu saja. Diambilnya buket itu tanpa peduli rasa tidak suka haraboji akan sikapnya barusan. Namun, Heechul memperhatikan raut wajah Sohee tersebut.

Sohee menggenggam erat buket itu, lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan luas yang belum begitu ramai itu.

Tidak ada yang dicarinya.

Diruangan itu masih beberapa relasi bisnis haraboji dan Heechul.

Sohee menghela nafas panjang.

Heechul mendekat. Lalu menepuk pundak Sohee lembut.

“Bagaimana?”

“Oppa, ini memang hasil karya Raena. Aku sangat mengenalinya.”

“Kita tunggu saja jika dia memang tamu disini, dia pasti akan datang.”

“Oppa, tidak bisakah kau memanggil pegawaimu untuk mengantarku menemui Raena?”

Heechul mengganggu pelan. “Baiklah.” Senyum tersungging dibibir Sohee, membuat Jungsoo yang baru masuk terpaksa menatap kea rah lain. Dia. Cemburu melihat Sohee tersenyum seperti itu kepada namja lain.

Jungsoo masuk bersama Kim Kibum, Choi Siwon, Shim Changmin, Shim Miyoung dan Park Ririn. Mereka menuju kea rah meja yang di duduki oleh Kwon Haraboji.

“Saengil Chukkahamnida haraboji.” Ucap Kibum.

“Saengil Chukkahamnida Sajangnim.” Ucap yang lain.

“Gomawo.” Kwon haraboji Nampak bahagia sekali hari ini. Apalagi Yongrae, yang masih dikiranya Raena setia mendampinginya. Meski matanya sesekali melirik kea rah Heechul yang terlihat begitu mempesona, namun dia tetap memperhatikan Kwon haraboji.

Tamu – tamu undangan mulai berdatangan, membuat suasana ruangan menjadi ramai. Dan Sohee semakin Nampak gelisah.

Hangeng dan Henry masuk. Entah darimana saja keduanya, karena mereka baru Nampak.

“Mianhaeyo Heechul-ssi, tadi aku dan Henry ada keperluan.”

“Tidak apa – apa.” Heechul melirik kea rah Yongrae yang asyik ngobrol dengan Haraboji.

“Kajja. Ikuti aku.” Ajak Heechul. hangeng dan henry hanya mengikutinya. Meski keduanya bingung.

“Rae-ya, kukenalkan kau pada asistenku dan adiknya. Hangeng dan Henry.” Yongrae mendongak sambil mengulum senyum. Sedangkan mata Hangeng dan Henry membulat.

“Hansia.. Jie Jie.” Ucap HAngeng dan Henry bersamaan.

Sedangkan Yongrae dan Kwon Haraboji Nampak kebingungan.

“Apa maksud kalian?” Tanya Yongrae.

“Han Sia, kenapa kau tidak member kabar kepadaku?” Tanya HAngeng. Mengabaikan pertanyaan Yongrae.

“Han Sia? Siapa yang kau panggil Han Sia? Namaku… Shin Raena.” Ucap Yongrae dengan sedikit marah. Hangeng dan Henry saling berpandangan lalu menatap Heechul.

Heechul memberikan sebuah tanda.

“Maaf, kami salah mengenali saudari kami, karena wajah kalian sangat mirip.” Hangeng membungkuk.

“Bagaimana kau bisa mengatakan cucuku ini mirip saudarimu?” kwon Haraboji nampak tidak suka.

“Jwosonghamnida sajangnim. Tapi Raena-ssi benar – benar sangat mirip saudari kami.” Hangeng mengeluarkan sebuah foto.

Kwon Haraboji nampak kaget dengan kemiripan diantara foto ini dengan gadis disebelahnya. Berbeda dengan Yongrae yang wajahnya memucat. Dia tidak pernah menyangka bahwa akan ada lagi orang yang berwajah sama dengannya.

Kwon Haraboji menatap lekat – lekat foto tersebut. Entah kenapa melihat senyum gadis dalam foto ini membuatnya teringat kepada Raena. Padahal dia beranggapan gadis itu di sebelahnya bukan? Tetapi, sejak dia datang kembali Kwon Haraboji belum pernah melihat senyum tulus di bibir gadis itu.

“Ah, haraboji, maafkanlah Hangeng. Dia terlalu merindukan adiknya yang sudah lama menghilang.” Ucap Heechul. Haraboji hanya mengangguk.

Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki tua itu. Dia menatap lekat ke arah Yongrae yang menjadi agak salah tingkah dan memilih untuk mengambil segelas minum. Tentu untuk menenangkan diri sendiri.

Heechul melihat Mrs. Hwang. Dia segera memanggilnya.

“Mrs. Hwang bisakah kau panggil pegawaimu yang merancang ruangan pesta ini?”

“Ne Huijangnim.”

Mrs. Hwang meninggalkan Heechul yang sekarang tengah duduk mengelilingi meja bundar besar itu. Sementara tamu – tamu masih menikmati suasana pesta ini. sambil mendengarkan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh salah satu relasi bisnis Heechul yang memang memiliki suara indah.

Begitu sebuah lagu selesai. Mc segera memberikan sebuah sambutan yang mengatakan bahwa saatnya pesta utama dimulai.

Lampu dipadamkan. Para tamu berdiri dari duduknya. Sebuah kue ulang tahun yang sangat besar didorong masuk diiringi sebuah alunan music dari piano. Dan berhenti di meja bundar besar itu. Para pegawai hotel yang membawanya menaruh kue itu ditengah meja.

Kwon Haraboji nampak bahagia sekali. Karena lemah akhirnya dia tetap duduk di kursi rodanya, dengan Sohee di kanan dan Yongrae di sebelah kirinya. Setelah Kwon haraboji mengucapkan beberapa patah kata sambutan, dia meniup lilinnya. Sohee memeluk kakeknya sayang. Begitu juga denga Yongrae yang langsung memeluk Kwon Haraboji.

Lampu kembali menyala. Dan lagu kembali mengalun kali ini dari penyanyi yang disewa Heechul. Beberapa tamu nampak berdansa.

Mrs. Hwang menghampiri Heechul bersama dengan seorang wanita. Dia adalah Park Seung Won. Jungsoo kaget melihat adiknya. Dia tahu adiknya bekerja di hotel ini, tapi untuk apa dia sekarang menemui Heechul?

“Huijangnim, ini pegawai yang mengatur pesta ini, termasuk menghias ruangannya.” Kata Mrs. Hwang.

Heechul menoleh.

“Kau, bukannya adik Jungsoo-ya?”

“Ne huijangnim.”

Semua mata memandang ke arah Seungwon membuat dia gugup. Termasuk Jungsoo tentu saja.

“Kau kah yang mengatur ruangan ini?”

“Ne.” Jawab singkat Seungwon. Jungsoo langsung menatap adiknya tajam. Dia tidak pernah tahu adiknya bisa mengatur sebuah ruangan pesta dengan begini indahnya? Sedangkan kamarnya sendiri selalu berantakan.

“Apa kau sendiri yang mengonsepnya?” tanya Sohee.

“Aniya. Aku hanya melakukan apa yang tergambar saja. seseorang yang membuat konsepnya. Dan sesekali dia datang.” Ucap Seung Won jujur.

“Dia pegawai disini juga?” selidik Heechul.

“Aniya. Dia tamu. Jwoesonghamnida.. ini salah saya.” Seung Won sudah merasa takut.

“Boleh aku bertemu dengannya?” tanya Sohee lembut. “Aku tertarik dengan konsepnya ini.” lanjut Sohee.

“Ne?” seung Won nampak kaget. Dikiranya dia akan dimarahi atau apalah karena telah meminta tolong seorang tamu.

“Arreo…” ucap Seungwon setelah tersadar. Dia berbalik dan akan beranjak dari ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat dia melihat Raena.

“Kenapa berhenti?” tanya Sohee, agak tidak sabar saat dilihatnya Seungwon tak segera beranjak.

“Orangnya sudah datang. Itu tamu yang baru datang bersama dengan seorang lelaki yang adalah kekasihnya.” Ucap Seungwon tanpa diminta.

Heechul menoleh.

Dia melihat sepasang kekasih yang nampak serasi dan mesra memasuki ruangan pesta. Dia mengenali siapa namja itu. Ryeowook, adik sepupunya. Tangan kirinya menggenggam seorang yeoja. Heechul merasa dunia berhenti berputar saat dia bisa melihat dengan jelas siapa Yeoja itu.

Dialah Raena. Shin Raena yang selama ini dicarinya. Shin Raena yang selama ini dicarinya ditunggunya. Tetapi bagaimana bisa? Yeoja itu Nampak begitu akrab dengan Ryeowook.

Heechul mengepalkan tangannya menahan keinginannya untuk melepaskan genggaman tangan itu. Rupanya rasa cemburu begitu besar kepada yeoja itu. Apakah itu berarti dia benar – benar mencintai Raena yang asli?

@@@@@

Raena merasa ada seseorang memperhatikannya. Dia mendongak, dan matanya terkunci pada mata coklat itu. Ya Tuhan bukankah itu namja yang telah mempermalukannya dengan menciumnya di depan umum? Jangan bilang dia adalah….

“Hyung.” Suara Ryeowook membuat Raena lemas seketika. Apalagi saat Ryeowook memberinya pelukan. Tapi namja itu tetap menatap Raena dengan pandangan yang sulit Raena artikan.

“Eonnie.” Suara Seung Won membuyarkan lamunan Raena. Dia tersenyum pada gadis itu.

“Seung Won-ah.” Sapa Raena.

“Hyung, kukenalkan kau pada kekasihku. Chloe Kang, tapi dia sekarang lebih suka dipanggil Rae.” Ucap Ryeowook riang. Suaranya juga cukup keras hingga terdengar orang yang berada di meja besar itu.

Semua orang memandang kea rah Ryeowook.

Prankkk.

Suara gelas pecah membuat perhatian semuanya teralih kepada seorang gadis yang memandang gadis yang baru datang tersebut. Dengan pandangan tak percaya, kaget dan juga takut.

Semua orang heran dengan kemiripan wajah keduanya. Bukan hanya mirip. Mereka benar – benar sama. Hanya orang yang benar – benar mengenal keduanya dengan baik yang akhirnya mampu membedakan perbedaan keduanya.

Ryeowook membulatkan matanya saat melihat siapa yang telah memecahkan gelas tersebut. Mirip sekali. Dia seperti sosok Chloe yang selama ini dicari. Bukan yang selama satu bulan ini bersamanya. Tapi kenapa gadis ini berada diantara keluarga Kwon, keluarga mantan tunangan sepupunya. Dan apakah dia yang selama ini dicari sepupunya tersebut?

Sementara kedua gadis itu saling memandang dengan benak bertanya – Tanya.

Yongrae lebih kepada kenapa gadis ini muncul disaat yang tidak tepat seperti ini.

Sedangkan Raena heran, kenapa ada gadis berwajah yang mirip sekali dengannya. Apa dia kembarannya?

Diantara semua orang yang ada disana yang tengah terkesima dengan kemiripan keduanya seseorang cepat tersadar. Dia berdiri dan menghampiri Raena.

“Han Sia.” Ucapnya sambil memeluk Raena. Membuyarkan lamunan gadis itu.

“Gege. Han Gege…” isak Raena yang akhirnya bisa menemukan orang yang dirindukannya.

Henry segera menghampiri dua orang yang berpelukan itu begitu dia tersadar juga.

“Jie Jie.”

“Henry…” raena melepas pelukan hangeng lalu memeluk Henry. Dia juga merindukan orang yang sudah dianggapnya adik tersebut.

“Ekhem..” suara Kwon Haraboji menyadarkan semuanya. Sohee menatap gadis yang baru datang dengan berkaca – kaca.

Dia bangkit lalu memeluk Raena erat. Hal itu membuat Yongrae kaget. Bagaimana bisa Sohee…

“Rae-ya…” panggil Sohee dengan terisak.

Raena yang merasakan sesuatu pada pelukan gadis itu hanya diam saja. Dia bingung. Tapi hatinya seakan berdetak kencang. hatinya mengatakan rindu pada gadis ini.

Sohee melepas pelukannya lalu, dia menatap Raena.

“Rae-ya, kenapa kau diam saja? Kau tidak ingat kepadaku?”

Raena menggeleng. Dia benar – benar tidak ingat. Meski merasa hatinya tidak asing dengan gadis ini.

“Aku Sohee. Kwon Sohee.”

Raena merasakan Sesuatu menghantam kepalanya mendengar nama Sohee. Ada sesuatu yang membuat Raena merasakan kepalanya sakit.

Sohee.

Bukan nama yang asing.

Tapi siapa?

Raena merasakan hatinya menjerit, tapi otaknya tidak mau mengingat. Semakin dia mengingat, kepalanya terasa pusing.

“Sohee-ya, sohee-ya, sohee-ya…” ulang Raena.

Ryeowook yang melihat hal itu mengingat saat Raena pingsan. Berulang kali gadis itu menyebut nama Sohee.

“Jadi kau yang bernama Sohee?” gumam Ryeowook. Namun cukup terdengar jelas oleh Sohee.

“Ne?”

“Aniya. Sewaktu Rae pingsan dia selalu mengigau namamu.”

“Jeongmalyo?”

“Ne.” ryeowook tersenyum tipis. Sekaligus perih. Ingat cerita hyungnya dulu. “Jadi hyung, apakah Rae yang bersamaku ini adalah Rae-mu?”

Yongrae membekap mulutnya menahan jeritannya. Bagaimana bisa? Jadi selama ini Heechul ataupun yang lain tahu dia bukanlah Shin Raena? Tapi kenapa?

Raena menatap Ryeowook bingung. Kepalanya semakin pusing. Tapi dia tidak kunjung mengerti apa yang diucapkan Ryeowook.

“Apa maksudnya ini?” suara Kwon Haraboji terdengar cukup keras. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi? Siapa gadis itu? Apa yang dilakukan cucunya. Dan apa yang diucapkan pemuda bernama Ryeowook. Ekspressi semua yang hadir. Membuat dirinya ingin tahu.

@@@@@

Saat ini mereka berada di sebuah ruangan. Berkumpul menjadi satu. Menjelaskan semua yang terjadi. Kwon Haraboji Nampak shock. Sementara Raena yang tak kunjung ingat bahkan merasakan kepalanya semakin pusing. Karena dia berusaha mengingat semua yang terjadi.

“jadi, kau bukan Shin Raena yang asli? Kenapa kau menipu kamu? Kenapa kau tidak mengatakan sejujurnya?” tuntut Kwon Haraboji.

“Haraboji, ini bukan sepenuhnya salah dia. Aku yang memaksanya untuk mengakui dirinya adalah Raena.”

“Tetap saja dia bisa menjelaskannya secara perlahan.” Ucap Kwon Haraboji. “Siapa kau sebenarnya?” teriak Kwon Haraboji.

Yongrae yang sedari tadi menunduk, segera mengangkat wajahnya. dingin. Penuh amarah. Dan juga kebencian. Meski terlihat juga kesedihannya.

“Namaku Kang Yongrae. Atau selama ini lebih dikenal sebagai Chloe Kang. Sahabat ani… mantan sahabat Nathan Kim atau Kim Ryeowook sekaligus Sunbae dari Park Ririn di Paris.” Jelas Yongrae akhirnya.

Ryeowook menatap Yongrae sedih. Dia bahkan bisa melihat rasa sakit Yongrae saat akhirnya dia mengucapkan nama koreanya. Ryeowook bisa menduga akan sebenarnya yang terjadi. Tapi dia ingin mendengar langsung dari Yongrae sendiri.

Ryeowook ingin dia berada di sisi Yongrae. Namun, sesuatu menghalanginya. Dia memang pengecut. Tapi dia merasa ini yang terbaik. Jadi dia memasang wajah datar saja.

“Apa tujuanmu ke sini?” Tanya Sohee.

“Tujuanku? Membalaskan dendam.”

“Dendam?” seru semua orang. Ryeowook terkaget. Ini seperti bukan Chloe yang dia kenal.

“Benar. Dendamku kepada keluarga Kwon. Terlebih kepada anda Kwon Sajangnim.”

“Dendam? Apa yang telah haraboji lakukan kepadamu? Dendam apa?” sohee Nampak geram.

Yongrae memejamkan mata sejenak. “Kwon sajangnim.. apakah anda masih ingat Kwon Minjee dan Kang Wonbin?” ucapnya perlahan. Matanya tak lepas dari menatap wajah lelaki tua itu.

Kwon Haraboji terkejut sekali. Setelah belasan tahun tak mendengar nama itu. Ryeowook menegakkan tubuhnya. Chloe tidak pernah mau mengungkit tentang kedua orang tuanya. Tapi sekarang dia mengucap nama keduanya. Itu berarti ada suatu hubungan antara Keluarga Kwon dan Yongrae. Apa benar dugaannya?

“Apa hubunganmu dengan mereka?” suara haraboji sedikit bergetar.

“Aku.. putrid mereka. Aku putrid tunggal mereka. Apa kau ingat perlakuanmu pada mereka”

Haraboji terdiam dengan muka pucat. Dia ingat sekali apa yang telah dia lakukan kepada anak keduanya itu.

“Haraboji. Siapa Kwon Minjee? Apa maksud yeoja ini?” sohee bertanya bingung.

“Sohee-ya, bahkan kau tidak tahu bibimu sendiri?”

“Bibi? Aku tidak pernah tahu aku punya bibi?”

Yongrae tertawa miris.

“Sebesar apa kesalahan eomma dan appaku kepadamu? Sampai kau tidak mau menyebut nama anak kandungmu itu ha?” yongrae benar – benar emosi.

Kesedihannya menyeruak. Dan entah bagaimana Raena bisa merasakan kesedihan tersebut. Ditatapnya wajah gadis yang mirip dirinya dengan perasaan kasihan.

“Maafkan aku Yongrae-ya.”

“Maaf? Untuk apa kau meminta maaf padaku?”

“Kalau begitu pertemukan aku dengan kedua orangtuamu.” Ucap Kwon Haraboji.

Air mata menetes dipipi Yongrae. “Terlambat.”

“Apa maksudmu?”

“Mereka telah meninggal. Kau membuat eomma dan appaku meninggal. Kalau kau tak mengusirnya. Kalau kau tak membuat eommaku menangis selama bertahun – tahun. Kalau kau tak membuat eommaku merasakan sebuah kerinduan mendalam pada orangtuanya, semua ini tak akan terjadi. Mereka tidak akan meninggalkanku. Aku bahkansangat membecimu. Membenci Negara ini. Aku menghapus namamu dari otakku. Tapi rupanya takdir benar – benar mempertemukanku denganmu. Jadi tidak ada salahnya khan aku melancarkan semua ini? Sayang sekali kenapa wanita ini harus hadir? Padahal sebentar lagi.”

Yongrae menatap Raena penuh kebencian.

“Kau bukanlah siapa – siapa dalam keluarga Kwon. Tapi kau menempati posisi yang seharusnya punyaku. Kau dianggap sebagai cucu. Sebagai keluarga. Sebagai saudara oleh Kwon Sohee. Kenapa kau harus muncul? Kenapa kau tidak mati saja???” teriak Yongrae.

Plakkk….

Semua yang ada terpekik kaget. Entah bagaimana seorang Ryeowook sanggup menampar Yongrae. Yongrae memegang pipinya yang terasa panas. Dia menatap Ryeowook tajam.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku yang harusnya bertanya. Apa yang kau lakukan? Kau sudah melewati batas Kang Yongrae. “ ucap Ryeowook dingin.

“Aku tidak peduli.”

“Kang Yongrae!”

“Aku membenci kalian semua.” Yongrae berlari keluar.

Raena, secara reflek mengikuti langkah Yongrae.

“Apa yang Raena lakukan?” sohee ikut berlari keluar. Meski dia masih kaget. Tidak menyangka bahwa Kang Yongrae adalah sepupunya.

“Kang Yongrae-ssi. Berhenti.” Panggil Raena.

Yongrae berhenti.

“Mau apa kau? Untuk apa mengejarku hah?” bentak Yongrae.

“Kau sedang emosi. Akan lebih baik jika kau berbicara baik – baik. Haraboji itu sepertinya orang yang baik. Meski aku belum megingat apa yang terjadi. Aku yakin dia orang yang baik.” Raena mencoba memegang lengan Yongrae.

Tapi Yongrae menepis.

“Kau tidak tahu rasanya menjadi aku, aku melihat bagaimana lelaki itu mengusir eommaku. Membuat eomma dan appaku tidak diterima bekerja dimanapun dinegara ini. Kami terpaksa harus tinggal di Paris. Memulainya dari bawah. Selama bertahun – tahun aku selalu melihat eomma menangisi foto lelaki itu.  Membuat appaku harus bekerja berkali lipat agar suatu ketika bisa membawa kami kembali ke Korea. Membuktikan bahwa mereka bisa bertahan. Tetapi ketika saat itu tiba, mereka harus mengalami kecelakaan. Tepat sehari sebelum ulangtahun lelaki itu. Hanya karena eomma begitu ingin bertemu dengan lelaki itu. Bagaimana eomma mencintai lelaki yang telah mengusirnya. Membuatnya menderita bertahun – tahun.”

Air mata Raena menetes.

Dia memeluk Yongrae. Mencoba menenangkan perasaan Yongrae yang pasti kacau.

Untuk sesaat yongrae terlarut dalam pelukan hangat itu. Tapi dia tersadar. Dia segera mendorong tubuh Raena.

“Jangan bersikap sok baik kepadaku.” Ucap Yongrae ketus. Sebelum dia pergi. Yongrae menyebrang jalan tanpa menoleh kanan kiri. Tidak melihat laju mobil yang kencang dan agak tidak stabil karena jalanan licin setelah hujan salju.

“Awas,,, Chloe..” teriakan Ryeowook membuat Yongrae yang melamun terhenti. Sorot lampu dari kanan membuat Yongrae menoleh. Matanya terbelalak. Namun dia tidak bisa bergerak. kakinya terpaku. Dan Yongrae memilih memejamkan matanya pasrah.

Sesaat kemudian Yongrae merasa tubuhnya terdorong. Dia terjatuh, kepalanya membentur aspal. Dia mendengar suara decit rem dan teriakan banyak orang. Samar – samar dia mendengar orang – orang itu berteriak.

“Raena…”

Sebelum akhirnya Yongrae terjatuh tak sadarkan diri.

Heechul segera meraih tubuh raena yang telah berlumuran darah. Mobil itu menabrak Raena begitu keras membuat dirinya terpental beberapa meter.

Heechul menyalahkan dirinya yang terlambat bergerak. dia sudah mengejar Raena mencoba untuk mencegah tindakan gadis itu saat dia melihat Raena berlari menghampiri Yongrae. Namun, dia terlambat.

Jarak mereka terlalu jauh.

Heechul menahan tangisnya.

“Rae-ya ireona. Ireona… jebal ireona.” Heechul menepuk pelan pipi Raena mencoba membangunkan raena. Tapi sepertinya sia – sia,

Sohee jatuh terduduk. Melihat keadaan sahabatnya yang mengenaskan membuat air matanya jatuh juga.

“rae-ya, jebal ireona. Tolong jangan pergi. Bangunlah Rae-ya.” Sohee mengguncang – guncang tubuh Raena.

Perlahan mata Raena terbuka.

“Sohee-ya… uljima,.,,”Raena terbata.

“Rae-ya.” Desis Sohee dan Heechul bersamaan.

“Heechul…. Mianhaeyo..” detik itu juga mata Raena terpejam erat. Tubuhnya lemas. Kesadarannya menghilang. Heechul yang merasakannya tidak bisa menahan isakannya. Dia terisak sembari memeluk Raena erat.

Hangeng mengahampiri tempat kejadian dan memasukkan Raena serta Yongrae yang telah ditolong Ryeowook.

Mobil melaju kencang menuju Seoul Hospital,

@@@@@

Hyukjae tengah menanti Seung Won di kampusnya. Sudah beberapa hari semenjak Seung Won mengiyakan usulnya untuk berpacaran dengan dirinya, Hyukjae memang selalu mengantar jemput Seung Won.

Baiklah, Hyukjae jujur akan perasaannya. Dia tertarik kepada Seungwon. Dia sedang berusaha untuk mengubah perasaan Seungwon untuk mulai menyukainya. Dan Hyukjae yakin dia bisa.

Begitu melihat Seung Won, Hyukjae segera menghampirinya.

“Annyeong Jagi.” Goda Hyukjae. Seung Won tersenyum kecil.

“Oppa, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Ucap Seung Won serius. Hyukjae mengerutkan keningnya.

“Ne?” tapi Sengwon tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan dan terpaksa Hyukjae mengikutinya.

Seung Won menuju ke café di seberang kampusnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Oppa, kita akhiri saja hubungan kita ini.”

Hyukjae terkaget. Tidak menyangka dia akan mendengar ucapan itu dari Seung Won.

“Tapi kita khan…”

“Gomawo, sudah mencoba membantuku. Tapi aku rasa ini tak akan berhasil. Kau tenang saja, aku tidak akan berbuat nekat atau apa. Tapi menurutku akan lebih baik jika kita berpisah saja. Sampai kapanpun  rasanya aku tidak akan bisa menyukaimu. Jadi kita berpisah saja ne?”

“Seung Won-ah,,,”

“Mianhaeyo.” Seung Won membungkuk lalu meninggalkan Hyukjae yang terpaku. Dia masih menganggap dirinya salah mendengar.  Tapi kenyataannya Seung Won tidak mau melanjutkan hubungan diantara mereka.

@@@@@

Miyoung melihat Hangeng yang tengah berkemas, namun dia diam saja. Hanya memperhatikan. Tetapi kembarannya yang membantu Hangeng yang berusaha menahan keinginan Hangeng.

Yah, Hangeng memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen kecil beserta Henry. Apalagi setelah adanya kejadian kecelakaan Hansia beberapa waktu yang lalu. Dia cukup sedih.

Begitu juga Henry. Dan akan lebih baik jika mereka tinggal berdua. Itu alasan yang dia bilang kepada semua orang. Tetapi sesungguhnya alasan sebenarnya adalah dia ingin menghindari Miyoung.

Hatinya masih menginginkan Miyoung, dan dia tidak ingin terluka. Dia juga tidak ingin memaksa Miyoung.

“Hyung, haruskah hyung pergi?” untuk kesekian kalinya Changmin bertanya.

“Iya Changmin. Lagipula apartemenku khan dekat dari sini. hanya beberapa menit saja khan? Kau bisa sering – sering main ke sana.” Ucap Hangeng.

Changmin mengangguk.

Mau bagaimana lagi?

Hangeng keluar sambil menenteng koper kecilnya. Matanya bertemu pandang dengan Miyoung. Dia tersenyum kaku.

“Miyoung-ah, gomawo.” Hanya kata itu yang terucap. Lalu dia pergi.

Hangeng memang memilih pergi saat di rumah hanya ada si kembar. Dia tidak akan sanggup beralasan kepada Shim Ajhussi. Karena sepertinya Shim ajhussi mengetahui perasaannya pada Miyoung.

Miyoung memandangi kepergian Hangeng.

Kajima, batin Miyoung.

Namun mulutnya tak mampu mengucapkannya hingga hangeng benar – benar pergi.

@@@@@

Shindong berjalan perlahan menuju ruang tunggu di Seoul University. Dihampirinya Kwon Sajangnim yang tengah bersama dengan Sohee, Heechul dan Kibum. Mereka berada di depan ruangan Raena yang tengah koma.

Benar.

Raena mengalami koma sejak kecelakaan beberapa hari yang lalu. Dan kemungkinan hidupnya tipis mengingat benturan di kepalanya yang teramat parah. Sohee sangat marah kepada Yongrae.

Karena dia menyebabkan Raena seperti ini. tapi baik Haraboji maupun Heechul menenangkannya. Apalagi Kwon haraboji yang berkali – kali menyalahkan sikap buruknya di masa lalu.

Bagaimanapun juga Yongrae adalah cucu kandungnya juga. Meski kehadirannya ditolak Yongrae.

Keadaan Yongrae pun tak lebih baik. bukan luka pada tubuhya. Tapi lebih ke psikologisnya. Batinnya yang terluka bertahun – tahun membuatnya jadi bersikap seperti itu, meski bukan sepenuhnya kesalahannya.

Tapi dia cukup merasa bersalah dengan keadaan Raena sekarang.

Satu – satunya orang yang masih bisa diterima kehadirannya hanya Ryeowook.

Dan haraboji meminta tolong kepada Ryeowook untuk memintakan maaf kepada Yongrae.

“Sajangnim..” panggil Shindong ragu.

Kwon haraboji mendongak.

“Shindong-ah.”

“Ada yang ingin aku beritahukan kepadamu sajangnim.”

“Ada apa?”

Shindong mengangsurkan sebuah kotak kayu. Kwon Haraboji menerimanya dengan bingung. Dibukanya kotak itu. Pandanganya terpaku pada foto lama. Foto Kwon Minjee dan Kang Wonbin. Beserta sopir Shin dan istrinya. Didalam foto itu mereka nampak bahagia.

Air mata Kwon Haraboji menetes melihat foto itu. Karena keegoisannya dia tidak lagi bisa melihat putrinya lagi. Karena keegoisannya sekarang dia dibenci oleh cucu kandungnya.

“Haraboji.” Sohee mendekati harabojinya. Sohee melihat foto yang ditatap harabojinya. “Ini siapa?” tak ada jawab dari harboji. Dia menatap kea rah Shindong.

“Oppa. Siapa yang bersama dengan Shin Ajhussi?”

“Mereka orangtua Kang Yongrae sekaligus Shin Raena.” Ucap SHindong pelan.

“Mwoya?”

Baik Haraboji, Sohee maupun Heechul nampak terkaget mendengar ucapan Shindong ini.

“Sajangnim, Raena dan Yongrae kembar. Mereka putri dari Kwon Minjee dan Kang Wonbin. Dengan kata lain, mereka adalah cucu kandung anda. Dan Sepupu Sohee-ssi.”

Sohee menatap Shindong tak percaya.

“Apa itu benar Oppa?” Tanya Sohee. Shindong mengangguk.

“Tapi bagaimana mungkin? Raena anak Shin ajhussi bukan?”

“Sajangnim ingat saat anda tidak menyetujui pernikahan putri anda dengan Kang Wonbin ajhussi? Mereka selama ini tinggal bersama Shin Ajhumma. Maaf, karena Shin ajhussi tidak memberitahukannya kepada anda. Shin Ajhumma divonis tidak bisa hamil. Dan kebetulan Nona MInjee melahirkan bayi kembar. Mereka merawatnya bersama – sama. Sampai kemudian ketika si kembar berulang tahun ke 5, Nona Minjee dan WOnbin ajhussi menemui anda. Dan anda mengusirnya. Kebetulan saat itu yang bersama orangtuanya adalah Yongrae. Raena tengah sakit. Semenjak pengusiran tersebut, wonbin ajhussi memutuskan untuk mengajak istri dan Yongrae keluar negeri. Dan memberikan Raena kepada Shin ajhussi. Agar kelak, anda tidak canggung saat menyadari Raena cucu kandung anda.”

“Sayangnya Nona Minjee dan Wonbin ajhussi keburu meninggal dalam kecelakaan sebelum bertemu dengan Raena. Sehingga rahasia ini terus tersimpan sampai Shin Ajhussi meninggal. Ajhussi menyuruhku untuk memberitahukannya saat Sajangnim berulangtahun ke 78tahun ini. Jwoesonghamnida Sajangnim.”

“kenapa kau rahasiakan hal ini Shindong-ah?” tuntut Kwon Haraboji.

“Shin Ajhussi menyuruh saya atas permintaan terakhir Nona Minjee.”

Sohee terduduk dengan lemas. Ada rasa senang menyelusup hatinya menyadari mereka bersaudara. Tetapi dia sedih karena keadaan Raena yang tidak ada perubahan juga.

Mereka tidak menyadari ada orang lain yang mendengarnya. Yongrae. Mendengar semuanya. Dia langsung berbalik.

“Chloe..” panggil Ryeowook. Namun diabaikannya panggilan Ryeowook. Tanpa berpikir panjang lagi Ryeowook mengejarnya.

@@@@@

Sudah lama Raena tertidur. Tidak ada sedikitpun kemajuan. Setiap hari Heechul akan menunggui Raena. Sesekali akan berganti dengan Sohee atau Hangeng.

Yongrae pun berdamai dengan harabojinya. Namun dia lebih memilih untuk tinggal diapartemen Raena dulu. Perasaan bersalah menghantuinya. Untunglah ada Ryeowook yang masih menemaninya.

“Chloe, aku sepertinya harus segera ke London.” Ucapan Ryeowook membuat Yongrae terkaget.

“Apa? Ke London?”

“Benar. Eomma dan Appa menginginkan aku harus kembali ke London.” Ucapan Ryeowook begitu lirih. Seperti ada beban.

“Apa.. apa kau akan segera menikahi Cathy?”

Ryeowook mengangguk lemas. “Kemarin aku mencoba untuk membujuk eomma dan appa, tapi aku gagal.” Senyumnya perih. Yongrae merasakan hatinya sakit. Lagi. Seperti 5tahun yang lalu.

“Chloe ada yang mau aku tanyakan padamu.”

“Apa?”

“Kenapa kau berbohong padaku dulu? Saat aku menemukan tulisan – tulisanmu kenapa kau berbohong, kau mengatakan kau bercanda padaku? Kenapa kemudian kau menghilang? Apakah kau tidak pernah menganggapku sahabat?”

“Kau bukan sahabatku.”

“Mwoya?”

Yongrae menghindari tatapan Ryeowook. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat. Kau lebih dari sahabat bagiku. Kau adalah orang yang aku sukai.”

Ryeowook lega mendengar ucapan Yongrae. Namun, mengingat pernikahan yang akan dilakukannya dengan Cathy sebentar lagi membuat Ryeowook menahan rasa itu.

“Chloe…”

“Bisakah kau memanggilku Rae?” potong Yongrae.

“Eh?”

“Aku ingin dipanggil Rae olehmu. Kau memanggil Rae pada RAena. Aku juga ingin.”

“Rae-ya.” Bisik Ryeowook.

Yongrae memeluk Ryeowook. Sambil menangis. Ini adalah tangisan pertama Yongrae yang diperlihatkannya kepada Ryeowook setelah kematian orangtuanya.

“Wookie-ah, joahaeyo..” ucap Yongrae pelan.

Ryeowook ingin berteriak dan mengucapkan hal yang sama kepada Yongrae namun dia tidak bisa. Dia tidak ingin membuat keadaan semakin sulit untuk Yongrae. Akan lebih baik jika dia berdiam diri saja.

Yongrae-ya, saranghaeyo.. jeongmal saranghae….batin Ryeowook

@@@@@

Dan semua yang terjadi pun tak akan lepas dari takdir bukan?

Kesempatan kedua telah datang

namun, apakah hasil akhir akan sesuai harapan?

Lalu semuanya pun kembali kepada Takdir.

@@@@@

Heechul menatap wajah Raena. Wajah pucat Raena yang tidak juga mau membuka matanya.  Dia masih asyik dengan tidur panjangnya.

Padahal Heechul telah berupaya membujuknya untuk terbangun. Agar mereka bisa kembali bersama. Agar Raena bisa bersama SOhee juga. Terlebih kepada saudara kembarnya.

Tapi Raena terlalu keras kepala untuk membuka matanya. Dia seperti enggan untuk bangun.

“Rae-ya, kenapa kau begini hm? Aku baru menemukanmu. Kenapa kau harus tertidur? Bukalah matamu Raena. Ayo kita mulai dari awal. Kau dan aku. Tidak ada lagi kepura – puraan. Kau haruslah tetap menjadi Raena bukan lagi menjadi Sohee atau siapapun. Aku ingin mendengar suaramu. Aku ingin bermain – main bersamamu lagi. Kau ingat Yoogeun Rae-ya. Dia juga merindukanmu. Apa kau tidak merindukannya?”

Heechul menggenggam jemari RAena. “Kau bahkan belum mengucapkan maaf dengan benar.  Aku benci pembohong. Tapi aku lebih benci lagi orang yang keras kepala sepertimu. Kau sangat keras kepala Raena. Kenapa kau tidak juga mau membuka matamu. Apa kau tak melihat Mama Hangeng yang menangisimu?”

Heechul terus mengoceh. Mengucapkan apa saja yang ada diotaknya meskipun sepertinya sangat kacau.

“Rae-ya. Dan kau juga harus tahu.. aku…” heechul menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. “Saranghaeyo Shin Raena. Jeongmal saranghae.” Ucap Heechul lembut sambil mencium punggung jemari RAena.

Seperti merespon ucapan yang dilontarkan Heechul, disudut mata Raena yang tertutup rapat mengalir tetesan air mata.

Heechul yang tidak mengetahuinya menunduk sambil menahan isak tangisnya.

“Aku benar – benar mencintai seorang Shin Raena yang aku temui dalam waktu sehari. Karena itu kumohon bukalah matamu.”

Heechul mungkin sudah berada di batas asanya. Karena itulah akhirnya dia menangis mendapati orang yang paling dicintainya ini berbaring dalam diam dan pasti dia sedang berjuang melawan maut.

Heechul merasakan gerakan jemari Raena. Heechul mendongak dan dia melihat Raena kesulitan bernafas.

“Rae-ya, apa yang terjadi? Rae-ya.” Dengan panic Heechul menekan tombol merah.

Namun, sebelum dokter datang Heechul mendengar suatu suara yang membuatnya merinding. Suara yang membuatnya putus asa. Dengan panic dia melihat ke monitor yang mendeteksi detak jantung Raena.

Garis Lurus.

Diringi suara yang nyaring. Sangat nyaring di telinga Heechul yang berdiri membeku. Tanpa bisa bergerak.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.

Dracula Part 2C

 

Tittle : Dracula – Meeting Part 2C

Author : Frey

dibantu : Nta, Nana, Hyochan, Nova dan Aulia *yang mau dengerin curhatan aku juga yang sering aku tanya2in*

Cast : Bisa dilihat di Covernya *nunjuk bawah*

Rated : entahlah antara PG & NC

Genre : Fantasy, Romance, Horor (sedikit)

Warning : Gaje, typo, aneh dll

Disclaimer : semua cast disini milik Tuhan, Ortu an juga milik mereka masing2, ide awalnya punya aku.. dan berkembang karena masukan berbagai pihak

Summary : Mereka, makhluk kegelapan yang mengincarmu, para manusia *apa dech ini summary?*

 

 

di prolog ada yang banyak tanya siapa castnya? cewek itu sapa? yang jadi drakulanya sapa? okeh, yang dicover itu adalah para drakula – drakulanya. cewek itu juga masuk dalam keluarga drakula. siapa dia? bisa diketahui setelah membacanya. dan jika part ini aneh sekali, saya minta maaf, karena ini baru perkenalan para castnya saja. dan seperti biasa aku minta komentnya. kritiknya juga gapapa. saya mau sekali dikritik. sehingga bisa membuat karya lebih baik. karena saya baru belajar.

 

Part Meeting yang C ini mungkin yang paling aneh diantara part sebelumnya.

 

Okeh.. happy reading ya …^^

 

 

 

~ Meeting ~

 

 

 

~RyeoSang~

Song Sangin, gadis yang paling berbakat di jurusannya itu nampak lesu malam ini. Bagaimana tidak? Sebentar lagi dia akan mengikuti Kejuaraan Music, tapi sampai sekarang dia belum menguasainya. Dia masih merasa belum berhasil mendapatkan hasil yang diingininya.

Sangin bahkan sudah hampir 2jam berlatih sendiri sekarang ini. kebetulan mata kuliah terakhir kosong. Dosen tidak datang sehingga Sangin bisa berlatih. Namun sampai dua jam kemudian Sangin masih juga merasa gagal.

Sangin menekan tuts piano putus asa.

“Payah. Benar – benar payah.” Gumamnya. Dia menjatuhkan kepalanya di atas tuts – tuts piano. Dan memejamkan matanya. Entah kenapa dia tidak ingin segera pulang. Padahal waktu tutup kampus tinggal 15 menit lagi.

“Kau tidak payah. Hanya kau belum bisa menyatukan nada dengan hatimu.” Ucap seseorang. Sangin kaget dan langsung menegakkan tubuhnya. Dia menoleh ke arah pintu. Sepertinya ada seseorang masuk tanpa Sangin sadari.

“Tak usah bingung atau takut. Aku masuk saat kau tengah melamun tadi.” Sangin mengernyit heran. Ruangan ini begitu gelap. Bagaimana bisa orang itu tahu ekpressinya. Dia bahkan tidak mengeluarkan satu patah katapun.

Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar di ruangan sunyi ini. seseorang muncul dari balik bayang – bayang kegelapan. Sinar bulan menyorot ke arah orang itu berhenti.

Seorang namja. Imut. Tidak terlalu tinggi. Pucat.

Itu kesan yang dapat Sangin tangkap pada sekali pandang itu.

Sangin masih diam saja. mulutnya kelu untuk sekedar mengucapkan satu perntanyaan saja.

Namja itu tersenyum. Membuatnya terlihat ramah.

“Annyeong aghassi, kau pasti kaget ya. Mian sudah mengganggumu.” Ucap namja itu,

“Oh, n-ne, gwenchana. Lagipula aku harus segera pulang. Jam tutup kampus tinggal sebentar.” Ucap Sangin.

“Hm,,, tunggulah sebentar lagi.” pinta namja itu.

“Ne?”

“Namaku Ryeowook. Kim Ryeowook. Aku tertarik padamu saat mendengar nada piano yang kau mainkan ini. dan aku bisa merasakan satu kekosongan saat kau mainkan tadi.”

“Apa kau ini guru musik? Atau seorang pianis?”

Namja bernama Ryeowook itu tersenyum.

Dia berjalan ke arah sangin dan piano. Lalu duduk di kursi panjang yang juga di duduki Sangin.

Perlahan ditekan – tekannya tuts piano hingga menghasilkan nada indah yang memabukkan bagi Sangin.

Gadis itu memejamkan matanya mengikuti alunan nada yang dihasilkan tangan ajaib Ryeowook. Sedangkan Ryeowook yang mengetahuinya hanya menyeringai.

“Bagaimana?” tanya Ryeowook setelah menghentikan permainannya.

“Bagus sekali.” ucap Sangin. Dia membuka matanya. Dan mendapati mata kelam Ryeowook menatapinya. Membuat wajah Sangin memerah karena malu.

“Ah.. ng… aku harus pulang. Aku tidak mau terkunci di dalam kampus sampai besok pagi.” Ucapnya gugup.

“Aghassi. Siapa namamu?”

“Song Sangin.” Ucap Sangin. Dia lalu bergegas mengambil tas dan keluar.

Namun, dia teringat sesuatu dan berbalik. Tapi itu adalah kesalahan fatal baginya. Karena saat dia berbalik dia melihat pemandangan yang cukup mengerikan.

Di sana, di atas kursi yang tadi didudukinya namja bernama Ryeowook itu telah menghilang. Digantikan sesosok laki – laki berjubah panjang hitam. Dengan kerah jas terangkat tinggi. Matanya berwarna merah. Dan giginya bertaring. Selain itu jari jemari makhluk itu juga runcing sekali.

Mengetahui ada orang menatapnya makhluk itu menoleh dan menyeringai. Sekejap dia berubah menjadi kelelawar. Makhluk yang paling ditakuti Sangin.

“Ke-lela-war…” desis Sangin sebelum kesadarannya menghilang.

Dia pingsan. Karena terlalu takut pada kelelawar. Dan dia tidak pernah mengetahui kelelawar itu kembali berubah menjadi manusia imut yang memperkenalkan namanya sebagai Kim Ryeowook.

Digendongnya tubuh Sangin yang pingsan. Dan tersenyum senang.

“Akhirnya, kau tidak akan bisa kabur lagi.” gumamnya sebelum menghentakkan kakinya dan menghilang bersama Sangin dalam gendongannya.

@@@@@

 

~MinRim~

Dongrim membuka pintu klinik kampus. dia harus pulang karena jam tutup kampus sebentar lagi. setelah memastikan klinik rapi dan tidak ada orang lagi Dongrim mematikan lampu klinik lalu bergegas menuju parkir mobil.

Baru beberapa langkah ada seseorang memanggil.

“Uisa.” Panggilnya. Dongrim menoleh.

Ada seseorang tengah berjongkok. Dia memegangi perutnya.

Karena khawatir Dongrim menghampiri namja itu.

“Gwenchanayo?” tanyanya.

Namja itu mengangkat wajahnya. Membuat Dongrim terpekik kecil. Namja itu pucat sekali.

“Kau kenapa? Kau Nampak pucat sekali.” Ucap Dongrim.

“Aku kedinginan. Dan perutku sakit sekali.”

Secepat kilat Dongrim melepas mantelnya dan menyampirkannya ke tubuh namja imut itu. “Pakai ini semoga kau tidak terlalu kedinginan lagi. dan ayo masuk ke dalam. Aku akan mencarikan obat untukmu.”

Dongrim membantu namja itu berdiri. Dingin. Dingin sekali tubuh namja itu saat tanpa sengaja Dongrim menyentuh kulit lengan namja tersebut.

“Berapa lama kau diluar?” tanya Dongrim pelan.

“Hm?” gumam namja itu.

“Tubuhmu dingin sekali. kau pasti lama berada diluar. Tapi aneh. Ini khan masih musim panas. Harusnya tidak akan membuatmu kedinginan seperti ini.” oceh Dongrim sambil memasukkan anak kunci ke lubangnya. Dinyalakannya lampu ruangan.

“Kau berbaringlah di sana. Aku akan mencarikanmu obat sakit perut. Eng, tapi perutmu sakit apa?”

“Aku kelaparan.”

Jawaban namja itu membuat Dongrim tertegun sejenak. Tapi dia segera tersenyum. Dia membuka tas dan mengaduk – aduk isi dalam tasnya.

“Ah, maaf aku hanya bisa menemukan ini. atau kau mau aku carikan sesuatu di toko 24jam depan sana?” tawar Dongrim. Dia memberikan sebungkus roti kecil.

“Aniya. Tidak perlu.” Tolak namja itu. Dongrim mengernyitkan keningnya bingung. Namja itu menyingkirkan roti itu dari hadapannya.

“Kau bilang kau kelaparan?”

“Benar. Tapi yang aku butuhkan bukan roti tapi darah.”

Dongrim ternganga. Tapi kemudian dia terkekeh. “Kau ini. jangan bercanda. Apa kau terlalu tergila – gila pada dongeng manusia penghisap darah? Tapi itu tidak lucu.” Dongrim tidak percaya membuat wajah namja imut tapi pucat itu menjadi kesal.

“Kau mau bukti?”

Dongrim menatap namja itu dengan pandangan geli. Tapi melihat bagaimana namja imut itu kesal Dongrim segera mengatur ekspresinya.

“Baiklah baiklah. kau tidak perlu membuktikan apa – apa padaku. Tapi sekarang bagaimana? Kau pucat. Kau bilang kelaparan. Tapi kuberi roti kau tidak mau. Sekarang jam tutup kampus. aku harus segera pulang.”

“Uisa. Bagaimana jika kau menemaniku menginap di kampus ini?”

“Mwo?”

“Ayolah uisa. Hanya malam ini saja. apa kau akan membiarkan aku yang tengah kesakitan ini sendirian di sini? bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku?”

“Aish.. kau ini menyebalkan.” Dongrim menarik kursi lalu duduk di sana. Sedangkan namja yang tengah berbaring di atas kasur hanya tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.

“Namaku Lee Sungmin. Namamu siapa uisa?” tanya Namja bernama Sungmin itu.

“Park Dongrim.”

Lee Sungmin tersenyum lagi lalu memejamkan matanya. Dongrim yang memang merasa lelah menaruh kepalanya diatas meja dalam ruangan tersebut. Perlahan matanya terpejam dan dia terbuai dalam alam mimpinya.

10menit setelah Dongrim tertidur, namja bernama Lee Sungmin itu terbangun. Dia menjentikkan jemarinya dan ruangan itu berubah menjadi gelap. Dia bangkit dan mendekati tempat Dongrim tertidur.

Dia mengangkat tubuh Dongrim dan membawanya ke atas kasur.

“Hm… aku sepertinya tidak salah pilih. Tunggu sebentar lagi sayang. Akan kupastikan kau menjadi milik Lee Sungmin seutuhnya.”

Dan namja itu menyeringai ke arah Dongrim disertai kilatan merah di bola matanya.

@@@@@

~YeHyun~

Lee Hyunra memainkan ponselnya sambil mendengarkan musik yang memasuki gendang telinganya lewat sepasang headset yang dia pakai. Suasana kampus masih agak ramai. sehingga dia santai tidak terburu – buru. Apalagi letak apartemennya tidak begitu jauh dari kampus ini.

Hyunra menghentikan langkahnya saat dia merasa ada sebuah gerakan di sekitarnya. Gadis berambut pendek itu menoleh. Tidak ada apa – apa. Sehingga dia berniat melanjutkan langkahnya.

Tetapi sesuatu menarik minatnya. Membuat Hyunra melangkah mendekati benda itu.

“Kura – kura?” desisnya.

Kura – kura itu cukup besar. Membuat Hyunra tertarik untuk semakin dekat.

“Ini khan kura – kura sebulan yang lalu?”

Hyunra menolehkan kepalanya kanan kiri memastikan tidak ada kelelawar yang menyerangnya seperti sebulan yang lalu.

Tidak ada apa – apa. Tidak ada siapa – siapa. Akhirnya Hyunra mengambil kura – kura itu.

“Kura – kura yang cantik ini milik siapa ya? Malam – malam berkeliaran di sini. apa milik mahasiswa sini juga? Tapi aku tidak pernah melihatnya?” Hyunra seperti orang gila yang berbicara sendiri.

Dia mengelus cangkang kura – kura tersebut. Dan si kura – kura hanya bisa diam sambil mengedipkan matanya sesekali. Membuat Hyunra gemas.

“Kau menyukai ddangkoma?” sebuah suara membuyarkan lamunan Hyunra. Dia mendongak dan mendapati seorang namja yang cukup tampan bermata sipit tengah berdiri tidak jauh darinya.

“Omo kau mengagetkanku. Kapan kau datang? Kenapa aku tidak mendengar langkahmu?”

Namja itu tersenyum kecil.

“Kau asyik dengan ddangkoma sehingga tidak menyadari kehadiranku.”

“Ddangkoma?”

“Ne. Itu nama kura – kura yang kau pegang itu.”

“Ah, ini kura – kuramu. Mianhaeyo.” Hyunra segera mengulurkan kura – kura itu ke arah namja tampan tapi pucat dihadapannya. Namja itu menerimanya. Lalu mengelus kura – kura itu lembut.

“Kau menyukainya?”

“Ne. Dia cantik sekali.” gumam Hyunra.

“Benar dia cantik. tapi sayang sekali ddangkoma ini jantan.”

“Mwo?” hyunra mengerjapkan matanya bingung.

Namja itu terkekeh. Lalu dia memilih duduk di bangku yang berada tidak jauh dari Hyunra.

“Kau mahasiswi di sini?”

“Ne. Naneun Lee Hyunra imnida.” Hyunra memperkenalkan dirinya.

“Kim Joongwon. Tapi kau bisa memanggilku Yesung.”

“Yesung?”

“Hm.. ne. Kenapa?”

“Aniya. Yesung itu bukankah berarti memiliki suara yang sangat indah?”

“Suaraku memang indah. Seindah wajahku ini.”

Hyunra membulatkan matanya tak percaya. Mana ada orang yang membanggakan dirinya sendiri seperti itu?

“Hey, kenapa memandang wajahku seperti itu? Apa kau terpesona padaku?”

Entah kenapa Hyunra merasa ingin melempar orang itu dengan suatu barang.

“Percaya diri sekali kau.” Ketus Hyunra.

Namja itu kembali terkekeh. Lalu menarik tangan Hyunra.

Hyunra bergidik menyadari rasa dingin menjalari sekujur tubuhnya akibat sentuhan Yesung.

“Kau kenapa?”

“Dingin sekali tanganmu.” Desis Hyunra. Yesung hanya mengangkat sebelah alisnya.

“Kau benar – benar menyukai Ddangkoma?” Yesung mengabaikan komentar Hyunra.

“Ne.” Angguk Hyunra.

“Kau ingin merawatnya?”

Mata Hyunra berbinar. Dengan semangat dia mengangguk.

“Sayangnya aku terlalu mencintai Ddangkoma hingga aku tidak akan memberikannya kepadamu.”

“Ya~ kalau begitu untuk apa kau menanyaiku?” hyunra mempoutkan bibirnya. Merasa sangat kesal.

“Tapi kau bisa melihatnya setiap hari.”

Hyunra diam saja, meski hatinya tertarik. Seperti bisa membaca pikiran Hyunra, Yesung segera berbisik.

“Aku serius. Kau bisa melihatnya dan bermain dengannya setiap hari.”

“Benarkah?” Hyunra bertanya juga pada akhirnya.

Yesung mengangguk. “Tentu saja ada syaratnya.”

“Apa syaratnya?”

“Kau harus menjadi temanku seumur hidupmu. Tidak boleh meninggalkanku apapun yang terjadi. Dan mengabulkan apapun yang aku inginkan.”

“Seperti lamaran saja.”

“Hey, ini bukan lamaran. Aku hanya memintamu jadi temanku seumur hidupmu. Bukan menjadi istriku.”

Hyunra menggerutu kesal dengan sikap Yesung ini.

“Otthe? Syaratku hanya itu.”

Hyunra terdiam, sebelum akhirnya dia mengangguk setuju. “Baiklah. rasanya tidak akan sulit.”

“Sebagai tanda kau menerima janjimu, kau harus memakai ini.” yesung menyodorkan sebuah benda. Cincin. Dengan permata kecil berbentuk kura – kura.

“Hey, kau benar – benar tidak sedang melamarku khan?”

Yesung menjitak kepala Hyunra. “Cepat pakai.” Bentaknya.

Setengah menggerutu Hyunra memakai cincin itu. Pas sekali.

“Hey ini pas sekali.  aish. Susah juga untuk dibuka.”

“Dengan ini, kau tidak akan bisa lari dariku Lee Hyunra.”

“Eh? Apa kau bilang?” tanya Hyunra yang tidak cukup jelas mendengar ucapan Yesung.

“Yesung-ssi, kenapa hanya di sini yang warnanya merah darah?” tanya Hyunra penasaran setelah memandangi cincin itu lekat – lekat. Cincin itu berwarna putih. Hanya ada dua titik berwarna merah darah. Dibagian mata kura – kura sepertinya.

“tidak usah dipikirkan.” Ucap Yesung. “Mau kunyanyikan kau sebuah lagu?”

“Hm boleh. Memangnya seindah apa suaramu Yesung-ssi?” goda Hyunra.

Yesung mengabaikan ucapan Hyunra. Tak lama terdengar suara yang sangat merdu keluar dari bibir tipis Yesung. Menyedot perhatian Hyunra. Hyunra merasa begitu senang mendengar nyanyian tersebut.

Perlahan matanya terpejam dan dia terkulai lemas. Kepalanya menyender di bahu Yesung. Kilatan cahaya merah muncul dari cincin yang dikenakan Hyunra bersamaan dengan hilangnya kesadaran Hyunra.

Kura – kura Yesung merambat menuju ke pangkuan Hyunra. Seperti mengetahui apa maksud dari  hewan tersebut, Yesung merangkulkan tangannya di pundak Hyunra lalu memejamkan matanya. Sekejap kemudian di tempat itu hanya ada sebuah kesunyian.

Mereka hilang, lenyap tak berbekas.

@@@@@

~RyYoo~

Kwon Yoora mencari sahabatnya Naewoon yang tiba – tiba menghilang. Dia begitu panik. Karena tidak biasanya Nae seperti ini. seperti merasakan sesuatu yang buruk tengah mengintai sahabatnya itu, Yoora berlari mencari sahabatnya tersebut.

“Kenapa kau terburu – buru?” suara itu menghentikan langkah Yoora.  Yoora bisa merasakan aura yang berbeda dengan manusia – manusia yang selama ini dia temui. Tetapi tidak asing baginya.

Yoora berbalik. Dan mata indahnya menemukan satu sosok namja berkulit putih. Tampan. Dan pucat. Dan tidak asing bagi Yoora.

“Kau?” tunjuk Yoora saat dia mengenali namja itu.

“Masih ingat aku Yoora-ssi?” namja itu berjalan menuju ke arahnya. Senyum sinis tersungging dibibirnya.

“BAgaimana aku bisa melupakanmu? Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan monster sepertimu.” Ucap Yoora pelan tapi dingin. Ucapan Yoora membuat namja itu terkekeh.

“Yoora-ssi, kenapa kau masih saja sinis kepadaku? Itu sudah lama berlalu.”

“Aku, Kwon Yoora akan selamanya membenci monster bernama Henry Lau. Kau tahu itu bukan?”

Henry semakin mendekat kea rah Yoora. Yoora berdiri sambil menantang. Dia tahu siapa Henry Lau. Dia adalah salah satu keluarga drakula yang mengerikan. Dia sejujurnya takut. Tapi rasa marah dan benci kepada Henry membuatnya mampu berdiri dengan mantap. Tidak berlari dan bersembunyi seperti dulu.

“Yoora-ssi, aku tertarik kepadamu.” Henry mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Yoora. Namun segera ditepis oleh Yoora.

“Jangan menyentuhku. Cepat katakan dimana kau menyembunyikan Naewoon?”

Henry menatapnya heran. “Naewoon?”

“Kim Naewoon. Dia sahabatku. Aku tahu kau yang membawanya? Apa kau akan membunuhnya seperti kau membunuh keluargaku? Cepat kembalikan dia.” Teriak Yoora.

“Aish… kau berisik sekali.” Ucap Henry acuh. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud.” Lanjutnya.

Yoora beranjak pergi meninggalkan namja itu. Tapi langkahnya terhenti saat dia merasakan panas di telapak tangan kirinya. Dia mengangkat tangan dan memperhatikan tangannya tersebut. Sebuah gambar sayap warna hitam samar – samar muncul di telapak tangannya.

“Kau tidak akan bisa pergi dan bersembunyi lagi. Kau akan menjadi milikku. Ingatlah itu Kwon Yoora-ssi.” Bisik Henry. Yoora hanya bisa diam mematung di tempat.

Sedangkan Henry telah menghilang di tengah kegelapan malam. Menyisakan hawa dingin merasuk tubuh Yoora.

@@@@

~ChulNa~

Raena berada di taman depan kampus. Karena ada urusan dia harus terlambat pulang. Suasana kampus benar – benar sudah sepi.

“Hah, pasti sudah tidak ada taksi. Minyoung juga sudah pulang. Harus ke halte. Semoga masih ada bis.” Gumamnya.

Dipandanginya langit mala mini. Tidak terlalu mendung. Malah bulan Nampak bersinar terang. Sekali lagi dia memperhatikan sekeliling. Dan suasananya masih sama. Sepi. Sunyi senyap.

Perlahan Raena segera melangkahkan kakinya meninggalkan halaman universitas yang luas ini.

“Tidak baik wanita pulang sendirian malam – malam seperti ini.” Ucap seseorang. Raena menoleh. Dan mendapati seseorang tengah berdiri dibawah sebuah pohon. Tangannya memegang seekor kucing besar.

“Nuguseyo?” Tanya Raena.

Orang itu tidak menjawab. Dia masih mengelus kucingnya dengan tenang. Membuat kucing itu menggeliat. Geliatan kucing itu terhenti saat mata hijau haZelnya menatap sosok Raena.

Kucing itu ganti bergerak ingin turun. Dan majikannya sepertinya tahu keinginan dari kucing tersebut. Dibiarkannya kucing itu turun dan berjalan anggun menuju RAena yang masih berdiri di tempatnya.

Kucing itu melompat kea rah raena membuat gadis itu terhenyak kaget.

“YA~” karena tidak siap dia malah terjengkang kebelakang.

Namun, seseorang menahan tubuhnya.

“Hati – hati aghassi.” Ucap sang penolong. Raena menatap penolong bersuara lembut itu. Mata coklat. Wajah putih mulus. Sayangnya dia pucat.  Dia cantik sekali.

“Khamsahamnida.” Ucap Raena setelah dia bisa berdiri dengan benar.

Orang itu mengangguk. Dia mengambil kucing besar yang telah menerjang tubuh Raena tadi.

“Ah, kucingmu cantik sekali.” Ucap Raena. Gadis itu memang menyukai kucing. Sayangnya, apartemen tempat dia tinggal tidak memperbolehkannya memelihara hewan.

“Namanya Heebum.” Ucap orang itu.

“Heebum. Nama yang cocok untuknya.” Raena mengelus bulu – bulu kucing itu. Membuat kucing bernama Heebum mengeong manja.

“Kau menyukai kucing?”

“Iya. Aku sangat menyukai kucing.”

“Kalau begitu kita sama.”

“Ah ye, namaku Shin Raena. Kalau aghassi?”  Tanya Raena.

Orang itu menaikkan alis bingung. “Aghassi?” ulangnya.

Dengan yakin Raena mengangguk. Kenapa dengan orang ini? Dia yeoja khan? Lihat saja. Dia sangat cantik. Rambutnya ikal panjang sebahu. Meski dia amat sangat tinggi untuk ukuran yeoja, tapi dia langsing.

“Kau piker aku ini yeoja?”

“Memang iya khan? Kau sangat cantik.” Ucap Raena polos.

“Ya~ aku ini namja. Apa kau tidak melihat betapa tampannya aku?” orang itu sedikit membentak.

“Ani. Kau bohong ya? Kau ini tidak ada tampang seorang namja. Kau itu lebih cocok sebagai yeoja.” Raena bersikukuh mengatakan pendapatnya.

“Aish..” umpat orang itu kesal.

Raena tidak peduli. Dia malah asyik bermain dengan Heebum yang nampaknya sangat menyukai Raena.

“Terserah kau mau menganggapku apa.” Ketus orang itu. Raena mendongak. Dilihatnya lekat – lekat orang dihadapannya. Orang ini memang cantik.

“Ehm, mianhae… jadi kau namja? Namamu siapa?” Tanya RAena sedikit lembut. Namja itu meliriknya sekilas.

“Aku memang namja. Namaku Kim Heechul.”

Raena mengangguk. Meski di otaknya masih belum percaya 100% orang dihadapannya ini adalah namja.

“Masih belum percaya hm?” ujar orang bernama Kim Heechul itu. Namja itu menarik tangan Raena. Meletakkan di depan dadanya. Membawa tangan itu memutari dadanya. “Bagaimana? Rata khan?”

Wajah Raena memerah. “Hm, ne. mianhae.” Gugup Raena.

Heechul melepas tangan raena. Dan kembali focus ke Heebum.

“Hm, baiklah ini sudah malam sekali. Aku harus pulang. Aku takut tidak ada bis lagi”

“Raena-ssi, chakkaman.”

Raena berhenti. “Ne?”

“Ini gelangmu?” namja itu menyodorkan sebuah gelang yang diketahui itu memang miliknya.

“Ne. ini sudah satu bulan yang lalu hilang. Dimana kau menemukannya?”

“Tidak penting dimana aku menemukannya. Ini.” Namja itu menyodorkan gelang tersebut.

Dengan senang hari Raena menerimanya. “Gomawo.”

“Hm.” Angguk Heechul.

“Baiklah Heechul-ssi, aku permisi dulu.”

“Mari aku antar.” Ucap Heechul pelan.

“Ne.”

Keduanya berjalan menuju halte. Meski hanya berjalan kaki, tapi Raena cukup senang karena ada yang menemaninya. Untung sekali bis terakhir belum lewat. Sehingga RAena masih bisa pulang.

Tubuh ramping Raena menghilang di balik pintu bis. Saat dia menatap ke arah halte, sudah tidak ada siapa – siapa lagi. Kosong.

“Cepat sekali dia pergi.” Gumam Raena.

Tidak menyadari bahwa Heechul telah berubah menjadi makhluk tak terlihat yang tengah duduk di atas dahan pohon yang ada di dekat halte bi situ. Tangannya masih sibuk mengelus Heebum.

“Heebum kau menyukainya? Aku juga. Darahnya itu wangi sekali. Aku jadi tidak sabar ingin merasakannya. Tapi sekarang aku harus segera minum darah.”

Tepat saat dia berucap seperti itu ada seorang di halte bis. Tanpa membuang waktu Heechul melompat dan mendekati orang tersebut.

“aaaaaaaaaaaaaaaaaa….”

Jeritan memilukan itu mengantarkan malam yang akan segera tergantikan oleh sang fajar.

@@@@@@

Dan pada keesokan harinya, kota Seoul kembali dihebohkan oleh penemuan – penemuan mayat. Terlebih lagi di Seoul University. Yang sebagian besar korbannya adalah para penghuni kampus.

 

 

Apa yang terjadi dengan para incaran drakula itu? Bisakah mereka selamat? Ataukah akan menjadi budak mereka selamanya?

Nantikan di Part Selanjutnya.

 

=====è NEXT PART 3 ç=è JungWon Couple ç=è NEXT PART 3 ç=====

Dracula Part 2B

 

Tittle : Dracula – Meeting Part 2B

Author : Frey

dibantu : Nta, Nana, Hyochan, Nova dan Aulia *yang mau dengerin curhatan aku juga yang sering aku tanya2in*

Cast : Bisa dilihat di Covernya *nunjuk bawah*

Rated : entahlah antara PG & NC

Genre : Fantasy, Romance, Horor (sedikit)

Warning : Gaje, typo, aneh dll

Disclaimer : semua cast disini milik Tuhan, Ortu an juga milik mereka masing2, ide awalnya punya aku.. dan berkembang karena masukan berbagai pihak

Summary : Mereka, makhluk kegelapan yang mengincarmu, para manusia *apa dech ini summary?*

 

 

di prolog ada yang banyak tanya siapa castnya? cewek itu sapa? yang jadi drakulanya sapa? okeh, yang dicover itu adalah para drakula – drakulanya. cewek itu juga masuk dalam keluarga drakula. siapa dia? bisa diketahui setelah membacanya. dan jika part ini aneh sekali, saya minta maaf, karena ini baru perkenalan para castnya saja. dan seperti biasa aku minta komentnya. kritiknya juga gapapa. saya mau sekali dikritik. sehingga bisa membuat karya lebih baik. karena saya baru belajar.

 

Part Meeting ini panjang sekali, jadi aku bagi ke beberapa bagian, jadi ada beberapa cast yang belum kesebut disini.dan berbeda dengan part sebelumnya yang yah… ada adegan kisseu di bagian ini tidak ada adegan kiseu.. pertemuan mereka lebih manusiawi (?)

 

Okeh.. happy reading ya …^^

 

 

 

~ Meeting ~

 

 

 

 

~ShinNae~

Kim Naewoon menunggu sahabatnya di bangku yang ada dikoridor kampus. bibirnya merengut kesal, karena Yoora begitu lama. Apalagi ketika dirasakannya perutnya terasa perih.

“Ugh, maaghku… padahal ini sudah malam. Apa masih ada kedai makanan yang buka? Nae babo, kenapa tadi tidak makan dulu? ugh… Yoora mana lagi? kenapa dia belum muncul juga?” keluh Naewoon sambil memegang perutnya yang terasa melilit.

Dia menggigit bibir bawahnya karena merasa sakit yang amat sangat.

“Eomma…. sakit.” Rengeknya.

Tapi mana mungkin Eomma Naewoon ada di sini? dia khan bersama suaminya berada dibelahan dunia yang lain.

“Kau lapar?” seseorang bertanya membuat Naewoon mendongak. Sesosok namja yang errr…. agak gemuk mendekatinya. Pipi chubbynya sungguh menggoda Nae yang memang suka dengan sesuatu yang lucu – lucu.

“Ehm.” Angguk Naewoon. Namja itu mengulurkan sebuah roti yang cukup besar. Tanpa pikir panjang Naewoon mengambilnya dan melahap roti itu dengan semangat. Tidak dipedulikannya seringaian namja itu.

“Khamsahamnida.. eng…. siapa namamu?” tanya Naewoon dengan mulut penuh.

“Shin Donghee. Tapi kau bisa memanggilku Shindong. Senyum muncul diwajah pucat namja itu. Membuat mata sipitnya menghilang.

“Kim Naewoon. Kau boleh memanggilku Nae.” Lalu Naewoon kembali berkonsentrasi pada roti tersebut. Meski sudah makan, tapi perutnya masih sedikit perih juga. Dia meringis karenanya.

“Kenapa?”

“Maaghku…” rintih Nae.

Namja itu mengulurkan sebuah botol obat maag kepada Naewoon.

“Minum ini.” ucapnya.

“Khamsahamnida.”

Nae langsung meneguk obat maag tersebut. Tak berapa lama, perutnya mulai membaik.

“Oh ya, apa kau mahasiswa atau dosen di sini? tapi aku tidak pernah melihatmu.”  Ucap Nae setelah dia merasa baikan.

“Ani.” Singkat jawaban namja itu.

Nae hanya diam saja. meski sesekali dia melirik namja yang menurutnya itu lucu.

“Tertarik padaku?” tanya Shindong tanpa mengalihkan pandangannya. muka Nae memerah.

“Aniya.”

“Oh ya Shindong-ssi, khamsahamnida atas roti dan obatnya ya.” Ucap Nae.

“Aku tidak mau terima kasih saja. aku mau ada bayarannya.”

Nae mengerjapkan matanya bingung.

“Mwo? Bayaran? Berapa? Aduh aku tidak membawa uang banyak.” Ucap Nae dengan panik.

Seringaian Shindong makin lebar. Dia mendekat dan membuat tubuh Nae membeku saat Shindong begitu dekat dengannya. Shindong mengendus leher Nae.

“Jadi milikku.”

“M-mwo?”

“Bayarannya kau harus menjadi milikku.” Bisiknya dengan suara yang berubah menjadi dingin. “Mengerti?” kali ini Shindong menegakkan badannya. Menatap lekat ke arah Nae.

Nae merasa tidak mampu untuk menolak. Padahal otaknya menyuruhnya untuk menolak dan pergi dari tempat itu. Tapi mulutnya mengkhianatinya.

“Ne.” Satu kata yang sukses membuat hidupnya akan segera berubah sejak saat itu.

Shindong lagi – lagi menyeringai. Lalu dia menarik tubuh Nae. Memeluk tubuh mungil itu tanpa penolakan. Dibalik pelukan itu, wajah Shindong berubah. Taringnya keluar dan matanya memerah.

Ya, dia adalah salah satu keluarga Drakula yang berhasil memperdaya korbannya. Dan sayangnya Naewoon tidak menyadari hal itu.

 

@@@@@

~HanHee~

Hwang Yunhee mencoba menghubungi ponsel Yongrim. Tapi hanya celotehan operator yang terdengar.

“Yongrim-ah, eoddie?” gumam Yunhee. Dengan panik dia bangkit dari duduknya dan menuju kelas Yongrim. Tapi baru setengah jalan dia melihat seekor kelelawar. Yunhee sangat takut kelelawar. Melihat binatang itu kepanikan dan ketakutan Yunhee bercampur.

“Ottokhe???” Yunhee menatap kelelawar itu dengan tatapan horor. Dan begitu menyadari ada manusia melihatnya, kelelawar itu mengepakkan sayapnya dan terbang.

“Hwaaaaa…” jerit Yunhee sambil berlari tunggang langgang. Dia benar – benar takut kelelawar.

“Hosh. Hosh.. hosh… mengerikan.”

“Apanya yang mengerikan?” yunhee terlonjak mendengar suara dibelakangnya.

“Ya~ kau mau buat aku terkena serangan jantung?” ketus Yunhee sambil berbalik.

Dia melihat seorang namja tampan di depannya. Wajahnya benar – benar mempesona. Yunhee hanya mampu melihat namja itu tanpa mampu bergeming.

“Hey.” Namja itu mengayun – ayunkan telapak tangannya di depan wajah Yunhee.

“eh, Ne?” gagap Yunhee. Namja itu tersenyum jail.

“Namaku Hangeng. Namamu siapa?”

“Hwang Yunhee.”

“Yunhee-ssi, kenapa kau berkata mengerikan?”

“Aaaa… Itu ada Kelelawar.” Adu Yunhee. Namja itu tersenyum.

“Kau takut kelelawar?”

“Ne.”

“Kenapa?”

“Menjijikkan.”

Yunhee bergidik membayangkan hewan hitam itu.

“Dimana kelelawar itu?” tanya Hangeng pelan. Yunhee mengedarkan pandangannya. tidak ada apa – apa lagi.

“Ah sudah tidak ada.” Cengir Yunhee sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hangeng tersenyum misterius. “Baiklah, aku pergi dulu ya.” Yunhee membungkukkan badan.

Belum jauh langkahnya, kepakan sayap mungil terdengar. Lalu terlihat seekor kelelawar terbang ke arahnya. Mata Yunhee terbelalak, kenapa ada lagi?

Yunhee berbalik dan berlari ke arah Hangeng yang masih berdiri disana.

“Tolong, tolong aku. Usir binatang menjijikkan itu dariku.”

“Hm.. lalu apa imbalannya kalau aku membantumu?”

Yunhee tidak berpikir panjang lagi. “Apa saja yang kau mau.”

Hangeng menyunggingkan senyumnya. “Kalau begitu jadilah pacarku.”

“Ne.” Jawab singkat Yunhee.

Senyum Hangeng semakin lebar. Dia menarik pinggang Yunhee untuk memeluknya. Dan telunjuknya mengarah ke arah kelelawar itu.

Plop

Kelelawar kecil itu berubah menjadi sebuah daun. Namun, Yunhee yang membatu di pelukan Hangeng tidak mengetahuinya. Dia masih mencoba menenangkan debaran jantungnya yang entah kenapa tiba – tiba berdetak kencang. Tanpa menyadari bahaya akan kehidupannya kelak.

@@@@@

~WonYoung~

Seperti hari – hari biasanya Shin Minyoung menjemput kakaknya. Kenapa dia harus selalu menjemput kakaknya? Karena kakaknya tidak bisa mengendarai mobil. Jadi terpaksa Minyoung menjemput kakaknya.

Minyoung tidak keluar dari mobil hanya membuka jendelanya. Dia merasakan semilir angin malam. Sedikit lebih dingin dari biasanya. Karena itulah Minyoung menutup kembali kaca jendelanya. Dia malah mengambil ipodnya. Menyumpal telinganya dengan headset.

Beberapa menit berlalu, namun kakaknya belum muncul juga. Padahal sepertinya kampus mulai sepi. Minyoung mengetukkan jemarinya setengah kesal karena harus menunggu lebih lama.

“Eonnie, kenapa lama sekali sich?”

Minyoung menarik sebelah headset yang menyumpal telinganya. Lalu diambilnya ponsel warna merahnya. Dia menekan sebuah kombinasi angka.

Tuut.

Nada sambung.

“Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk.. cobalah beberapa saat lagi.”

“Aish.. eonnie kemana sich?” gerutu Minyoung.

Tok tok tok.

Minyoung terlonjak. Dia menoleh ke kiri. Dimana ada seseorang mengetuk jendela kaca mobilnya. Minyoung menurunkan sedikit jendelanya.

“Ne?”

“Kau menunggu siapa aghassi?” suara yang cukup berat itu bertanya ke arahnya. Minyoung tidak bisa jelas melihat wajah orang itu. Tapi dari jenis suaranya dia yakin orang itu seorang namja.

“Aku sedang menunggu kakakku, Tuan.” Ucap Miyoung.

“Mau kutemani?” tawar orang itu.

Minyoung menimbang – nimbang. Sebelum dia mengangguk. “Baiklah.”

Minyoung keluar dari mobilnya. Saat itulah dia melihat sosok orang itu.

Dia namja yang sempurna. Sangat sempurna. Tinggi. Gagah. Tampan. Memiliki senyum yang sangat menawan.

Minyoung begitu terpesona pada namja itu. Menyadari gadis di depannya terpesona, namja itu memberikan senyum lebar memperlihatkan kedua dekik di pipinya. Membuat wajah yeoja itu semakin memerah.

“Aghassi, aghassi..” panggilnya.

Minyoung tergeragap kaget. Dan tersenyum malu juga kikuk.

“Choi Siwon. Namamu siapa?” namja itu mengulurkan tangannya.

“Shin Minyoung.” Minyoung menyambut uluran tangan namja tampan namun pucat itu. Dingin. Tangan namja itu sedingin es.

“Apa kau kedinginan?” tanya Minyoung.

“Hm? Aniya. Aku tidak kedinginan. Waeyo?” tanya Siwon.

“Tanganmu sangat dingin. Kau juga agak pucat.” Ucap Minyoung.

“Kau perhatian sekali.” siwon berucap lebih tepatnya mulai melayangkan rayuan. “Aku senang sekali bisa bertemu yeoja seperti kamu. sudah cantik, baik dan perhatian lagi.”

Wajah merah Minyoung makin memerah.

“Minyoung-ssi, sepertinya aku mengalami Love At First Sight kepadamu. Mau menjadi kekasihku?”

Minyoung terbengong. Namja ini…

Minyoung menatap kearah bola mata Siwon yang berwarna kelam. Dan dia seperti terhipnotis saat menatanpnya.

“Ne.” Angguk Minyoung.

Siwon menyeringai puas. Dia menarik tubuh Minyoung mendekat ke arahnya.

“You’re Mine. Selamanya kau milikku. Tak akan kubiarkan orang lain mendekatimu, Shin Minyoung.” Bisik Siwon.

Minyoung sedikit bergidik mendengar nada suara Siwon yang terdengar posesif itu. Tidak menyadari dirinya telah terjatuh dalam rayuan iblis bernama Dracula.

Satu lagi korban jatuh pada malam itu.

@@@@@

~KiEun~

Sung Eunhee tengah membereskan buku – buku yang berserakan dimejanya. Tapi pikirannya melayang ke kejadian tadi pagi.

Eunhee melihat tunangannya berselingkuh. Dan lebih menyakitkan adalah tunangannya itu berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Eunhee benci kepada keduanya. Dia tidak menyangka sahabat sejak mereka kuliah hingga bekerja bahkan tinggal bersamanya itu tega menusuk dirinya dari belakang.

“Jika ingin menangis, menangis saja. jangan ditahan. Itu akan menyakitimu.” Eunhee tersentak mendengar suara seseorang yang asing.

Dia menoleh dan mendapati seorang namja tengah santai menyandar di dinding tidak jauh dari pintu masuk. Ruangan ini remang – remang karena tadi Eunhee memadamkan lampunya.

“Nu-Nuguseyo?” tanya Eunhee.

Orang itu bergerak ke arah Eunhee.

Tampaklah seorang namja yang cukup tampan. Hidungnya mancung. Meski kulit wajahnya pucat.

“Annyeong Eunhee-ssi, naneun Kim Kibum. Aku adalah takdirmu.” Ucap namja itu membuat Eunhee membelalak kaget.

“Kau gila ya?” ucap Eunhee.

“Aniya. Aku sungguh – sungguh. Kau tidak perlu menangisi orang yang jelas – jelas mengabaikanmu itu.” Eunhee benar – benar bingung. Bagaimana bisa namja ini tahu apa yang tengah terjadi padanya. “Kau tak usah terkejut seperti itu. Aku tahu semua hal tentangmu.”

Eunhee menatap lekat namja itu. Bagaimana bisa namja itu tahu apa yang ada dipikirannya. Namja itu tersenyum membuat eunhee merasa ada kupu –kupu beterbangan di sekitar perutnya.

“Apa kau mau membalas perlakuan kedua orang itu?”

Eunhee menahan rasa terkejutnya juga rasa pensarannya terhadap namja itu. Dia hanya mencoba tersenyum saja. Dan membiarkan namja ini mengoceh.

“Aku tahu kau sakit hati. Aku bisa membalaskan rasa sakit hatimu.” Kibum lebih mendekati Eunhee.

“Jika kau bisa membalas rasa sakit hatiku ini, aku harus membayarmu berapa?” eunhee menatap sinis kea rah Kibum. Dia melupakan rasa terpesonanya saat Kibum mengoceh hal – hal tidak penting menurutnya.

Kibum menyeringai. “Kau cukup pintar juga eunhee-ssi. Kau cukup menjadi istriku. Maka, sakit hatimu akan terbalaskan.” Eunhee menganga.

Tidak sampai 1 jam dia dibuat bingung dan takjub oleh ucapan – ucapan namja yang baru dikenal ini.

“Bagaimana bisa. Kau ini lucu sekali Kibum-ssi.”

“Aku serius.” Eunhee kembali menatap Kibum. Dan ini kesalahannya karena Kibum balas menatapnya tajam. Membuat Eunhee merasa tidak mampu menolak.

“Baiklah. Aku mau menjadi istrimu.” Ucap Eunhee.

Kibum tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Sebuah cincin kecil dengan batu permata berwarna merah darah. Dipakaikannya cincin itu di jemari Eunhee. Lalu mengecupnya pelan.

“Kau sudah memutuskan menjadi istriku. Kau tidak akan bisa lepas. Kau harus menjadi budakku selamanya.” Bisik Kibum diiringi seringaian tanda kemenangan.

@@@@@

~MiMi~

Shim Miyoung melepas kaca matanya. Dia merasa sedikit lelah. Lalu melirik jam tangannya. 02.10 masih ada 20 menit lagi. Dan Miyoung memutuskan untuk membereskan buku – bukunya. Lalu meraih tasnya.

Miyoung menguap. Entah kenapa mala mini dia merasa sangat mengantuk. Sambil menguap dia melanjutkan koridor yang mulai sepi. Maklum sebagian besar penghuni kampus sudah pulang.

Miyoung mengambil ponselnya. Dia harus menghubungi sopirnya agar segera menjemputnya. Namun, karena tidak memperhatikan jalan dia menabrak seseorang.

Brugh…

“Ah…” ringis Miyoung.

“Gwenchana Aghassi?” Tanya orang itu.

“Nan gwenhana.” Senyum Miyoung. Orang itu mengulurkan tangannya. Yang langsung disambut Miyoung. Tapi Miyoung sedikit bergidik. Dingin.

Tangan orang itu sedingin es. Miyoung memperhatikan orang yang ternyata sangat tinggi itu. Hidungnya mancung sekali. Namun wajahnya pucat.

“Kau sakit tuan?” Tanya Miyoung perhatian.

“Mwo? Aniya. Kenapa kau bertanya begitu?” Tanya orang itu.

“Kau Nampak pucat. Lagipula tanganmu dingin sekali.”

“Oh, aku tidak apa – apa. Hanya aku merasa begitu kedinginan saja.”

Miyoung mengangguk. “Benar. Malam ini memang sangat dingin.” Lalu dia melepas jaketnya. Dan menyerahkannya kepada orang itu. “Pakailah ini agar kau tidak kedinginan.”

“Tapi kau…”

“Bajuku cukup tebal. Sedangkan bajumu tipis seperti itu. Pakailah.” Paksa Miyoung. Orang itu menerima jaket Miyoung.

Sedikit kekecilan meski saat dipakai Miyoung begitu besar.

“Kamsahamnida.” Ucap orang itu.

“Tidak perlu sungkan. Oh ya namaku Shim Miyoung. Kau?”

“Zhoumi.” Namja bernama Zhoumi itu menyunggingkan senyum manisnya. Membuat Miyoung ikut tersenyum.

“Kau ini wanita baik.” Ucap Zhoumi.

“Terimakasih pujiannya.”

“Tidak perlu sungkan.” Zhoumi membalik ucapan Miyoung. Membuat gadis itu lagi – lagi tersenyum. “Oh ya, kudengar di sini beberapa minggu lalu terjadi pembunuhan?”

Miyoung menghela nafas panjang. “Benar.”

“Lalu?” miyoung mengernyitkan keningnya. Bingung.

“Lalu apa?”

“SUdah diketahui siapa yang membunuh?”

“Belum.”

Miyoung menjawab singkat. Bukan karena dia tidak mau berbicara, tapi dia sensitive dengan kejadian beberapa minggu lalu. Karena salah satu korbannya sebelum meninggal sempat berselisih pendapat dengannya.

Itu membuat beberapa temannya curiga terhadapnya. Apalagi Miyoung memang penyendiri.

“Apa mungkin yang membunuh mereka itu drakula?”

Miyoung terdiam. Memang ada beberapa kabar mengatakan hal tersebut. Tapi Miyoung menggeleng pelan.

“Itu tidak mungkin bukan? Mana ada Drakula di zaman sekarang? Kau jangan bercanda Zhoumi-ssi.”

Zhoumi menatap lekat kea rah Miyoung.

“Tapi Miyoung-ah, jika aku ini drakula bagaimana?”

Miyoung menatap ke arah Zhoumi. Mengangkat sebelah alisnya. “Drakula? Kau? Kau bercanda. Jika kau drakula kau pasti akan langsung menghisap darahku. Lagipula drakula itu tidak mungkin setampan kau khan?”

Zhoumi tersenyum. Tanpa Miyoung sadari, wajah Zhoumi sedikit berubah. Matanya berkilat merah dan taringnya sedikit demi sedikit keluar. Namun, hal itu menghilang saat Miyoung menoleh ke arahnya.

“Aku harus segera pulang. Annyeong Zhoumi-ssi.”

“Chakkaman.”

“Ne?”

Zhoumi mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kotak kecil berwarna ungu muda, warna kesukaan Miyoung.

“Ige Mwoya?” Tanya Miyoung heran.

“Bukalah.”

Miyoung menurut. Sebuah kalung dengan bandul laki – laki terbang. Mungkin malaikat. Namun dibagian kedua matanya ada batu permata berwarna merah darah.

“Ini..”

“Tanda pertemanan antara kita. Kau meminjamkan jaketmu, izinkan aku memberikan sesuatu kepadamu.”

“Tapi ini… kau tidak perlu…”

“Tidak apa. Aku suka kok.” Potong Zhoumi. Dia mengambil kalung itu lalu memakainya dileher jenjang Miyoung. Melihat leher itu Zhoumi merasa nafsunya bangkit. Tapi dia menahannya.

Belum saatnya.

“Gomawo.”

“Cheonmaneyo.”

“Aku pulang dulu Zhoumi-ssi.”

“Hati – hati.”

Miyoung tersenyum. Lalu berbalik pergi.

Zhoumi perlahan berubah menjadi manusia kelelawar. Dengan jaket miyoung dalam genggamannya. Matanya berkilat merah. Begitu juga dengan kalung yang Miyoung kenakan. Batu permata merah itu sekilas Nampak bercahaya. Namun, Miyoung tidak menyadarinya.

 

 

=====è NEXT C =====è DRACULA MEETING ====è NEXT C ==========è

 

Dracula Part 2A

ittle : Dracula – Meeting Part 2A

 

Author : Frey

dibantu : Nta, Nana, Hyochan, Nova dan Aulia *yang mau dengerin curhatan aku juga yang sering aku tanya2in*

Cast : Bisa dilihat di Covernya *nunjuk bawah*

Rated : entahlah antara PG & NC

Genre : Fantasy, Romance, Horor (sedikit)

Warning : Gaje, typo, aneh dll

Disclaimer : semua cast disini milik Tuhan, Ortu an juga milik mereka masing2, ide awalnya punya aku.. dan berkembang karena masukan berbagai pihak

Summary : Mereka, makhluk kegelapan yang mengincarmu, para manusia *apa dech ini summary?*

 

 

di prolog ada yang banyak tanya siapa castnya? cewek itu sapa? yang jadi drakulanya sapa? okeh, yang dicover itu adalah para drakula – drakulanya. cewek itu juga masuk dalam keluarga drakula. siapa dia? bisa diketahui setelah membacanya. dan jika part ini aneh sekali, saya minta maaf, karena ini baru perkenalan para castnya saja. dan seperti biasa aku minta komentnya. kritiknya juga gapapa. saya mau sekali dikritik. sehingga bisa membuat karya lebih baik. karena saya baru belajar.

 

Part Meeting ini panjang sekali, jadi aku bagi ke beberapa bagian, jadi ada beberapa cast yang belum kesebut disini.

 

Okeh.. happy reading ya …^^

 

 

 

~ Meeting ~

 

 

Kehebohan yang terjadi di Seoul University karena kematian beberapa mahasiswi dan dua penjaga keamanan Seoul university mulai terlupakan. Karena hampir sebulan setelah kejadian itu, tidak ada lagi kejadian aneh lainnya.

Namun, sesungguhnya dalam benak para penghuni kampus, masih bertanya – Tanya apa yang terjadi, dan siapa yang telah dengan sadisnya membunuh dan menghisap darah mereka.

Malam ini, malam bulan purnama kembali. Dan sama seperti satu bulan lalu, suasana di malam bulan purnama ini juga berhawa aneh. Tidak ada bintang yang menemani bulan, meski mendung tidak muncul.

Dan malam ini para drakula mulai mencari mangsanya kembali. Seperti apa cara mereka menemukan mangsanya? Dan apakah mereka akan selamat dari incaran drakula – drakula ganas itu?

 

~ JungWon ~

Seungwon, sama seperti setiap harinya. Dia menyusuri koridor kampus sendirian. Calon dokter itu entah kenapa teringat kejadian satu bulan lalu. Saat dia melihat kelelawar itu. Lalu keesokan harinya dia menemukan teman sekelasnya meninggal karena kehabisan darah. Di lehernya terdapat bekas gigitan.

Kelelawar. Bukankah identik dengan drakula?

Dia teringat dengan ucapan teman – temannya beberapa hari setelah kejadian tersebut.

“Drakula atau vampire itu mereka menghisap darah manusia sampai habis. Tapi mereka juga bisa mengubah manusia menjadi seperti mereka jika manusia meminum darah mereka.”

“Hati – hatilah pada kelelawar, karena bisa jadi kelelawar itu penjelmaan drakula.”

Seungwon terhenti ditengah jalan. Bulu kuduknya berdiri. Sama seperti saat itu. Dia menoleh. Dan melihat seekor kelelawar mengawasinya. Begitu pandangan mereka bertemu, kelelawar itu langsung terbang.

Entah, seperti merasakan sebuah insting, Seungwon berlari mengikuti kelelawar itu, sampai di depan sebuah gereja.

Seungwon terengah – engah. Tangan kirinya memegang dadanya yang sesak, dan tangan kanannya memegangi pohon di depan gereja kampus. Karena dia tidak terbiasa berlari.

Seungwon menatap lurus ke dalam gereja yang remang – remang. Sepertinya ada orang yang menyalakan lilin atau apa lah hingga menghasilkan cahaya kecil dalam ruangan itu.

Tiba – tiba Seungwon melihat dua bayangan dalam gereja. Sepertinya seorang yeoja dan namja. Mereka seperti tengah berciuman. Seungwon ingin beranjak, tapi instingnya menyuruhnya untuk masuk ke gereja.

Dan dia mengikuti instingnya. Dia membuka pintu gereja. Di sana, dia bisa melihat seorang namja berambut emas, dan berjubah hitam tengah memeluk seorang yeoja dengan erat.

Tapi Seungwon terbelalak, saat menyadari bahwa namja itu memiliki taring yang sangat tajam. Lalu, dia bisa melihat betapa brutalnya namja itu menancapkan taringnya ke leher yeoja itu. Diiringi teriakan yang memilukan hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Seungwon hanya mampu membeku menatap bagaimana namja itu menghisap darah yeoja malang itu dengan rakusnya. Setelah beberapa detik, akhirnya seungwon tersadar.

“Andwe.. andwe.. andwe..” lirihnya. Dia berjalan mundur, sambil matanya tak lepas dari pemandangan di depan sana.

Meski ucapannya lirih, sepertinya namja itu mengetahui kehadirannya. Setelah merasa puas, dia melepas korbannya yang langsung tergeletak kehilangan nyawanya. Dia menoleh dan menatap Seungwon dengan matanya yang berkilat merah.

Melihat Seungwon, namja bertaring itu menyeringai menyeramkan. Dan perlahan mulai berjalan kea rah Seungwon. Sadar akan bahaya yang menghampirinya, seungwon berbalik untuk menuju pintu gereja.

Blammm.

Pintu gereja tertutup seketika, menghentikan langkah Seungwon. Dengan nafas memburu karena ketakutan, Seungwon berbalik.

“Akh..” pekiknya, mendapati betapa dekatnya namja itu. Cahaya bulan menerobos celah – celah jendela kaca yang tirainya tak tertututp rapat, memperlihatkan wajah pucat yang tampan. Matanya berwarna coklat bening. Tak ada taring di bibirnya. Tapi bekas – bekas darah yang masih menetes membuat Seungwon yakin, namja ini sama dengan makhluk bertaring tadi.

“Mau apa kau? Pergi.” Usir Seungwon dalam ketakutannya.

Namun, namja itu semakin mendekat. Jemarinya terulur menyentuh rambut Seungwon yang lengket karena keringat. Seungwon menutup matanya. Takut. Dia baru saja melihat bagaimana namja ini menghilangkan nyawa yeoja itu. Dan mungkin juga namja ini juga yang telah membunuh temannya sebulan lalu.

“Jangan takut.” Bisik namja itu. Suaranya membuat Seungwon seperti terhipnotis. Otaknya bisa berpikir. Tapi seluruh tubuhnya tidak bisa diperintahkan oleh otaknya. Dia membuka matanya dan menatap mata coklat itu.

Jemari namja itu beralih menyusuri pipi Seungwon.

“Namaku, Park Jungsoo. Kau harus mengetahui namaku sebelum kau memberikan darahmu. Hm.. kau sangat wangi. Darahmu pasti lebih enak dari darah yeoja tadi.” Endus namja bernama Park Jungsoo itu.

Seungwon makin ketakutan saat jungsoo mendekatinya. Tapi, dia tetap tidak bisa bergerak.

Wajah Jungsoo mendekat, lalu dia mengecup bibir merah Seungwon. Otak seungwon menjadi kacau. Jungsoo berhenti mengecup bibir Seungwon. Tapi hanya beberapa detik saja. Karena kemudian dia melahap bibir Seungwon. Menjilat sudut – sudut bibirnya. Menggigit bibir atas dan bawah Seungwon. Memaksanya untuk membuka, sehingga dia memiliki akses masuk ke dalam rongga mulut Seungwon.

Lidah Jungsoo bermain, menggeliat mencari lidah Seungwon yang masih pasif. Namun, Jungsoo terus memaksa Seungwon untuk membalasnya. Diiringi erangan lirih SEungwon, akhirnya dia membalas ciuman panas Jungsoo.

Seungwon bahkan bisa merasakan rasa asin dan amis. Asin dan amis darah yang tadi diminum Jungsoo.

Jungsoo merapatkan tubuh Seungwon. Seungwon sendiri langsung mengaitkan tangannya di leher Jungsoo.

“Sekarang waktunya, aku mencicipi darahmu.” Bisik Jungsoo. Mata coklatnya berubah menjadi merah saga. Taringnya keluar.

Seungwon terbelalak saat, dia merasakan kulit lehernya tertusuk sesuatu yang runcing dan tajam. Perlahan matanya menutup. Pasrah dengan kemungkinan yang terjadi. Nasibnya sama dengan yeoja itu.

~HyukRim~

Yongrim berjalan sambil mengutak atik kamera canonnya. Camera yang sudah seperti nyawa kedua bagi dirinya. Dia bahkan asyik memotret – motret halaman belakang kampus ini. Sambil menunggu Yunhee tentunya.

Padahal malam sudah semakin larut. Tapi dia masih bisa mendengar suara – suara orang. Yah, masih banyak mahasiswa – mahasiswi yang baru pulang.

Malam bulan purnama yang sempurna. Cahayanya benar – benar tanpa penghalang. Menyorot halaman belakang ini dengan sempurna.

Yongrim terhenti di dekat sebuah batu besar yang ada di halaman belakang itu. Di sinilah salah satu korban yang juga teman baiknya, menghembuskan nafasnya karena kehabisan darah.

Tapi siapa?

Apa benar drakula atau vampire? Issue yang berkembang seperti itu. Membuat Yongrim sedikit banyak memikirkan kemungkinan tersebut. Tapi… apa di zaman modern sekarang masih ada makhluk bernama Drakula?

Yongrim tersadar dari lamunannya, dia mengambil kameranya lagi. Mengambil posisi yang enak untuk memotret.

Yongrim terperanjat saat dia menangkap orang tengah berciuman, dia akan mengalihkan pandangannya saat dia melihat sesuatu yang menarik. Sang namja yang memeluk yeoja itu. Yang berambut blonde itu Nampak mengerikan dengan taring yang keluar dari sela – sela bibirnya. Dalam sekejap saja, namja itu menghujamkan taringnya dengan buas ke leher yeoja malang tersebut.

Yongrim terpaku untuk sesaat, namun dia bergegas untuk kabur. Sialnya tanpa sengaja dia malah menekan tombol klik dikameranya. Blitznya menyala sesaat membuat makhluk itu merasa terganggu. Dia menoleh dan mendapati Yongrim tak jauh dari tempatnya.

Namja itu menyeringai memperlihatkan gusi – gusinya. Dan begitu saja melepaskan yeoja tak bernyawa tadi. Yongrim yang merasakan bahaya segera berlari. Tapi baru beberapa langkah, namja itu sudah di hadapannya.

Memakai jubah hitam. Rambutnya blonde. Dan agak kurus. Matanya coklat sipit. Taringnya sudah tidak ada. Hanya darah yang mengalir disudur bibirnya. Lidah namja itu terjulur lalu bermain disudut bibirnya mencari sisa – sisa darah yang terasa nikmat baginya.

Yongrim masih membelalak saking takutnya. Dia berjalan mundur. Dan lagi – lagi dia sial. Dia jatuh terduduk. Namja itu semakin mendekat. Matanya berkilat – kilat penuh nafsu.

Yongrim mundur dengan mengesot karena dia tidak sanggup berjalan. Dan gerakannya terhenti karena terhalang oleh batu besar. Punggungnya bisa merasakan kerasnya batu itu.

Namja itu berjongkok didepan Yongrim.

“Apa maumu? Pergi. Pergi. Kau makhluk mengerikan.” Maki Yongrim. Nada suaranya bergetar. Ketakutan.

Namja itu tertawa. Dia tidak mengikuti perintah Yongrim yang menyuruhnya pergi. Dia mendekat, dan merebut kamera Yongrim.

“Kameraku.” Desis Yongrim. Alis namja itu terangkat sebelah. Setelah melihat – lihat camera itu, dia membuangnya begitu saja. Yongrim menggigit bibir bawahnya kesal.

“Ya~ siapa kau? Beraninya membuang kameraku yang berharga.” Kemarahannya mengalahkan ketakutannya.

“Siapa aku? Aku Lee Hyukjae.” Jawab namja itu.

“Ah, siapapun kau aku tidak ada urusannya denganmu. Cepat pergi dari sini.” Galak Yongrim.

“Kau salah. Kita ini saling berhubungan. Jadi ada urusannya kau dan aku.”

“Ma-maksudmu?” desis Yongrim. Hyukjae mendekatkan wajahnya.

“Kau baru saja mengganggu kesenanganku. Jadi sekarang waktunya kau membayarnya.”

“Mwo? ap.. Akh…” yongrim merasakan sakit dipunggungnya. Hyukjae mendorong tubuhnya hingga membentur batu besar itu. Posisi Yongrim setengah terbaring. Belum sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi, Yongrim merasakan tubuhnya ditindih.

Lalu, semuanya menjadi gelap bagi Yongrim, karena matanya terhalang wajah Hyukjae. Bibirnya terbungkam. Karena tidak siap, yongrim dengan mudahnya takluk oleh permainan lidah Hyukjae.

Namja itu sangat lihai mempermainkan lidah Yongrim. Dan yongrim mulai terhanyut, dia membalas ciuman itu. Lidah mereka saling menyerang. Bertukar saliva, hingga menimbulkan suara – suara kecapan di halaman belakang itu.

Hyukjae tersenyum lebar, melihat korbannya sudah sangat pasrah. Dielusnya leher Yongrim, dikecup pelan yang membuat Yongrim makin terlena.

Dan, seperti Jungsoo, Hyukjae pun mulai berubah. Memameerkan taringnya yang tajam. Dan siap menyedot darah Yongrim sampai habis. Tanpa memberikan korbannya jeda untuk memikirkan apa yang terjadi.

~KangHee~

Heenie berjalan pulang bersama salah satu temannya. Mereka bercakap – cakap dengan serunya. Sambil sesekali membicarakan kejadian sebulan yang lalu. Kejadian yang membuat seluruh warga kampus merasa sedikit trauma selama berhari – hari.

Salah seorang penjaga keamanan yang menjadi korban adalah orang yang cukup akrab dengan Heenie. Hingga dia merasa kehilangan juga.

“Minji-ah, aku mau ke kamar mandi dulu. kau mau duluan?” tanya Heenie.

“Aniya. Aku tunggu kau di depan pintu kamar mandi. otthe?”

“Ara. Kajja.”

5menit kemudian Heenie keluar dari kamar mandi. dan dia kebingungan karena tidak mendapati Minji di depan pintu kamar mandi. Heenie celingukan dan akhirnya menemukan temannya itu berjalan menuju ke ruangan latihan kendo. Heenie mengejarnya, sambil memanggil Minji.

Tapi, sepertinya Minji tidak mendengar. Terbukti dia terus saja berjalan. Heenie yang merasakan sesuatu yang aneh tidak berpikir panjang lagi mengikuti Minji.

Benar. Mereka sampai di ruang klub kendo yang sudah sepi dan sangat gelap.

“Min..”

Blammmm

Pintu tertutup rapat. Membuat suara Heenie terhenti. Heenie mencoba membiasakan dirinya dalam kegelapan.

Lalu, tirai gelap terbuka, dan cahaya bulan masuk. Menerpa tubuh Minji yang berdiri di tengah ruangan. heenie yang masih tertutup bayang – bayang gelap merasa heran. Tidak ada orang, kenapa pintu bisa tertutup dengan tiba – tiba. Tirai gelap itu juga. Ada apa ini?

Belum sempat otak Heenie menemukan jawab atas pertanyaannya tadi, sebuah pemandangan membuatnya tidak mampu berkedip. Jendela kaca terbuka tiba – tiba, lalu masuklah sesosok manusia terbang.

Terbang?

Itu tidak mungkin bukan?

Tapi itulah kenyataannya. Heenie tidak menemukan seutas tali ditubuh sosok itu. Padahal jelas sekali cahaya bulan menyoroti tubuh namja itu.

Tanpa suara, namja itu mendarat mulus di lantai kayu ruang latihan kendo ini. dia menuju Minji. Dan tanpa aba – aba, dia langsung mencium Minji.

Setelah beberapa lama akhirnya mata Heenie mampu melihat dengan jelas dan terpekik kaget saat namja itu mengeluarkan taring dan menghujamnya ke leher Minji. Tangan kiri namja itu membekap mulut Minji.

Melihat temannya dalam bahaya, tanpa pikir panjang Heenie menyambar pedang kayu yang selalu dibawanya. Dia memukul sosok itu dengan sangat keras. Membuat sosok itu terkejut, dan melepas tubuh Minji seketika.

Heenie kembali memukul sosok itu bertubi – tubi, membuat sosok itu terpaksa menghindar. Heenie menghampiri Minji. Dan shock melihat keadaan temannya itu. Lehernya terdapat luka tetes dengan darah yang masih menetes, heenie melihat nafas minji yang tersengal – sengal. Sepertinya dia masih hidup.

Heenie merasa amat sangat marah. Dia, mengambil tongkatnya lagi dan memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada sosok itu lagi.

“Ya~ keluar kau. Makhluk pembunuh. Kau harus membayar semua perbuatanmu. Hadapi aku. Aku tidak takut kepadamu.” Bentaknya.

Hening.

Suara lirihan Minji yang terdengar.

“Minji-ah, bertahanlah. Jebal bertahanlah. Kau pasti akan selamat.” Heenie segera menopang tubuh Minji. Dan dia segera membawanya ke pintu keluar. Belum sempat mereka sampai di depan pintu, sesosok tubuh manusia muncul.

Heenie mendudukkan Minji yang semakin lemah. Dia mengeratkan genggamannya ke pedang kayunya. Lalu dia memukul – mukul tubuh manusia kekar itu. Manusia itu berbalik.

Sungguh, Heenie merasakan hawa dingin karena rasa takut memenuhi tubuhnya. di hadapannya dia melihat namja besar bermata merah dan gigi taringnya mencuat mengerikan. tapi dia adalah Kim Heenie yang tidak mau kalah dengan rasa takutnya.

“Ya~ makhluk apa kau ini? kenapa kau menyerang temanku?” ucap Heenie menahan emosi. Melihat wajah Heenie, sosok itu berubah. Matanya menjadi hitam dan taringnya menghilang. Wajahnya pucat tampan tertimpa cahaya bulan.

“Aku? Aku ini drakula.”

“Drakula? Di dunia ini tidak ada yang namanya drakula. Kau hanya pembunuh saja. manusia aneh.”

Lelaki itu mendongakkan wajahnya dan tertawa nyaring. Suara tawanya membuat Heenie merinding.

“Mau bukti?” ucapnya setelah berhenti tertawa.

Heenie mundur dengan membelalakkan matanya.

“Jangan mendekat. Pergi kau. Kau sudah membunuh Ming Ajhussi. Dan sekarang kau ingin membunuh temanku lagi? tidak akan kubiarkan kau.”

Lelaki itu melirik ke arah Minji yang kesadarannya mulai menghilang. Lalu dia menyeringai,.

“Kau mengangguku… aku masih belum kenyang kau tahu?”

Heenie mendengus. “Aku tidak peduli. Sebaiknya kau pergi, agar aku bisa menyelamatkan temanku.”

“Kau ingin menyelamatkannya?”

“Iya.”

“Kalau begitu gantikan dia.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Aku masih belum kenyang. Aku masih ingin merasakan darah lagi. dan kau. Darahmu pasti sangat lezat karena aku bisa merasakan wanginya dari sini. berikan darahmu, maka aku akan menyelamatkannya.”

Mata Heenie membelalak.

Ini pilihan yang sangat sulit.

Heenie memejamkan matanya sejenak. Lalu menghembuskannya.

“Apa jika aku menyerahkan darahku, kau akan menghentikan semua perbuatanmu? Kau tidak akan lagi menghisap darah manusia lagi?”

“Tentu.” Senyum licik tersungging dibibir lelaki itu.

“Baiklah. bunuh aku. Hisaplah darahku sepuasmu. Tapi kau harus menyelamatkannya. Dan jangan membunuh manusia lainnya.”

Mata itu berkilat merah. Heenie melihatnya dan bergidik, tapi demi temannya dia rela. Toh, dia sendirian hidup di dunia ini.

Lelaki itu mendekati Minji. Mengusap lehernya. Dan membuat Minji terjatuh lemas.

“apa yang kau lakukan?”

“Dia hanya pingsan. Dan dia akan lupa kejadian malam ini. jadi sekarang bisakah aku mendapatkan makananku?”

Heenie mendekat.

“Namaku Kim Youngwon. Kau bisa memanggilku Kangin.” Bisiknya.

“apa aku bisa memanggil namamu?”

“Tentu saja. ah, kau harus mengucapkan namaku begitu aku menikmati darahmu yang pastinya lezat ini.”

Heenie diam saja saat lelaki itu menjilati lehernya. Dia sudah pasrah. Benar – benar pasrah jika malam ini adalah malam terakhirnya melihat dunia.

Kangin melihat tubuh gadis itu bergetar. Takut. Dan pasrah. Dia tersenyum.

“Akhirnya aku bisa membalas perlakuanmu padaku.” Bisiknya tepat sebelum dia melumat bibir penuh Heenie. Heenie hanya diam saja. berusaha untuk tidak membalas ciuman itu.

Namun, pada akhirnya dia luluh juga. Erangan demi erangan terdengar dari bibir Heenie, dia menikmati ciuman itu juga akhirnya.

Lidah Kangin mulai bermain diarea telinga dan leher Heenie membuat desahan Heenie bertambah nyaring.

“Sebutkan namaku sekarang.” bisik Kangin.

Heenie menahan air matanya. Sepertinya sekarang waktunya dia mengucapkan selamat berpisah.

“Kangin-ah… Akhhhh…” pekiknya saat dia merasakan perih menggores kulit lehernya akibat tancapan tajam gigi taring Kangin di lehernya.

~JeChan~

Kim Sungje melihat seorang yeoja masuk ke dalam ruang lab bahasa Jepang. Yeoja itu memakai gaun hitam panjang. Kulitnya pucat. Tapi Sungje belum pernah melihat yeoja itu. Dia merasa agak khawatir.

Bagaimanapun juga, di lab bahasa jepang itu adalah salah satu tempat dimana seorang mahasiswinya meregang nyawa. Apalagi sekarang malam bulan purnama dan suasananya sama dengan malam itu.

Sungje mengikuti yeoja itu. Dia harus mencegah yeoja itu. Dia tidak mau ada korban lagi.

Oh, Sungje,  bisa dikatakan memiliki sedikit kelebihan juga. Entah kenapa dia merasa malam ini akan jatuh korban lagi.

“Aghassi.” Panggilnya.

Terlambat.

Yeoja itu sudah masuk dan menemui seseorang di sana. Sungje kaget. Itu khan Minhwan seongsaengnim. Sungje menghela nafas panjang saat dia melihat keduanya saling berciuman.

Rupanya yeoja itu pacar Minhwan seongsaengnim.

Sungje berbalik, namun dia tersentak saat mendengar suara teriakan Minhwan seongsaengnim. Sungje berbalik dan melihat yeoja itu duduk di bingkai jendela dengan tenang. Dibawahnya tergeletak Minhwan seongsaengnim yang pucat seperti kehabisan darah. Dan dilehernya terdapat luka bekas gigitan.

“Neo…”

Sungje tidak mampu meneruskan ucapannya. Dia terkejut. Jadi, apakah dia juga sama dengan orang yang telah membunuh salah satu mahasiswinya itu? Lukanya sama.

Yeoja itu menatap lekat wajah Sungje. Nampak tertarik sekali kepada namja itu. Tanpa suara, dan dalam sekejap saja dia ada disamping Sungje. Dan lidah panjangnya menjilat leher Sungje. Tepat di tahi lalat milik Sungje.

Sungje tersentak. Dia memegang lehernya. Dan mendapati yeoja itu menatapnya dengan pandangan tertarik dan penuh nafsu.

“Siapa kau? Kenapa kau membunuhnya?”

“Aku? Park Hyochan. Aku tidak membunuhnya. Aku hanya meminta apa yang dia punyai untuk menghilangkan kehausanku.”

“Mwo? Makhluk macam apa kau ini?”

Yeoja bernama Hyochan itu mengabaikannya. Dia bahkan semakin tertarik pada leher namja tampan itu. Menyadari hal itu, Sungje segera beranjak pergi. Namun tangannya dicekal oleh tangan dingin yeoja tersebut.

Sekujur tubuhnya terasa dingin.  Dan dia tidak mampu bergerak.

Yeoja itu tersenyum senang.

“Kau…. milikku.” Ucapnya yakin. Hyochan menjijitkan kakinya. Karena dia lebih pendek dari Sungje. Dikalungkannya tangannya ke leher namja itu. Lalu dia menjilat sudut bibir Sungje.

Menggoda namja itu untuk membalas ciumannya.

Sebesar apa Sungje mencoba bertahan, akhirnya jebol juga pertahanannya. Dia menarik pinggan Hyochan mendekat. Mengabaikan sensasi dingin saat menyentuh tubuh Hyochan, Sungje semakin memperdalam ciumannya. Kepala keduanya saling bergerak mencari posisi dan kenikmatan dalam berciuman. Tak mempedulikan pertukaran air liur yang mereka lakukan menetes di sudut bibir keduanya.

Kecapan, desahan dan erangan terdengar dari lab tersebut.

Tangan Sungje bergerak  ingin mendapatkan hal yang lebih. Tapi Hyochan menghentikannya. Dia menahan tangan Sungje. Lalu kembali menjilat leher Sungje. Membuat Sungje memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang diberikan Hyochan.

Hyochan mengendus leher Sungje. Wangi darah Sungje menggodanya. Membuatnya mengeluarkan taring tajamnya. Matanya mulai memerah. Menandakan dia tidak mampu menahan nafsunya untuk menghisap darah.

~HaeMin~

Minri terbangun dari tidurnya. Gadis itu kembali tertidur di jam pelajaran terakhir. Dan dia terlambat bangunnya. Biasanya saat dosen memberi salam dia terbangun. Tapi kali ini tidak. Suasana kelas sudah sepi sekali. Minri bergegas merapikan peralatannya.

Tidak sengaja, sudut matanya melirik kea rah meja paling belakang. Meja Cho Mihyo. Dia adalah salah satu korban peristiwa sebulan lalu. Mihyo adalah sahabat terdekat Minri. Karena itulah Mihyo sempat mengalami kesedihan mendalam. Selama hampir 2minggu dia tidak masuk kelas.

Minri tidak mengerti mengapa gadis sebaik Mihyo mengalami kejadian mengenaskan begitu.

“Mihyo-ah, apa kau baik – baik saja?”  gumam Minri. Dia mendekat kea rah meja Mihyo. Mengusapnya pelan. Setelah merasa cukup, akhirnya Minri melangkah keluar.

Tapi baru beberapa langkah, dia mendengar suara bangku digeser. Minri menoleh. Dan kaget.

Ada orang lain di sana. Tapi siapa? Dia tidak pernah melihatnya. Dan, Minri tidak tahu ada orang diruangan ini.

“Annyeong Minri-ssi.”

“Ne? kau mengenalku?” Tanya Minri bodoh.

“Ne. Lee Donghae imnida.”

Minri mengangguk kecil. Dia tidak merasa kenal dengan namja tampan ini. Tapi demi menjaga kesopanan dia hanya mengangguk dan memberikan senyumannya.

“Kau lupa padaku Minri-ssi?”

“Lupa? Aku tidak mengenalmu.”

Lee Donghae tersenyum. Lalu dia mengangsurkan tangannya, memperlihatkan sebuah luka berbentuk petir kecil ditelapak tangannya. Mata Minri terbelalak.

Dia ingat kejadian beberapa tahun silam, saat dia masih kecil. Dipandanginya lekat – lekat wajah pucat namja itu. Dia tidak berubah sama sekali. Dan kenapa dia bisa melupakannya?

“Kau… kau…”

Minri tidak melanjutkan ucapannya. Dan memilih untuk kabur. Tapi Lee Donghae lebih cepat. Dia menghalangi langkah MInri.

“Mau lari lagi?”

“Kenapa? Kenapa kau harus kembali? Hidupku sudah tenang…”

“Minri-ssi, kau itu milikku.”

Minri tertawa sinis. “Milikmu? Kau hanya mengincar darahku khan? Kau.. kau yang telah membunuh Mihyo khan?”

“Mihyo?” sebelah alis Donghae terangkat. “Ah, gadis itu. Dia tidak pantas berteman denganmu. Aniya. Tidak ada yang pantas berteman denganmu. Karena kau milikku.”

Minri melempar buku tebalnya kea rah Donghae. Buku itu mental. Dan Donghae menjadi murka. Sekejap dia mendekat kea rah Minri. Mendorong Minri hingga terjatuh di lantai yang dingin.

“Akh..” pekik tertahan Minri, saat tubuh Donghae menghimpitnya. Nafasnya terasa sesak saat dia merasakan bibir dingin milik Donghae melumat bibirnya. Minri menahan tangisnya.

Takut. Dia sangat takut.

“Minri-ssi, saat ini kau masih kecil. Tapi nanti, aku pasti akan segera menemukanmu. Saat itu kau tak akan lari. Dan aku akan bisa menikmati darahmu. Kau milikku. Darahmu milikku.”

Ucapan itu terlintas dibenak Minri.

Minri masih berusaha memberontak. Bagaimanapun dia tidak ingin mati sia – sia. Tapi pemberontakan Minri mulai melemah seiring dengan desahan yang keluar dari bibirnya.

Ya, Minri mulai merasa terhanyut oleh permainan Donghae. Hingga dia mengabaikan peringatan – peringatan dalam otaknya.

Donghae tersenyum senang. Mangsanya, telah takluk. Dan ini saatnya.

Donghae menyingkirkan rambut Minri yang menghalangi lehernya. Keringat membasahi leher Minri membuat Donghae begitu bernafsu menancapkan taringnya di leher tersebut.

 

~ KyuHwa~

Hari ini Eunhwa pulang lebih awal. Namun, karena dia harus menunggu jemputan, akhirnya dia memilih duduk di dekat pos penjagaan. Tidak ada satupun penjaga di sana.

Mungkin sedang berkeliling. Memang, sejak kematian dua penjaga kampus, membuat pihak kampus lebih waspada. Dengan bosannya, Eunhwa bermain games. Ia mengutak atik PSP putihnya.

“Bodoh sekali, harusnya khan ke kanan. Ya… lihatlah.. ckckckc… kalah? Dasar bodoh.” Komentar seseorang di belakangnya.

“Aish.. berisik sekali sich?” ucap Eunhwa kesal. Dia langsung menoleh kebelakang dengan melotot.

Pandangannya bertemu pandang dengan seorang namja pucat. Matanya menyorot tajam.

Eunhwa merasa tidak pernah melihat namja ini.

“Siapa kau? Mengganggu konsentrasiku saja.” Omel Eunhwa.

“Kau yang bodoh.”

“Kalau kau tak berisik aku tak akan kalah.”

“Aish. Bilang saja kau bodoh. Kenapa susah sich? Game gampang begitu kau kalah dilevel rendah. Memalukan.”

“Ya~ banyak omong kau.” Teriak Eunhwa.

Namja itu menyeringai. Entah. Eunhwa merasa pernah mengenal seringaian tersebut. Tapi dimana?

“Kau terpesona padaku?”

“Tck… terpesona? Padamu? Jangan harap.”

“Lho kenapa? Aku tampan.”

“Ugh, aku mau muntah. Jangan membanggakan dirimu sendiri.”

Lagi. Namja itu menyeringai.

“Ya~, apa kau ini mahasiswa di sini?”

“Wae?”

“Entah, sepertinya kau tidak asing bagiku.”

“Hm.. namaku Cho Kyuhyun. Kau siapa?”

“Kim Eunhwa. Ng… Cho Kyuhyun. Aku belum pernah mendengar nama itu disebut. Apa kau murid baru?”

“Menurutmu?”

“Aish sudahlah.”

“Hei, mau bertaruh?”

“Mwo?” eunhwa Nampak tertarik.

“Ayo kita bertanding main game. Jika aku kalah, kau boleh meminta apa saja kepadaku. Tetapi jika kau kalah. Kau harus menuruti apa yang aku mau.”

Eunhwa Nampak berpikir. Sepertinya ini hal yang menarik. Kenapa tidak mencobanya saja.

“Hm.. baiklah.”

Beberapa waktu kemudian, eunhwa mengumpat dengan kesal. Karena dia kalah telak.

“Jadi, aku menang taruhan.”

“Ne. apa maumu?”

Namja bernama Kyuhyun mendekat. Tanpa aba – aba dia melumat bibir mungil Eunhwa. Membuat yeoja berambut pendek itu tertegun. Kaget.

Sesaat kemudian Kyuhyun melepas ciumannya.

“Ya~ apa – apaan kau. Namja mesum.” Teriak Eunhwa.

“Ah, manis sekali. Dan aku yakin darahmu pun sama manisnya dengan bibirmu.”

“Ma-maksudmu?”

“Yang aku minta sebagai imbalan taruhan ini adalah darahmu, cantik.”

Mata Eunhwa membulat. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Apalagi saat dia melihat perubahan pada wajah Kyuhyun. Wajah tampannya berubah mengerikan. Mata tajamnya berubah menjadi merah. Dan dimulutnya bertengger dua taring tajam.

Eunhwa sadar, dia dalam bahaya. Tapi seperti terhipnotis, dia hanya mampu memejamkan matanya kala Kyuhyun meraih tengkuknya dan menempelkan taringnya di leher Eunhwa.

===è NEXT ===è MEETING ====è NEXT ============================è

Dracula Part 1

 

Tittle : Dracula – Introducing

Author : Frey

dibantu : Nta, Nana, Hyochan, Nova dan Aulia *yang mau dengerin curhatan aku juga yang sering aku tanya2in*

Cast : Bisa dilihat di Covernya *nunjuk bawah*

Rated : entahlah antara PG & NC

Genre : Fantasy, Romance, Horor (sedikit)

Warning : Gaje, typo, aneh dll

Disclaimer : semua cast disini milik Tuhan, Ortu an juga milik mereka masing2, ide awalnya punya aku.. dan berkembang karena masukan berbagai pihak

Summary : Mereka, makhluk kegelapan yang mengincarmu, para manusia *apa dech ini summary?*

 

 

di prolog ada yang banyak tanya siapa castnya? cewek itu sapa? yang jadi drakulanya sapa? okeh, yang dicover itu adalah para drakula – drakulanya. cewek itu juga masuk dalam keluarga drakula. siapa dia? bisa diketahui setelah membacanya. dan jika part ini aneh sekali, saya minta maaf, karena ini baru perkenalan para castnya saja. dan seperti biasa aku minta komentnya. kritiknya juga gapapa. saya mau sekali dikritik. sehingga bisa membuat karya lebih baik. karena saya baru belajar.

 

Okeh.. happy reading ya …^^

 

 

 

 

~ Introduction ~

@Gereja Tua.

Angin enggan berhembus. Hewan – hewan malam enggan bersuara. Bahkan bintang pun tak ada yang bercahaya. Mungkin hanya bulan saja yang berani memunculkan cahayanya.

Bulan purnama.

Hanya bulan saja di atas langit. Selebihnya adalah mendung hitam yang menemaninya.

Cahaya pucat bulan menerpa kisi – kisi jendela Gereja Tua itu. Menampilkan keremangan dalam ruangan kosong itu.

Kosong?

Oh. Sepertinya tidak sepenuhnya kosong. Karena samar – samar terlihat suatu gerakan – gerakan dalam gereja itu. Ah, sepertinya para penghuni gereja itu terbangun setelah tertidur untuk waktu yang lama.

Tak tak tak.

Suara sepatu beradu dengan lantai marmer itu bergema dalam ruangan itu. Seberkas cahaya lilin muncul ditengah kegelapan. Seorang lelaki berjubah hitam muncul dari sebuah pintu dan menuju ke ruangan luas tempat bersembahyang manusia itu dulunya.

Lilin kecil itu menerangi ruangan luas tersebut, meski masih remang – remang. Dan terlihatlah beberapa sosok manusia berjubah ada diruangan tersebut.

Di bangku paling depan duduk seorang lelaki berjubah hitam. Rambutnya berwarna hitam kemerahan. Tubuhnya tegap. Dan wajahnya sangat tampan. Dia, Choi Siwon. Drakula no 10. Jika dia menjadi manusia seperti ini, dia adalah sosok manusia sempurna. Tampan, Alim. Dan sopan santun.

Disampingnya, sosok lelaki yang juga lumayan tampan. Tapi, dia tidak setegap dan segagah Siwon. Dia memiliki senyum yang mempesona, jika dia menjadi manusia seperti ini. Lee Donghae. Drakula no 9.

Dibelakangnya, sesosok lelaki berambut blonde. Dia selalu mengumbar senyuman. Tingkahnya pun tidak setenang yang lain. Lee Hyukjae. Drakula no 8.

Kim Ryeowook, lelaki mungil berambut hitam kemerah – merahan. Drakula no 11. Tak jauh darinya adalah lelaki bermata kelinci. Drakula no 7, Lee Sungmin.

Diseberang bangku yang diduduki kelima namja itu, duduklah namja – namja lainnya.

Seorang berambut Hitam kecoklatan, yang Nampak tidak peduli dengan semuanya. Dia asyik memainkan PSP.

PSP?

Oh ayolah, mereka ini Drakula masa kini yang tidak mungkin gaptek bukan? Mereka drakula – drakula yang hidup dizaman modern. Meski mereka masih menghisap darah manusia, tapi mereka juga membaur dengan manusia. Agar para manusia tidak curiga, maka para drakula ini berlaku layaknya manusia pada umumnya.

Tetapi tentu dengan pengecualian. Mereka akan muncul di malam hari saja. Tentu saja, mereka ini drakula yang takut sinar matahari. Mereka bisa hangus terbakar jika nekat berada di tempat yang terkena matahari.

Oke, kembali ke drakula cuek yang bermain PSP dengan asyiknya. Dia adalah Cho Kyuhyun, drakula no 13. Dalam kesehariannya saat menjadi manusia, dia tetap memakai sifat aslinya. Dingin. Acuh. Tidak peduli. Sinis.

Disebelahnya. Tidak kalah dinginnya dengan Cho Kyuhyun, adalah Drakula no 14. Zhoumi. Meski no 14 usianya lebih tua dari Cho Khyuhyun. Kenapa bisa begitu? Karena kekuatannya setingkat dibawah Kyuhyun. Itu sebabnya dia menjadi no 14.

Dibelakangnya adalah seorang namja pendiam. Tidak banyak berkomentar. Dan dia paling pandai di kelompok drakula ini. Kim Kibum. Drakula no 12.

Disebelah Kibum adalah namja yang agak gendut. Matanya akan berkilat saat hidungnya mengendus darah manusia, meski dalam radius puluhan km. Shin Donghee, drakula no 6. Disebelahnya, tengah tertidur, adalah drakula no 15. Henry Lau.

Lalu dibelakang ketiga namja itu duduklah namja berwajah garang. Kim Youngwon drakula no 5. Dia berbadan besar. Lalu, disebelahnya adalah drakula yang tengah memainkan cangkang kura – kuranya. Kim Joongwon. Drakula No 4.Kura – kura itu dia temukan di rumah mangsanya beberapa tahun lalu. Dan dia langsung mengambilnya begitu saja.

Drakula No 3, tengah duduk di sebuah bangku yang berada di belakang. Dia bernama Hangeng. Dia duduk terpekur. Memandangi saudara – saudaranya yang asyik dengan kegiatannya masing – masing.

Disebelahnya adalah Drakula No 2. Drakula terkuat kedua dalam kelompok itu. Kim Heechul. dia memiliki dua peliharaan yang sangat membantu. Dua kucing bernama Heebum dan Baengshin.

Sedangkan di depan sana, namja yang baru dating dan membawa lilin itu bernama Park Jungsoo. Pemimpin kelompok kecil ini. Kakak tertua para drakula. Drakula No 1, yang memang terkuat di kelompok ini.

“Apa semua sudah berkumpul?” tanyanya. Beberapa drakula itu saling berpandangan.

“Hyochan belum dating.” Kata Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari PSP tersebut.

“Hyochan? Kemana anak nakal itu?” gumam Jungsoo. Drakula satu – satunya yang berambut emas itu.

Siuuuut.

Suara kepakan sayap kecil terdengar bergema dalam ruangan. Terlihat seekor kelelawar kecil terbang rendah di depan Jungsoo.

Plopp.

Kelelawar itu berubah menjadi sosok yeoja berjubah hitam saat kakinya menyentuh lantai. Dia menghampiri kakak tertuanya itu dengan senyuman manja.

Park Hyochan. Drakula No 16. Dia menjadi drakula terakhir yang selamat dalam pertempuran beberapa tahun lalu.

“Oppa, mencariku?”

“Darimana kau?”

“Ah, mala mini bulan purnama oppa, aku ingin bermain – main sebelum aku berburu.” Ucap yeoja itu.

“Hm, duduklah. Lain kali, jangan keluar sendirian.” Ucap Jungsoo. Hyochan mengangguk. Dia menuju kea rah ryeowook dan sungmin, lalu duduk ditengah – tengah mereka.

Jungsoo meletakkan lilin di atas meja altar. Lalu dia berbalik.

“Dongsaeng – dongsaengku, ini adalah malam bulan purnama ke 12 setelah kita meninggalkan kerajaan. Kalian ingat apa peraturan kita setelah kita memutuskan tinggal disini?”

Semuanya mengangguk – angguk.

“Kita, harus menjauhkan diri dari apapun juga selama 12 bulan purnama. Sebisa mungkin kita tidak meminum darah manusia. Karena kita tidak boleh sampai meninggalkan jejak. Tapi sekarang, kita bisa merasakan darah manusia. Dan, ingatlah.. sebelum matahari muncul kalian harus kembali ke gereja ini.”

Semua Nampak bersorak kesenangan. Setelah berpuasa selama 12 bulan akhirnya mereka bisa kembali merasakan darah manusia lagi

“Hm, dan ingat, kalian juga harus segera menemukan manusia pilihan. Karena waktu kita tidak banyak. Mereka semakin mendekat.” Ucap Jungsoo.

Semuanya mengangguk kompak.

“Baiklah. Mari kita berburu.” Jungsoo memberikan aba – abanya.

Plop. Plop. Plop.

Semuanya berubah menjadi hewan malam bernama Kelelawar. Mereka keluar dari gereja itu dengan mengapakkan sayap – sayap kecil mereka sambil mengeluarkan suara riuh membelah kesunyian malam.

@@@@@

 

 

@Seoul University

Malam semakin larut. Dan di kampus itu suasananya sedikit ramai. Karena sekarang waktunya kelas malam berakhir. Beberapa orang Nampak masih asyik di dalam ruangan atau disekitar kampus. Menunggu jemputan, atau memang senang di sekitar kampus itu.

Seorang gadis cantik berjalan menyusuri koridor kampus. Yang sudah gelap. Hanya ada satu lampu menyala, membuatnya terlihat remang – remang. Langkahnya cepat juga. Dia, Park Seung Won. Mahasiswi Kedokteran yang cukup pintar di kampus ini. Memilih kelas malam, karena dia merasa lebih bisa konsentrasi untuk belajar.

Siuuut.

Seung Won undur beberapa langkah, karena dia merasa ada yang terbang di depannya tadi. Dia memperhatikan sekelilingnya. Nope. Tidak ada apa – apa. Seung Won kembali melanjutkan langkahnya, namun dia merasa seperti tengah diawasi. Seung Won menoleh lagi untuk memastikan adakah orang lain.

Kosong.

Hanya ada seekor kelelawar hitam. Yang cukup besar. Kelelawar itu berdiri di atas palang pintu. Mata kuningnya menyala dalam gelap.

“Kelelawar? Kenapa ada di sini?” gumamnya. Namun, dia tak ambil peduli. Dia melanjutkan langkahnya.

Tidak mengetahui kelelawar itu mulai berubah wujud. Menjadi sosok seorang namja berambut keemasan. Air liurnya sedikit menetes dari sela – sela taringnya yang tajam. Matanya berwarna merah saga.

“Hm…. wangi sekali darah gadis itu. Wanginya berbeda, hm.. aku harus mencicipi darahnya.”

Sementara itu, tak jauh dari koridor tempat Seung Won tadi adalah sebuah perpustakaan. Dan disana masih ada sesosok yeoja berkacamata. Dia, Shim Miyoung, mahasisiwi jurusan Psikologi. Dia memang pendiam dan lebih suka mengurung di perpustakaan.

Sangat menyukai kesunyian, itu sebabnya dia memilih kelas malam, yang tentu saja tidak banyak yang berminat.

Miyoung menggeliat, dia sudah merasa capek. Dan akhirnya dia merapikan buku – bukunya. Tanpa sengaja matanya melihat suatu obyek di luar jendela ruang perpustakaan.

“Kelelawar? Sejak kapan disini ada kelelawar?” gumam Miyoung, tapi, sama seperti Seung Won, dia tak ambil pusing. Dan memilih untuk segera keluar dari Perpustakaan, sebelum kampus ini ditutup pukul 02.30 tepat.

Tidak menyadari Kelelawar kecil itu berubah menjadi manusia berwajah dingin, tangannya terangkat seperti pose orang akan menembak.

“Sasaranku.” Ucapnya sinis.

Dilain tempat, masih di area Seoul University, nampak seorang yeoja berambut pendek. Dia berjalan santai dengan kedua tangan memegang tali tas selempangnya.

Kim Eunhwa, mahasiswi Sastra Jepang yang jago taekwondo. Dia baru menjadi mahasiswi beberapa bulan lalu. Langkahnya terhenti saat dia merasa ada sesuatu di atas pohon yang dilewatinya.

Eunhwa mendongak. Mendapati kelelawar kecil bergelantungan di atas pohon. Keningnya berkerut. Pemikirannya sama dengan kedua rekannya, sejak kapan ada kelelawar di area kampus yang bersih ini?

Dia memandang lekat – lekat ke hewan malam itu. Dan dia agak kaget saat merasa kelelawar itu menyeringai ke arahnya. Buru – buru dia meninggalkan tempat itu.

Kelelawar kecil itu merubah posisinya. Kaki kecilnya berpijak pada pohon kecil, dan perlahan dia berubah menjadi manusia yang dengan asyiknya duduk diatas pohon itu.

Seringaiannya terbentuk di wajah pucatnya.

“Menarik.” Gumamnya. Sambil menatap langkah gadis mungil itu.

Tak jauh dari sana, tepatnya di area parkir seorang yeoja tengah membuka pintu mobilnya. Tapi bulu kuduknya meremang. Dia merasa diperhatikan.

Park Dongrim, Uisa di kampus itu celingak celinguk mencari seseorang di area parkir yang mulai sepi, karena sebagian orang sudah pulang. Tidak ada apa – apa. Hanya ada kelelawar bergelantungan di atas pohon tidak jauh dari area parkir itu.

Mwo? Kelelawar?

Dongrim menajamkan matanya. Tidak ada yang berubah. Memang seekor kelelawar. Dongrim buru – buru masuk ke mobilnya. Karena dia takut dengan makhluk malam bersayap itu.

Begitu dongrim masuk ke mobil dan mengendarainya, kelelawar itu berubah menjadi namja dengan kepala di bawah, dan kaki mengait di atas dahan pohon. Mata kelincinya menyorot tajam. Bibir seksinya menyunggingkan seringaian mengerikan.

“Aku menginginkannya.”

Begitu mobil Dongrim keluar, masuklah sebuah mobil ke dalam area kampus. pengemudinya, Shin Minyoung seorang guru SMA yang setiap malam harus menjemput kakaknya. Minyoung keluar dari mobil dan menekan kombinasi angka milik kakaknya.

Namun, gerakannya terhenti saat telinganya menangkap kepakan sayap. Minyoung menoleh dan mendapati seekor kelelawar hitam melayang – layang berputar di dekat pos penjagaan yang sepi dan gelap.

“Kelelawar?” gumam Minyoung tak percaya. Baru sekali ini dia melihat makhlum malam itu dengan jelas. Kelelawar itu berhenti bergerak dan berdiri di anjungan atap pos penjagaan itu. Dengan latar belakang bulan purnama yang menyorot terang, membuat kelelawar itu terlihat seperti penguasa malam.

Minyoung terbangun dari keterpesonaannya itu. Dan kembali melanjutkan kegiatannya untuk menghubungi kakaknya. Tidak mengetahui kelelawar itu telah berubah menjadi manusia berjubah hitam. Dia memperhatikan Minyoung dengan penuh nafsu.

“Aku ingin merasakannya.” Gumam manusia kelelawar itu.

Kembali ke dalam kampus, nampaklah sosok seorang yeoja mungil. Dia adalah mahasiswi seni lukis. Dan dia baru saja menyerahkan tugasnya, setengah mengantuk dia berjalan menyusuri lorong lantai 2.

Beberapa kali dia menguap. Karena ini memang sudah terlalu larut malam. Min Ribyul, atau biasa di sapa Minri segera berbelok di belokan lorong yang cukup sepi. Kemudian menuruni tangga. Saat melewati jendela yang ada disamping anak tangga, matanya menangkap sesuatu berputar – putar di luar sana.

Minri tertarik. Hah? Kelelawar?

Minri berdiri menatap kelelawar itu seperti tengah bermain bersama kelelawar yang lebih kecil.

“Kelelawar ya?” gumam Minri. Lalu dia menguap untuk kesekian kalinya. Dan memutuskan untuk menghentikan kegiatannya menonton kedua kelelawar hitam itu.

Begitu Minri menghilang kelelawar yang lebih besar terbang mendekat ke jendela. Perlahan kelelawar itu berubah menjadi manusia yang tengah melayang, jubahnya mengibar.

“Aku menemukanmu.” Desisnya.

Kelelawar kecil itu, merasa kesal ditinggal kelelawar besar akhirnya memilih terbang di sekitar parkir motor yang terpisah dari parkir mobil. Gerakannya yang unik menarik perhatian seorang namja disana.

Namja itu, Dosen bahasa Jepang yang baru. Kim Sungje memperhatikan hewan malam dengan tertarik.

“Apa disini ada kelelawar?”

Sungje tersadar, saat mendengar suara alarm di ponselnya. Oh dia harus segera pulang. Dikendarainya motornya meninggalkan kelelawar itu yang masih melayang dengan gerakan – gerakan super aneh.

Begitu motor berjalan, kelelawar itu berubah menjadi seorang yeoja pucat. Terbang rendah, matanya memerah menatap punggung Sungje. Taring tajamnya keluar. Lidahnya keluar menjilat bibir merahnya.

“Aku mau merasakannya. Darahnya pasti sangat nikmat.”

Song Sangin merapikan kertas partiturnya. Dia mahasiswi jurusan seni musik. Berbakat dalam permainan pianonya. Diliriknya jam tangannya. 02.05. 5menit yang lalu pelajaran berakhir. Namun, suasananya sudah sangat sepi.

Masih ada 25 menit lagi baginya untuk keluar dari kampus sebelum ditutup. Dia terduduk di kursinya. Gadis cantik ini merasa enggan pulang. Karena dia hanya tinggal sendirian.

Ketukan di jendela membuat Sangin tersadar. Dia mendekat dan membuka jendela kaca itu, sesuatu masuk dengan cepat membuat Sangin kaget. Begitu tersadar, dia langsung menyambar tasnya dan berlari keluar. Dia sangat takut kelelawar.

Kelelawar yang baru masuk itu berubah menjadi manusia. Dan tersenyum sinis.

“Berlarilah sekarang, karena kau tidak akan pernah aku lepaskan.”

Sangin hampir menabrak seorang yeoja yang berjalan santai berlawanan arah dengannya.

“Mianhae.” Sangin membungkuk, lalu kembali berlari. Yeoja itu hanya menatap Sangin heran.

“Kenapa dia?” gumamnya bingung. Tapi dia mengangkat bahu, kemudian kembali membenarkan headset yang menyumpal telinganya.

Saat akan mengambil tasnya yang terjatuh sudut matanya menemukan sesuatu yang menarik. Yeoja itu menolehkan wajahnya. Dan mendapati sesuatu yang menarik hatinya.

Seekor kelelawar.

“Eh? Kelelawar? Kenapa ada disini? Dia harus diusir dari sini.” Yeoja itu yang bernama Kim Heenie segera mencari sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk mengusir makhluk hitam itu.

Dan pandangannya jatuh kepada pedang kayu yang ada di dalam tasnya yang tergeletak. Ah dia ini mahasiswi jurusan seni pahat, yang jago bermain kendo. Heenie mengambil pedang kayu itu lalu memukulkannya kea rah kelelawar.

“Ya~ pergi dari sini. Hewan menjijikkan. Pergi kau.” Heenie bersemangat memukul – mukul kelelawar itu. Tidak mempedulikan suara ricuh dari kelelawar itu. Kelelawar itu terbang kesana kemari. Menghindari pukulan Heenie.

Akhirnya kelelawar itu terbang keluar dari ruangan. Heenie menghela nafas panjang. Heenie keluar dari ruangan, tanpa menyadari tatapan mengerikan dari makhluk jadi – jadian.

Kelelawar itu telah berubah menjadi sesosok laki – laki kekar. Matanya menyorot tajam. Giginya bertaring. Dia menggeram marah kea rah Heenie yang telah memukulinya tadi.

“Kau akan merasakan pembalasanku.”

Di halaman kampus dekat dengan air mancur Nampak seorang yeoja yang tengah marah – marah sehabis menelphone.

Lee Hyunra. Mahasiswi jurusan Seni Tari itu merasa kesal karena sopiirnya tidak bisa menjemput. Dia duduk di beton yang mengelilingi air mancur tersebut.

“Menyebalkan sekali sich, lalu aku harus pulang dengan siapa?” desis Hyunra.

Hyunra menatap bulan purnama yang cahayanya benar – benar indah mala mini. Tapi bulu kuduknya merinding. Entah. Seperti ada yang tengah mengawasinya.

Hyunra merasakan sesuatu merambati kakinya.

“Kyaaaa.” Pekik Hyunra kaget. “Ige mwoya? Kura – kura?” Hyunra kaget. Kenapa ada kura – kura di sini? Saat dia akan mengambil kura – kura itu, seekor kelelawar terbang rendah dan menyerang tangannya.

“Aw.” Hyunra merasakan perih ditangannya. Berdarah.

“Kelelawar? Aku takut kelelawar.” Hyunra berlari meninggalkan tempat itu.

Kelelawar yang menyerang Hyunra segera berubah wujud. Dia menjilat tangannya yang ada setetes darah Hyunra.

“Slurupp… nikmat. Aku ingin merasakannya lagi.” Gumamnya. Lalu menggendong kura – kura tersebut.

Hwang Yunhee, seorang mahasiswi jurusan Informatika tengah berjalan pulang. Dan dia baru sampai di parkiran, karena dia masih menunggu sahabatnya akhirnya dia menunggu bersandar di mobil tersebut.

Yunhee mengambil ponsel dan mengutak – atiknya. Tidak menyadari sepasang mata garang menatapnya. Memperhatikannya dibalik pepohonan.

“Aku pasti mendapatkanmu.” Gumamnya.

Yunhee yang merasakan hawa aneh menghentikan kegiatannya dan menolehkan kepalanya ke kanan kiri dengan bingung. Dan matanya terbelalak, saat matanya melihat makhluk kecil hitam dan mengerikan menggelantung dipohon.

“Omo.. kelelawar…” gumamnya takut – takut.

Dalam ketakutannya itu,  dia melihat sahabatnya,

“Yongrim-ah,” panggilnya. Yeoja mungil yang bernama asli Kang Yongrim segera berlari – lari kecil. Dan menghampiri Yunhee.

“Ne?”

“Yongrim-ah, ayo kita segera pulang.” Ucap Yunhee.

“Ne.” meski Yongrim tidak tahu apa – apa, tapi dia segera menuruti permintaan sahabatnya itu. Dikiranya yunhee merasa capek.

Di sekitar kelelawar yang dilihat oleh Yunhee, Nampak seorang lelaki yang duduk sambil mengayun – ayunkan kakinya di atas dahan yang lebih tinggi.

“Hyung, aku menginginkannya.” Ucapnya.  Matanya tak lepas dari sosok Yongrim, mahasiswi jurusan fotografi itu.

Seekor kelelawar lainnya yang badannya lebih besar Nampak terbang rendah mengawasi gadis kekanak – kanakan. Dia mahasiswi baru, jurusan Bahasa Inggris. Namanya Kim Naewoon. Kelelawar itu merubah dirinya menjadi sosok namja gendut. Dia Nampak bernafsu sekali untuk mencicipi darah yeoja yang tidak melihat dirinya itu.

“Sebentar lagi, aku pasti merasakannya.”

Dan, kelelawar itu meninggalkan Naewoon saat seorang yeoja yang tidak kalah kekanak – kanakannya mendekat kea rah Naewoon.

Kwon Yoora, dia ini mahasiswi jurusan bahasa Inggris juga. Sahabat dekat Naewoon. Dan dia memiliki sedikit kelebihan. Dia, bisa merasakan adanya aura lain disekitarnya. Seperti sekarang ini.

Begitu dia sampai di tempat Naewoon, dia bisa merasakan aura lain tersebut. Namun, dia hanya bisa merasakan. Tidak bisa mengetahui dengan jelas apa itu.

Diatasnya, di atas sebuah dahan, berdiri sosok namja berjubah hitam. Lekat menatap Yoora.

“Menarik. Aku harus mendapatkannya.” Ucapnya. Menyeringai. Lalu mengikuti kelelawar besar tadi meninggalkan tempat tersebut.

Seorang dosen Seni Musik bernama Sung Eunhee meninggalkan ruangannya. Dia agak terlambat pulangnya. Karena tadi dia harus meneliti tugas muridnya. Eunhee merasa sangat capek. Dan dia bergegas menuju mobilnya.

Eunhee merasakan hawa dingin yang tidak biasanya. Eunhee menoleh. Tidak ada apa – apa. Hanya kepakan suara burung malam mungkin.

Padahal sesungguhnya, tidak jauh darinya berdiri sosok tak kasat mata mengawasinya. Ekspressinya dingin.

“Aku harus merasakannya.”

Sosok itu begitu bernafsu melihat leher Eunhee yang terlihat dibalik rambut yang disanggulnya.

Sementara itu, di sebuah ruangan. Shin Raena, dosen yang mengajar tari itu tengah bersiap – siap untuk pulang. Apalagi dia baru saja ditelephone adiknya. Namun, gerakannya terhenti saat merasa ada sekelebatan orang.

Raena mengedarkan pandangannya diruagan luas ini. Kosong. Tidak ada apa – apa. Raena mengedikkan bahunya. Lalu kembali memasukkan barang – barangnya. Tidak menyadari kalau gelang kecil yang dipakainya terjatuh karena sempat tersangkut risleting tasnya.

Dimatikannya lampu, dan ditutupnya ruangan.

Begitu pintu tertutup, sesosok makhluk muncul dalam kegelapan. Diambilnya gelang tersebut.

“Hmmm,, wangi dan lezat sepertinya. Aku ingin segera merasakannya.”

Dan kemudian, dia menghilang tiba – tiba. Seperti dia muncul tadinya.

 

02.30

Susana Seoul University telah mulai lengang. Tinggal suara – suara hewan malam dan kelelawar – kelelawar penjelmaan drakula yang berkeliaran.

 

@@@@@@@@@@@

Keesokan harinya,

Seoul University, mulai heboh, karena di temukan beberapa mayat, dengan luka di leher dan tangannya. Dan darahnya habis.

Siapa lagi pelakunya jika bukan para drakula yang semalam berkeliaran. Akhirnya mereka mendapatkan korban pertamanya.

Lalu, siapakah para korban tersebut?????

 

 

Introducing end.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.